banner 728x250

MENGAPA KITA MEMILIH PERUT DAN MELUPAKAN KEPALA?

Oleh: M.Guntur Alting

Saya membaca artikel di Kompas itu dengan dahi berkerut.Judulnya tajam: “MBG dan Matinya Logika”.

Sebuah tulisan yang memotret realitas kita hari ini dengan angka yang telanjang.

Bayangkan, anggaran untuk memberi makan (Makan Bergizi Gratis) dialokasikan 44 kali lipat lebih besar dibandingkan anggaran untuk “berpikir” (riset dan pendidikan tinggi).

​Ini bukan sekadar soal angka di tabel APBN. Ini adalah soal Visi Peradaban.

​Saya ingin membedahnya dalam tiga catatan sederhana:

-000-

​1. Manusia Bukan Hanya Sekadar Metabolisme

​Dulu, para filsuf sering berdebat: mana yang lebih utama, roti atau kebebasan?

Di Indonesia tahun 2026 ini, perdebatannya bergeser: mana yang lebih utama, gizi fisik atau gizi intelektual?

​Tentu, kita setuju bahwa stunting adalah musuh nyata. Anak-anak kita harus sehat.

Tapi, jika kita hanya fokus pada “mengisi perut” dan membiarkan anggaran riset kerontang, kita sedang membangun sebuah bangsa “zombie”. Badannya tegak, fisiknya kuat, tapi kepalanya kosong dari inovasi.

Kita sedang mencetak generasi yang sehat untuk menjadi penonton di era kecerdasan buatan (AI), bukan menjadi pemainnya.

​2. Tragedi 44 Banding 1

​Angka 44 banding 1 adalah sebuah anomali logika. Dalam sejarah kemajuan bangsa-bangsa—seperti Korea Selatan atau Singapura—mereka tidak pernah meletakkan riset di pinggiran.

Mereka tahu bahwa satu penemuan di laboratorium bisa memberi makan jutaan orang selamanya melalui kedaulatan ekonomi.

​Jika kita menghabiskan triliunan hanya untuk belanja logistik makanan yang “habis sekali makan”, tanpa mengimbangi investasi pada ilmu pengetahuan, kita sedang melakukan spending, bukan investing.

Kita sedang menghabiskan masa depan untuk kenyang di hari ini.

​3. Logika yang “Mati” di Tengah Jalan

​Kritik dalam artikel tersebut sangat valid: ketika sebuah program masif tidak berbasis pada riset yang kuat, ia akan rapuh.

Kita mendengar berita tentang keracunan makanan di sana-sini.

Mengapa? Karena logikanya terbalik. Kita membangun raksasa distribusi sebelum membangun sistem pengawasan berbasis sains yang mumpuni.

​Tanpa “logika” (sains), kebijakan hanya akan menjadi proyek. Tanpa “kepala” (riset), niat baik hanya akan menjadi beban sejarah.

-000-

Epilog

​Saya selalu percaya bahwa sebuah bangsa dinilai bukan dari seberapa banyak ia bisa membagikan makanan cuma-cuma, tapi dari seberapa banyak ia mampu memproduksi pengetahuan.

​Jangan sampai sejarah mencatat bahwa di tahun 2026, kita memiliki generasi yang badannya paling berisi sepanjang sejarah, namun pikirannya paling tertinggal karena negaranya lupa bahwa manusia tidak hidup dari roti semata.

​Kita butuh perut yang kenyang, tapi kita jauh lebih butuh kepala yang terang. Karena hanya dengan kepala yang terang, sebuah bangsa bisa berdiri tegak di hadapan dunia.

Ciputat, 15​ April 2026
Pukul: 09.10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *