- Catatan untuk Rosita Alting
Oleh: M.Guntur Alting
Di tengah riuhnya jutaan manusia yang mengepung Ka’bah, di sela-sela debu yang beterbangan di padang Arafah, ada satu pemandangan yang selalu menarik perhatian saya.
sosok-sosok berseragam yang tetap tegak meski keringat mengucur deras. Mereka adalah petugas haji.
Itulah ingatan saya ketika haji pertama kalinya pada tahun 1998 silam.
Jika kita membayangkan ibadah haji sebagai sebuah “simfoni agung,” maka mereka adalah para pemain instrumen di balik layar yang memastikan setiap nada harmoni tetap terjaga, meski penonton hanya fokus pada sang konduktor.
-000-
Saya teringat pada satu kutipan menarik: “Melayani manusia adalah cara paling sunyi untuk mencintai Tuhan.”
Kalimat ini seolah menemukan ruhnya pada diri para petugas haji Indonesia.
Bayangkan tantangannya. Mengurus lebih dari 200.000 kepala dengan latar belakang budaya yang kontras—dari petani di pelosok Halmahera hingga pengusaha di gedung pencakar langit Jakarta—bukanlah perkara mudah.
Di sana, di bawah sengatan matahari yang bisa mencapai 45 derajat Celsius, birokrasi harus bertransformasi menjadi empati.
Petugas kesehatan bukan lagi sekadar penyuntik vitamin, tapi menjadi sandaran bagi lansia yang mulai kehilangan orientasi.
Pembimbing ibadah bukan lagi sekadar pembaca teks manasik, tapi menjadi penerang bagi jiwa-jiwa yang sedang mengalami “gegar spiritual”.
-000-
Dalam perspektif sosiologi yang sering dikaji, para petugas ini sedang mempraktikkan apa yang disebut sebagai “social capital” (modal sosial) yang luar biasa.
Mereka merajut kemajemukan Indonesia di tanah suci. Saat ada jamaah yang tersesat di labirin Mina, atau saat ada yang kehilangan paspor di tengah padatnya Masjidil Haram, petugas adalah wajah pertama negara yang hadir memberikan rasa aman.
Mereka adalah “kaki” bagi yang letih dan “hati” bagi yang rindu rumah.Namun, yang paling menyentuh adalah tentang dedikasi yang melampaui tugas administratif.
Menjadi petugas haji adalah sebuah “jihad kemanusiaan”. Mereka harus mampu mengelola emosi sendiri di saat raga sudah berada di titik nadir kelelahan, demi memastikan satu orang jamaah bisa berbisik pelan di depan Multazam dengan tenang.
Keberhasilan haji kita bukan hanya soal angka-angka statistik kepuasan jamaah yang dirilis kementerian.
Keberhasilan itu ada pada setiap “tetes keringat petugas” yang membantu mendorong kursi roda, pada kesabaran mereka mendengar keluh kesah jamaah, dan pada keikhlasan mereka memposisikan diri sebagai “pelayan” bagi para tamu Allah.
-000-
Pada akhirnya, para petugas haji ini sedang menuliskan sebuah “esai panjang” tentang kemanusiaan di atas pasir gurun.
Sebuah esai yang judulnya mungkin tak pernah masuk dalam berita utama, tapi jejaknya abadi di dalam ingatan setiap jamaah yang pulang dengan predikat mabrur.
Melayani haji, ternyata adalah tentang bagaimana kita memuliakan Tuhan melalui wajah-wajah manusia yang letih namun penuh harap.
Inilah catatan memori saya untuk para petugas haji, saat mengetahui Adinda Rosita akan menuju tanah suci besok (Jumat, 17 April 2026)
–000-
Akhirnya, esai ini ditutup dengan sebuah goresan personal mengiringi perjalananmu
“RUANG-RUANG IKHLAS DI KOTA SUCI“
Besok, ketika fajar menyentuh puncak langit Jakarta. Engkau akan melangkah dengan tas yang penuh doa.
Engkau bukan sedang mengejar pangkat atau gelar akademik, engkau sedang menuju Makkah, tempat di mana “egomu” harus mati, dan pengabdianmu harus hidup selamanya.
Engkau sosok yang dikenal di kampus sebagai pengajar, di organisasi dikenal sebagai nakhoda kaum perempuan/Muslimat.
Tapi besok, engkau melepaskan seluruh jubah kebesaran itu, untuk menjadi pelayan bagi mereka yang letih.
Tugasmu bukan hanya soal kunci kamar atau nomor lantai, akomodasi adalah tentang bagaimana menciptakan “rumah”
di tengah gersang gurun dan sesaknya jutaan jiwa.
Sebab engkau tahu, seorang petugas tak hanya mengobati raga, tapi juga menjaga agar batin jamaah tak terluka karena rasa asing.
Sebagai pemimpin Muslimat, engkau adalah ibu bagi ribuan doa, engkau akan memastikan AC yang dingin, air yang mengalir, dan tempat tidur yang layak bagi kakek-nenek yang merindu surga.
Di tanganmu, urusan akomodasi hotel adalah urusan memuliakan tamu Tuhan.
Mungkin namamu takkan terukir di pintu-pintu hotel Makkah dan Madinah
Engkau mungkin akan menjadi bayang-bayang yang sibuk di lorong-lorong gedung dan koridor-koridor hotel.
Namun tiap detik istirahat yang dirasakan jamaah yang lelah, adalah catatan amal yang mengalir deras ke haribaanmu.
Selamat jalan,
Bawalah keteduhan Maluku Utara ke jantung dunia.Sebab mengurus rumah hamba-Nya di bumi, adalah cara paling sunyi untuk mengetuk pintu rumah-Nya di langit.
Doa kami menyertai, semoga keberangkatan hingga kepulangan diberkahi Allah Swt dan menjadi Haji yang Mabrur.
Almarhum Ayahanda akan menatapmu di alam sana dan bangga akan khidmatmu untuk para tamu Allah.
Selamat beribadah
“Titip doa dari kami di depan Ka’bah dan Raudhah” (***)
Pejaten Barat, 15 April 2026
Pukul: 19.10
.


















