Oleh: Muslim Arbi
Direktur Gerakan Perubahan dan Koordinator Indonesia Bersatu
Dolar. Ya mata uang dolar. Mata uanga paman sam itu saat ini seolah makin menjadi momok yang menakutkan.
Emang benar juga sih. Saat tahun 1998. Indonesia di bawah kepemimpian Presidenan Soeharto dan ekonomi tinggal landas dengan sejumal prestasi mulai dari Swasembada Pangan hingga dapat memproduksi Pesawat Sendiri CN235. Dan posisi Dolar waktu Rp 2800 per Dolar. Tak ada angin. Tak ada hujan tiba – tiba terjun bebas sampai mencapai angka Rp 17.000 per dolar.
Saat itu menjadi malapetaka Politik. Saat Rupiah terjun bebas. Akibat nya terjadi kekacauan ekonomi, politik dan keamanan sehingga jatuh pemerintah Soeharto saat itu.
Dengan kejadian itu saat ini nampak nya ada desain yang mau mencoba bermain dengan menggunakan dolar sebagai senjata ekonomi, politik dan keresahan sosial untuk berusaha menumbangkan rezim saat ini.
Prabowo baru menjabat belum mencapai 2 tahun pemerintahan. Banyak gebrakan yang dirasakan untuk berpihak pada kepentingan Rakyat.
Membereskan carut marut 10 tahun pemerintahan Jokowi yang banyak di kendalikan pemilik modal dan Oligarki ekonomi dan Politik. Prabowo menebas dan menerabas banyak kejahatan yang terpendam di saat Jokowi berkuasa. Nampak nya ini memang tidak mudah.
Saat ini kekuatan pemilik modal itu masih saja menggunakan senjata dolar sebagai alat tekan terhadap kebijakn rezim saat ini.
Pemberlakuan pasal 33 UUD agar ekspor satu pintu agar kebocoran puluhan ribu triliun yang selama ini akibat carut marut tata kelola Ekspor dapat masuk ke negara di kritik sejumlah pihak.
Padahal jika devisa hasil ekspor itu masuk ke kas negara. Niscaya negara tidak perlu bayar hutang dengan hutang baru dan puluhan ribu triliun itu jika masuk ke negara niscaya dolar pun akan segera turun.
Hal ini penting untuk memantau lalu lintas devisa dari para ekportir selama ini. Sehingga negara dapat mengontrol dengan tepat jika dana hasil ekspor dalam bentuk dolar tidak masuk ke kas negara.
Selain itu pergerakan dolar yang semakin menguat dan melemahkan posisi rupiah semata karena fakto ekonomi atau faktor lain?
Mengapa di saat Soeharto memimpin. Pertumbuhan ekonomi tinggi dan rupiah kuat sampai pada kurs Rp 2800 per dolar dan kemudian terjun bebas ke angka Rp 17.000 per dolar. Apakah itu semata karena tekanan ekonomi atau ada tekanan politik dengan dolar sebagai senjata?
Faktor – faktor pelemahan rupiah yang begini cepat dan di sertai dengan isu – isu yang sengaja di produksi bulan Juni – Juli bahkan agustus akan ada kerusuhan? Tidakkah ini sebagai desain situasi untuk menimbulkan kegaduhan dan kekacauan negara dengan dolar sebagai senjata pemicu nya?
Solusi saat ini adalah segera mengganti Gubernur Bank Indonesia. Memperkuat fundamental ekonomi, mengontrol lalu lintas devisa dari hasil Eskpor satu pintu, penegakkan hukum yang tegas, bila perlu trik Presidean Habibie menekan dolar dari Rp 17.000 menjadi Rp Rp 6.800 patut di terapkan kembali.
Terlepas dari itu semua. Mengapa harus mengelandalkan dolar. Kita bukan negara bagian paman sam. Kita negara berdaulat. Bagaimana bikin rupiah terus berdaulat dan kuat. Kedaukatan negara tegak termasuk dalam mata uang rupiah.
Jakarta: 5 Juni 2026.











