Kebijakan lain Prabowo yang memperlihatkan upayanya menjadi sekutu AS-Israel adalah sikap memasang jarak dengan Iran. Agresi AS-Israel terhadap negara ini didiamkan pemerintahan kita. Prabowo butuh lima hari untuk mengucapkan belasungkawa terhadap pembunuhan terhadap pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei. Insiden ini merupakan pelanggaran hukum internasional.
Isu yang juga kontroversial adalah ART RI-AS. Kesepakatan ini menghapus hampir seluruh tarif bagi barang impor dari AS sebagai imbalan AS menerapkan tarif 19 persen bagi barang ekspor Indonesia ke AS. ART RI-AS dipandang menggadaikan kedaulatan ekonomi dan politik RI.
Apalagi, dalam membuat kebijakan ekonomi yang bersenggolan dengan kepentingan AS, RI harus mendapat izin AS. Tujuan utamanya adalah membatasi kerja sama ekonomi RI dengan negara musuh AS, terutama Tiongkok dan Iran.
Membebaskan diri dari Jokowi
Kebijakan pro-AS dan Israel Prabowo tak bisa dilepaskan dari upayanya mempertahankan kekuasaan dan membebaskan diri dari jeratan Jokowi. Tak bisa tidak, belasan menteri dan kepala lembaga di pemerintanhan Prabowo saat ini merupakan titipan Jokowi. Dengan kata lain, Jokowi memciptakan deep state atau kabinet dan kembaga strategis negara dikendalikan Jokowi.
Hal ini membuat pemerintahan Prabowo tidak efektif dan efisien. Kendati bermasalah dan terus dikritik, Prabowo mempertahankan program populis MBG, Koperasi Merah Putih, dan Perumahan Rakyat, hany untuk memperlihatkan ia berbeda dengan Jokowi, sekaligus menarik dukungan rakyat.
Sudah sejak remaja Prabowo Subianto, seorang nasionalis impulsif dari keluarga terpelajar, bercita-cita menjadi presiden RI. Obsesi ini mengakar kuat dalam hati dan pikirannya. Tak heran, kendati menyelesaikan pendidikan menengah di Inggris dan lulus tes di perguruan tinggi di AS, ia memilih masuk AKABRI.
Dalam konteks politik nasional saat itu di mana militer telah mengambil alih kekuasaan dan Prof Soemitro Djojohadikusumo (ayah Prabowo) menjadi salah satu arsitek ekonomi Orde Baru, jalur militer memang menjanjikan karier ke posisi puncak kekuasaan. Apalagi kemudian Prabowo menikahi putri Presiden Soeharto, pendiri Orba.
Tekad Prabowo menjadi presiden tak pupus dimakan waktu. Setelah empat kali ikut pilpres – sekali sebagai cawapres (2009) dan tiga kali sebagai capres (2014, 2019, 2024) – Prabowo berhasil menjadi orang nomor satu di negeri ini. Sayang, kemenangannya berlumuran kecurangan kualitatif yang diduga melibatkan Presiden Jokowi dan Parcok.
Situasi dan kondisi ini membuat ia tidak bisa menjadi presiden sepenuhnya. Karena harus berbagi kuasa dengan pendahulunya melalui loyalisnya yang dipaksakan Jokowi untuk direkrut Prabowo dalam belasan kursi kabinet dan lembaga strategis negara. Karena itu, dukungan Trump menjadi penting untuk melawan kekuatan internal.


















