banner 728x250

MESSI DAN SISA KEABADIAN

  • Ketika Sang Maestro Bernegosiasi
    dengan Waktu

Oleh: M.Guntur Alting

“Secara biologis, usia memberikan batasan.Namun, dalam sepakbola, ada wilayah yang tak bisa dijelaskan oleh angka, yakni : intuisi, pengalaman, dan aura…” (Michael Platini)

ADA yang lelah dalam diri seorang atlet, tapi tidak pada Messi.​ Ia berdiri di Piala Dunia 2026 ini, seperti seorang “penyair” yang merasa bait terakhir puisinya belum cukup merangkum segalanya.

Gambar itu—Messi yang dibalut jubah, memegang trofi—mungkin hanya sebuah “ilustrasi digital.” Namun, ia menyentuh sesuatu yang lebih purba: hasrat manusia untuk terus melampaui dirinya sendiri.

Kita sering bicara tentang “GOAT”—akronim yang dipaksakan untuk meringkas kehebatan. Tapi Messi, mungkin, sudah melampaui kategori itu.

Ia bukan lagi tentang statistik. Ia bukan lagi tentang berapa kali bola bersarang di jaring. Ia adalah tentang “kehadiran”.

​Dalam sepak bola, waktu adalah musuh yang kejam. Ia menggerogoti kecepatan, ia memudarkan ketajaman. Kita telah melihat banyak maestro yang layu ketika usia tak lagi berpihak.

Namun, di Amerika Utara tahun ini, kita melihat sesuatu yang ganjil. Messi mungkin bermain dengan cara yang tak lagi mengandalkan otot.

Ia bergerak dengan ingatan. Ia tahu ke mana bola akan bergulir bukan karena ia cepat, tapi karena ia telah membaca arah sejarah lebih dulu.

​Ada semacam kesetiaan yang haru di sini. Kesetiaan pada permainan yang, bagi sebagian orang, mungkin sudah memberikan segalanya.

–000–

​Mungkin ada yang bertanya: untuk apa lagi? Qatar sudah usai. Sejarah sudah ditulis dengan “tinta emas” di tanah Arab.

Namun, hidup bukanlah sebuah buku yang ditutup setelah “bab klimaks.” Hidup adalah proses yang terus berdenyut, sebuah repetisi yang selalu membawa kejutan baru.

Messi tampak mengerti bahwa di puncak tertinggi pun, masih ada ruang untuk sebuah “keajaiban kecil”. Sebuah operan yang tak terduga, sebuah lengkungan bola yang menentang gravitasi.

Atau sekadar cara ia berdiri di lapangan—tenang, nyaris sunyi, di tengah hiruk-pikuk yang memekakkan telinga.

​Ia mengingatkan kita pada ketekunan seorang “pelukis’ yang terus memulas kanvasnya, meski dunia sudah menganggap lukisan itu selesai.

Ia tidak sedang mengejar trofi untuk lemari yang sudah penuh. Ia sedang mengejar sesuatu yang tak tampak: rasa penasaran seorang anak kecil yang tak ingin permainan berakhir.

​Di sini, kita tidak lagi melihat seorang pemain yang berjuang melawan musuh. Kita melihat seseorang yang sedang bernegosiasi dengan waktu.

Ia ingin membuktikan bahwa “yang terbaik” bukan sekadar gelar yang disematkan, melainkan sebuah kondisi jiwa.

Bahwa kebesaran bukanlah tempat yang dituju, melainkan cara seseorang tetap ada—tetap bermain, tetap hidup—meskipun tahu bahwa matahari pasti akan terbenam.

​Mungkin kita mencintai Messi bukan karena ia terus menang. Kita mencintainya karena ia adalah pengingat bahwa keindahan—sekecil apa pun bentuknya—adalah sesuatu yang perlu dirawat, bahkan ketika senja mulai turun.

Di kakinya, sepak bola bukan lagi soal menang atau kalah. Ia adalah “meditasi.” Dan kita, para penonton di kursi-kursi yang jauh, hanya bisa terdiam.

–000–

Menyaksikan seseorang yang sedang menolak untuk “jadi tua,” menolak untuk jadi sekadar catatan kaki dalam buku sejarah.

​Ia masih di sana. Berlari kecil, mencari celah, dan mungkin, sekali lagi, menunjukkan kepada kita bahwa keajaiban tidak selalu datang dari kekuatan, melainkan dari ketenangan yang tetap terjaga di tengah badai.

​Dunia akan terus berputar, dan Piala Dunia 2026 akan menemukan juaranya.

Namun bagi banyak orang, hasil akhirnya mungkin tak lagi sepenting keberanian seorang “lelaki kecil” untuk terus melangkah di atas rumput hijau, merayakan permainan. Sekali lagi, sebelum semuanya benar-benar sunyi.

​Apakah kita sebenarnya sedang “mencintai” Messi, atau kita sedang mencintai masa muda kita sendiri yang perlahan “memudar” bersamanya? (***)

Sabtu, 13 Juni 2026
Pukul: 05.43

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *