banner 728x250

LANGIT-LANGIT MUHARRAM

  • Hijrah: Jalan Sunyi Menuju Kemanusian

Oleh: M.Guntur Alting

ADA yang berubah setiap kali kalender bulan membalik halamannya, tapi sering kali kita tak menyadarinya.

Muharram datang bukan dengan bunyi trompet atau letupan kembang api yang membelah malam.

Ia datang dengan tenang, hampir seperti desah napas di antara “debu gurun” yang lampau—sebuah pengingat bahwa waktu, pada hakikatnya, adalah sebuah perjalanan yang sunyi.

​Kita bicara tentang Hijrah. Di sekolah-sekolah, kita diajarkan bahwa ini adalah kisah tentang pelarian. Tentang sekelompok orang yang tersisih karena mempertahankan keyakinan.

Tapi, jika kita duduk sejenak dan menyingkap tirai sejarah itu lebih dalam, Hijrah bukanlah sebuah kekalahan.

Ia adalah sebuah “hijrah mental”—sebuah keputusan radikal untuk keluar dari kepompong ego yang sempit menuju cakrawala kemanusiaan yang lebih luas.

​Lihatlah Indonesia hari ini. Kita adalah sebuah negeri yang sedang gaduh. Di ruang-ruang digital yang bising, kita sibuk membangun tembok-tembok identitas.

Kita merasa aman di dalam “benteng” kita sendiri, sambil menunjuk yang lain sebagai “liyan” yang patut dicurigai. Kita terjebak dalam prasangka, dan dalam ketakutan yang berlebihan, kita kehilangan kemampuan untuk mendengar suara yang berbeda.

​Bukankah ini ironis? Kita merayakan tahun baru dengan semangat beragama, namun kita kehilangan esensi dari agama itu sendiri: kasih sayang yang tak berbatas.

​Hijrah mental, dalam bahasa yang paling sederhana, adalah keberanian untuk menanggalkan jubah kemarahan. Ia adalah kemauan untuk pindah dari “Mekkah” prasangka menuju “Madinah” yang terbuka.

Di Madinah, Nabi tidak membangun pagar. Beliau membangun sebuah “polity”—sebuah peradaban di mana keberagaman bukanlah sesuatu yang harus diseragamkan, melainkan dirawat sebagai warna-warni kehidupan.

​Indonesia hari ini membutuhkan “hijrah mental” semacam itu. Kita butuh berhijrah dari cara berpikir yang hitam-putih.

Kita perlu belajar bahwa kebenaran bukan milik satu kelompok yang paling lantang berteriak di media sosial.

Kebenaran adalah sebuah pencarian yang melelahkan, yang menuntut kesabaran, kejujuran, dan terutama, kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita pun bisa salah.

​Sebagai seorang pengajar, saya sering merenung di depan kelas: apakah kita telah mengajarkan mahasiswa kita untuk berhijrah?

Atau kita hanya memberi mereka beban hafalan yang membuat mereka takut untuk berpikir kritis?

Pendidikan yang benar mestinya adalah proses hijrah yang terus-menerus—berpindah dari kegelapan ketidaktahuan menuju cahaya akal budi.

​Muharram memanggil kita untuk menepi. Di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu terburu-buru, mungkin saatnya kita berhenti.

Menatap cermin, dan bertanya: apa yang harus saya tinggalkan dari diri saya yang lama?

Apakah ego yang angkuh? Apakah kebencian yang menahun? Ataukah kesibukan mencari pengakuan yang membuat jiwa kita kering?

​Hijrah adalah tentang melepaskan. Melepaskan beban yang tidak perlu agar langkah kita menjadi ringan saat menapak masa depan.

Ia bukan tentang meninggalkan rumah fisik, melainkan tentang membangun rumah di dalam hati—sebuah ruang di mana setiap orang, terlepas dari apa pun keyakinan dan latar belakangnya, merasa diterima sebagai manusia.

​Dan di sinilah kita kembali pada hakikatnya: Hijrah adalah sebuah jalan sunyi menuju pembebasan. Ia tidak membutuhkan keriuhan.

Ia hanya membutuhkan kejujuran, keberanian untuk mengakui kekurangan, dan kemauan untuk melangkah kembali, dengan kepala yang lebih tunduk namun hati yang jauh lebih lapang.

​Sebab, pada akhirnya, tahun baru bukan tentang pergantian angka di kalender. Ia adalah tentang kesanggupan kita untuk menjadi lebih manusiawi, hari demi hari.

Demikian, sedikit catatan yang menjadi “oase” di langit-Langit Muharram ini.(***)

​Pejaten, 16 Juni 2026
​Pukuk : 04.20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *