banner 728x250

TRUMP VS PAUS: SAAT EGO BERADU DENGAN DOA

Oleh: M.Guntur Alting

Saya baru saja membaca tulisan Denny JA. Soal debat panas. Antara Presiden Donald Trump dan Paus Leo XIV.

Luar biasa.

​Dua kutub bertemu. Satu pegang nuklir. Satu pegang tasbih. Satu bicara keamanan nasional. Satu bicara nurani global.

​Gaya tulisan Denny kali ini sangat kontras. Ada lilin di Roma. Ada layar ponsel di Washington. Ada suara lirih imam tua. Ada teriakan kasar di “Truth Social.”

​Trump tetap Trump. Dia keras. Dia merasa sebagai pelindung peradaban. Baginya, menghancurkan ancaman nuklir Iran adalah mandat suci. Mandat dari rakyat.

Bahkan dia merasa lebih tahu soal keamanan dibanding siapa pun. Termasuk Paus.

–000-

​Lalu ada Paus Leo XIV. Dia tidak punya tentara. Tidak punya bom. Tapi dia punya satu hal: otoritas moral.

Dia bilang Tuhan tidak dengar doa dari tangan yang berlumur darah.

Jleb.

​Denny menarik sejarah ke sini. Dia sebut Paus Gregorius VII. Yang bikin Kaisar Henry IV harus berdiri di tengah salju tanpa mahkota. Itu dulu. Abad ke-11.

Sekarang beda

​Trump tidak mau berdiri di salju. Dia malah membalas. Dia bilang Paus “lemah”. Dia bilang Paus “liberal”.

Dia bahkan bilang kalau bukan karena dia di Gedung Putih, Leo tidak akan ada di Vatikan.

Berani sekali.

​Dulu, penguasa takut dikutuk Paus. Sekarang, penguasa merasa dirinya sendiri adalah simbol religius.

Trump bahkan mem-posting gambar dirinya mirip Yesus.Ini menarik. Ini bukan lagi soal agama versus politik. Ini soal perebutan hak.

Hak untuk menentukan: siapa yang paling benar? ​Denny mengutip Huntington. Soal benturan peradaban.

Tapi saya melihat ini lebih dari itu. Ini benturan ego. Ego kekuasaan versus idealisme kemanusiaan.

​Saya setuju dengan satu poin di tulisan itu. Dunia memang butuh keamanan.

Tapi dunia juga butuh makna.

​Kalau kita hanya punya keamanan tapi tidak punya nurani, kita jadi robot. Kalau kita hanya punya nurani tapi tidak aman, kita habis.

​Masalahnya, Trump dan Paus bicara dengan bahasa yang berbeda.

Yang satu pakai bahasa “zaman batu”. Yang satu pakai bahasa “Injil”. Tidak akan ketemu.

​Denny menutupnya dengan bagus. Peradaban tidak runtuh karena kurang kuat. Peradaban runtuh karena kekuatan tidak tahu batas.

-000-

​Saya merenung.​ Memang, pemimpin itu harus tegas. Harus melindungi rakyatnya.

Tapi kalau ketegasan itu kehilangan detak jantung kemanusiaan, apa bedanya kita dengan mesin penghancur?

​Dunia sedang diuji.​Kita sedang menonton sejarah ditulis dengan tinta yang panas.

Antara orang paling berkuasa di bumi dan orang paling dihormati secara rohani.

​Siapa yang menang?
​Biasanya, dalam jangka pendek, yang pegang senjata menang.

Tapi dalam sejarah panjang, yang pegang kebenaran yang bertahan.

Begitulah.

​Dunia memang sedang kehilangan arah. Tapi setidaknya, debat ini mengingatkan kita satu hal: kekuasaan tanpa moralitas adalah kegilaan.

​Dan kegilaan, di dekat tombol nuklir, adalah mimpi buruk kita semua.(***)

Pejaten, 17 April 2026
Pukul : 16.00

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *