banner 728x250

Puzzle Perdamaian Di Rimba Pala Patani

Oleh : Abdurrahim Saraha #Tanah Merdeka Institut

Banemo – Sibenpopo ataukah Sibenpopo – Banemo. Dari mana bergerak. Jika dari Weda dengan arahan sahabat Arman Alting yang kini Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Halmahera Tengah menuju Patani maka letaknya adalah Sibenpopo-Banemo.

Sebaliknya kalau dari Patani yang ditemani Lukman Esa (LUKS) laki laki akal sehat ketua komisi 3 DPRD Halmahera Tengah menuju Weda maka posisinya adalah Banemo-Sibenpopo. Tetapi Bilifitu nampaknya terus terngiang jika mengingat Patani. Puluhan tahun silam bertemu, bercengkrama, bahkan beberapa keluarga Patani khususnya Bilifitu pernah datang dan bersama disini, di Dowora, Tidore. Itu sudah lama, lain waktu saya runut jejaknya kenapa Bilifitu itu pantas dikenang.

Satu hal yang bikin perjalanan perjalanan itu belum tergambar detail nuansa keindahan alam, kampung kampung yang dilewati, laut maupun perbukitan sampai makanan termasuk ‘gatang kanari’ adalah karena saya belum pernah lakukan perjalanan itu: dari Weda menuju Patani ataupun Patani ke Weda, lain kali kita jelajahi rutenya untuk ‘Baronda Halteng.

Dahulu, kita mengenal Chaidir Djafar, tokoh hebat dari Banemo, terkenal di Papua lantas menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Daerah Pemilihan (Dapil) Maluku Utara. Hari ini kita sebut lagi satu nama yang kalau diatas podium dia adalah singa yang mengaum-menggetarkan hati, dialah Ahlan Djumadil.

Ahlan Djumadil (Adil) itu orang yang telah lama makan asam garam dunia aktivis sehingga saat didaulat mendampingi Ikram Malan Sangaji (IMS) dengan singkatan IMS Adil, duet ini lalui berbagai badai gelombang politik pemilihan kepala daerah dan terpilih memimpin Halmahera Tengah periode 2025-2030.

Peristiwa berulang yang tak tuntas
2 April 2026 seorang warga Banemo meninggal (dengan tubuh tersayat). Kematian warga Banemo ini menambah panjang peristiwa serupa (meninggalnya warga saat pergi ke lahan pertaniaannya). Di Halmahera Tengah dan Halmahera Timur Sejak tahun 2004 sampai kini, sekitar 10 kasus pembunuhan serupa terjadi, hanya satu di Halmahera Timur yang berhasil di tuntaskan oleh aparat Kepolisian Resort Halmahera Timur yang pelakunya dijebloskan 14 tahun penjara. Selain itu 9 kasus selalu berakhir tidak ada hasil. Aparat keamanan menyebut para pelaku itu sebagai OTK alias Orang Tak di Kenal. Ini peristiwa yang terulang berulang kali dan seperti itulah hasil akhirnya, pelakunya tak tersentuh tak ditemukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *