Oleh: M. Guntur Alting
ADA yang menarik dari riuh rendah kritik Amien Rais baru-baru ini. Ia meminta Presiden Prabowo untuk kembali “berdamai” dengan teks pidato.
“Jangan lagi terkesan amatiran,” katanya.
Sekilas, ini terdengar seperti nasihat protokoler yang kering. Namun, jika kita duduk tenang dan menyeruput kopi, kita akan menyadari bahwa Amien sebenarnya sedang bicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:
“tentang bagaimana sebuah negara seharusnya dikendalikan.”
Dunia kita hari ini memang “bising.” Media sosial tidak pernah tidur, dan setiap kata yang meluncur dari mulut seorang pemimpin akan langsung dibedah, dipotong, lalu diviralkan dalam hitungan detik.
Dulu, mungkin seorang pemimpin bisa bicara apa saja dengan gaya meledak-ledak.
Ada pesona di sana—ada bau keringat, ada ketulusan, ada darah yang mendidih.Kita menyebutnya “autentisitas.”
Itu gaya khas Prabowo yang memang sudah kita kenal bertahun-tahun. Ia bicara dengan hati, bukan dengan kertas.
Tapi, hari ini zamannya sudah berubah. Presiden tidak lagi sedang berkampanye di lapangan terbuka.
Ia sedang berada di ruang “kemudi” sebuah “kapal besar” yang sedang dihantam badai global.
Di sinilah letak argumen Amien Rais yang layak kita renungkan. Seorang Presiden adalah “simbol.”
Ucapannya bukan sekadar “opini pribadi,” melainkan kebijakan yang akan diterjemahkan oleh menteri, dipantau oleh pasar saham, dan dinilai oleh komunitas internasional.
Jika ia bicara tanpa naskah yang matang, ia seperti nakhoda yang mengarahkan kapal berdasarkan “firasat,” bukan peta.
Menggunakan teks pidato bukanlah tanda bahwa seorang pemimpin kehilangan nyali atau otentisitasnya.
Sebaliknya, itu adalah bentuk kerendahan hati. Itu adalah cara seorang pemimpin berkata kepada rakyatnya:
“Saya tidak bekerja sendiri. Saya mendengarkan para ahli, saya memverifikasi data, dan saya sangat berhati-hati dengan nasib kalian.”
Kita mungkin akan melihat ini sebagai pergeseran dari “politik gairah” ke “politik rasionalitas”.
Kita sudah kenyang dengan politik yang hanya mengandalkan retorika. Kita butuh politik yang tenang, terukur, dan presisi.
Mungkin, gaya bicara “apa adanya” memang punya magnet. Tapi, bagi sebuah negara, wibawa itu tidak lahir dari gaya yang meledak-ledak.
Wibawa itu lahir dari “ketepatan.” Seseorang yang berbicara dengan tenang, sedikit tapi pasti, seringkali jauh lebih “menakutkan”—atau lebih tepatnya, lebih disegani—daripada mereka yang bicara panjang lebar tapi “kehilangan arah.”
Pada akhirnya, ini bukan soal apakah Prabowo harus membawa kertas atau tidak.
Ini adalah soal kematangan. Bahwa menjadi pemimpin di zaman yang serba cepat ini menuntut kita untuk sedikit lebih melambat, membaca kembali naskah, dan memastikan bahwa setiap kata yang “jatuh ke bumi” adalah kata yang memang harus jatuh untuk membangun, bukan untuk meruntuhkan.
Politik, bagi kita, adalah soal “manajemen harapan.” Dan harapan rakyat hanya bisa dirawat jika pemimpinnya tahu persis apa yang ia katakan, dan mengapa ia mengatakannya.
Pejaten Barat, 25 Mei 2026
Pukul: 03.35











