banner 728x250

Euforia Piala Dunia, Momentum Emas Pencitraan Politik

Oleh:ArRus

Piala Dunia selalu berhasil menyatukan perhatian masyarakat. Sorak-sorai memenuhi warung kopi, layar televisi menjadi pusat perhatian, dan media sosial dipenuhi perbincangan tentang gol, taktik, dan siapa yang layak menjadi juara. Di tengah gemuruh itu, ada panggung lain yang perlahan ikut dipentaskan: panggung pencitraan politik.

Sebagian politisi ikut hadir dalam euforia tersebut. Unggahan bertema sepak bola, nonton bareng, hingga berbagai aktivitas yang dikemas seolah begitu dekat dengan rakyat menjadi pemandangan yang akrab. Tidak ada yang keliru dengan menikmati sepak bola. Namun, publik tentu berhak bertanya, apakah kehadiran itu lahir dari kecintaan pada olahraga, atau karena besarnya sorotan yang sedang mengarah ke panggung Piala Dunia?

Sepak bola mengajarkan bahwa kemenangan diraih lewat kerja keras selama 90 menit, bukan sekadar selebrasi di depan kamera. Politik pun seharusnya demikian. Kepercayaan rakyat lahir dari kerja nyata, bukan dari momentum yang kebetulan ramai.

Ketika peluit panjang dibunyikan, euforia akan berlalu. Namun rakyat akan tetap mengingat siapa yang bekerja dalam diam, dan siapa yang hanya datang ketika lampu sorotan menyala. Karena pada akhirnya, pencitraan memiliki batas waktu, sedangkan pengabdian akan selalu dikenang.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *