Sekitar 9 peristiwa ‘brutal’ yang tak pernah dapat diselesaikan itu adalah amarah yang terpendam-tersimpan; terus terjaga dan terawat dengan air mata juga tatapan marah membara yang suatu waktu akan meledak. Sebagai permisalnnya hari itu. Di Jumat yang penuh berkah oleh kalangan Muslim sebagai sayyidul ayyam (penghulu segala hari) dan bertepatan dengan prosesi Jumat Agung oleh ummat Nasrani berubah jadi awan hitam penuh dengan duka air mata dan darah.
Dapatkah seseorang dan atau sebuah komunitas mampu bertahan, diam saja menerima kenyataan dan tak melawan ketika di dera bertubi tubi duka nestapa penderitaan dan atau kasus pembunuhan yang dialamatkan kepada komunitasnya datang silih berganti?. Adalah sunnatullah jika ada reaksi atas aksi aksi aksi itu, reaksi untuk menolak dipermainkan, reaksi menolak menerima jawaban pasrah-malas bahwa pelakunya adalah OTK, reaksi untuk menolak segala nasehat himbauan basa basi, reaksi untuk menentukan dan atau memastikan keamanan komunitas terjaga dan dijaga dengan baik, meski kita juga maklumi bahwa jalan hukum atas semua reaksi psikologis itu bisa saja berdampak menyakitkan bagi para pelaku, tetapi itulah solidaritas ia tumbuh bagai satu tubuh yang jika satu bagian terluka maka bagian bagian tubuh lain akan juga merasakan sakit yang sepadan.
Darah dan air mata jumat kemarin adalah pesan tegas kepada semua pihak untuk segera berbenah, ketika menghadapi peristiwa serupa yang memakan korban jiwa, apalagi ditengah dinamika sosial kemasyarakatan yang terus berubah cepat dibawah gempuran-invasi industri ekstraktif.
Ujian Pertumbuhan ekonomi tinggi
Adakah motif ekonomi dibalik dan atau memboncengi peristiwa peristiwa musibah (pembunuhan) ini. Beberapa diskusi kecil menyebut bahwa Hutan Patani yang merupakan rimbanya pohon pala itu sering menjadi area perselisihan termasuk pengusaan tanah, tetapi ini juga harus dikaji lebih mendalam dan komprehensif. Dalam skala luas motif ekonomi (oligarki), beredar bahwa beberapa daerah di Patani sekarang dikapling berbagai izin tambang maupun sawit. Sebab itulah beberapa kali reaksi reaksi sporadis kalangan pemuda mahasiswa menenteng spanduk megaphone menolak Rimba Pala Patani harus tumbang di tackle oleh tambang dan sawit. Jika motif ekonomi (oligarki) terlibat maka sangat sederhana-gamblang secara teoritis maupun faktual untuk kita dapat secara cepat dan tepat menunjuk hidung pihak pihak yang berdiri menjadi aktor maupun sutradara atas peristiwa itu, tetapi sekali lagi butuh telaahan mendalam.
Ayo Sekolah
Perselisihan biasa, mudah sekali disulut dan berubah menjadi pertikaian-peristiwa brutal, jika itu terjadi dalam situasi belum kuat dan mapannya tingkat pendidikan. Pendidikan yang rendah mempengaruhi tabeat dan atau kepribadian dan pola pikir. Buruk sangka, tertutup dengan hal hal baru meski lebih positif, mengedepankan rasa curiga, gampang terhasut, sangat reaktif-provokatif terhadap sebuah masalah. Dengan situasi begitu, gampang di mobilisir untuk kepentingan personal dan atau komunitas yang semu, apalagi untuk tunggangan kepentingan politik praktis. Saat ini terlihat pemerintah Halmahera Tengah gencar-genjot tumbuh kembang-mekar akal, sehat salah satunya adalah kerjasama dengan Perguruan Tinggi untuk kuliah gratis bagi mahasiswa yang berasal dari Halmahera Tengah.











