Ada selentingan bahwa George Soros, investor, miliarder, dan filantropis AS, yang berperan dalam gerakan reformasi 1998 menjatuhkan Orba, ikut berperan dalam demonstrasi besar pada Agustus tahun lalu. Kalau benar selentingan ini, sangat mungkin ia bekerja sama dengan Jokowi dan antek-anteknya.
Mungkin ini yang menjelaskan mengapa Prabowo menuduh para pengamat yang kritis sebagai kaki tangan asing. AS memang biasa merekayasa demonstrasi anti-rezim musuh AS di berbagai negara. Baru-baru ini Trump mengaku AS terlibat dalam demonstrasi besar di Iran pada Januari lalu.
Kalaupun benar ada tangan George Soros dalam demonstrasi Agustus, tidak berarti mahasiswa dan oposisi yang terlibat adalah orang-orang bayaran. Bukan tidak mungkin orang-orang Jokowi di pemerintahan memboncengi demonstrasi untuk melemahkan pemerintahan Prabowo.
Dalam konteks “keterlibatan” George Soros, upaya Prabowo mendekati Trump bisa difahami. Hal ini juga menjelaskan bahwa pemerintahan Prabowo cukup rapuh karena legitimasinya bergantung pada Jokowi. Keretakan hubungan Jokowi-Prabowo terlihat jelas ketika, dalam pertemuannya dengan Dubes Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di Solo, Jokowi menyatakan dirinya dan rakyat Indonesia mendukung Iran melawan agresi AS-Israel.
Sikap Jokowi bertentangan dengan Prabowo yang beberapa hari lalu, melalui Kejaksaan Agung, melelang tanker Iran yang ditangkap aparat Indonesia di Laut Natuna Utara pada 2023 karena memindahkan muatannya ke kapal lain (ship-to-ship) untuk menghindari sanksi AS atas Iran.
Pelelangan tanker Iran bersamaan dengan dilarangnya dua kapal Pertamina memasuki Selat Hormuz oleh Iran. Tidak seperti Malaysia yang memilih jalan diplomasi untuk mendapatkan izin memasuki Selat Hormuz, Prabowo memilih beli minyak dari Rusia untuk menghindari konflik dengan AS.
Penutup
Bagaimanapun, kebijakan Prabowo mendekati AS melalui kebijakan-kebijakan tersebut di atas, justru kontraprokduktif. Bisa jadi Trump akan menjaga kekuasaannya, tapi di dalam negeri legitimasi Prabowo makin merosot saat kebijakan populisnya yang boros dan hanya memperkaya loyalisnya makin memperkuat resistensi rakyat.
Yang lebih mengkhawatirkan, ketika utang kita menumpuk, defisit melebar, dan ruang fiskal sangat terbatas, kenaikan harga BBM dunia yang akan memukul ekonomi global, akan semakin dalam menggerogoti daya beli masyarakat. Dan Ketika Prabowo tak mendapat konsesi bermakna bagi kesejahteraan rakyat dari Trump, hubungan kita dengan Tiongkok menegang.
Sementara itu, mustahil Prabowo bisa membebaskan diri dari penyanderaan Jokowi. Jalan yang harus dipilih Prabowo adalah membersihkan orang-orang Jokowi di pemerintahan, keluar dari BoP, merundingkan ulang ART, membatalkan MDCP dengan AS, dan kembali ke prinsip Nonblok.
Sayangnya, Prabowo tak mampu melakukan ini. Ia tak mampu membebaskan diri dari Jokowi dan tak mampu pula keluar dari kerangkeng Trump karena, dalam pandangannya, hanya Trump yang bisa menyelamatkan kekuasaannya. Apakah asumsi ini benar? Wallahu’alam bissawab!
Tangsel, 16 April 2026


















