Oleh: Ismail Ibrahim, M. Sos / Alumni S-2 Universitas Jenderal Soedirman
Kota Tidore Kepulauan memiliki ke unikan tersendiri secara historis sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dunia yang merupakan simbol kekayaan alam.
Sejak abad ke 15, Kepulauan Tidore menjadi pusat utama komoditas bernilai tinggi seperti cengkih, palah, yang menarik perhatian pedagang dari belahan dunia di bumi nusantara.
Namun kejayaan itu, hilang seiring berjalannya waktu. Nilai komoditas rempah-rempah tidak menjadi penopang ekonomi masyarakt melainkan menjadi kontribusi kenangan sejarah di masa lalu.
Jika dilihat dari sisi sosiologi ekonomi rempah-rempah dari Tidore sebagai simbol kekuasan, kemakmuran, dan daya tarik geopolitik yang menjadi pusat perebutan.
Karena perkembangan ekonomi kini bergeser kepada kepentingan politik melalui kekuasaan pemerintah, yang belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat lokal.
Oleh sebab itu, pemerintah seharusnya menjadi rol model di ujung tombak sejarah untuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi di Kota Tidore Kepulan, melalui kebijakan yang berkembang secara masif.
Sebab alam menyediakan banyak sumber kekayaan, namun belum dapat dikelola secara optimal oleh pemerintah, meskipun Tidore telah tercatat sebagai pusat pertumbuhan rempah-rempah di mata dunia.
Jalur rempah ini tidak hanya membentuk struktur ekonomi global, tetapi juga melahirkan dinamika sosial politik serta membentuk monopoli kekuasaan, relasi, dan pola interaksi masyarakat, baik lokal maupun global.
Oleh karena itu, pola perdangan global dan modernisasi yang telah membuka luas jalur pedagangan melalui teknologi selain itu jalur laut maupun darat sebagai simbol pasar global, meskipun potensi sumber daya alam di miliki cukup besar jika tidak dimanfaatkan dengan baik.
Tentunya pola perdangan kini menyerupai wajah baru dalam konteks sosiologi kontemperor perubahan cara produksi, distribusi dikuasai melalui teknologi, globalisasi, aktivitas perdagangan beralih ke platrom digital.
Selian itu warisan sejarah dan budaya juga belum mengoptimalkan secara sepenuhnya guna mendorong pertumbuhan ekonomi dearah setempat terutama masyarakat Kota Tidore.
Dalam konteks sosiologi kondisi tersebut diibaratkan formalitas tanpa substansi dimana pertumbuhan ekonomi berjalan selayaknya sebuah seremoni meskipun terlihat resmi, terorganisir dan terstruktur.
***
Revitalisasi adalah menghidupkan kembali jalur rempah menjadi jantung utama untuk menambah nilai ekonomi, sosial, dan budaya yang terkandung di dalamnya.
Revitalisai tidak hanya fokus pada satu aspek tetapi mencakup peningkatan distribusi komoditas rempah, dan pengembangan sektor parawitasa berbasis sejarah, pelestarian kearifan lokal, pemberdayaan masyarakat.
Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif pemerintah, dan masyarakat untuk mengotimalkan potensi yang ada guna mewujudkan ekomi yang inkflusif berkelanjutan.
***
Dalam perspektif sosiologi. Kota Tidore Kepulauan memiliki nilai historis dalam jaringan perdagangan sebagai pusat produksi, distribusi kekayan alam dan membentuk struktur sosial, budaya dan identitas masyarakatnya.
Namun terjadinya pergeseran akibat lemahnya peran sektor dalam menopang ekonomi masyarakat lokal.
Hal inilah yang menjadi titik kelemahan dan perhatian dalam peningkatan ekonomi sebagai proses transformasi sosial demi memperbaikan nilai ekonomi, institusi dan pola relasi antar masyarakat.
Revitalisasi jalur rempah mendukung pembangunan berkelanjutan dengan memberdayakan masyarakat lokal, sebagai tujuan utama untuk memperluas akses ekonomi, serta melestarikan budaya dan pengetahuan tradisional.
Di tinjau dari aspek teori Modernisasi ketergantungan, Revitalisasi jalur rempah dapat dianalisis sebagai upaya untuk keluar dari ketergantungan demi memperkuat ekonomi lokal.
Akhirnya Kota Tidore Kepulauan memiliki warisan historis sebagai pusat perdagangan rempah dunia yang membentuk kekuatan ekonomi, sosial, dan politik.
Namun, pergeseran orientasi ekonomi dan belum optimalnya pengelolaan sumber daya membuat peran tersebut melemah bagi masyarakat lokal.
Oleh karena itu, revitalisasi jalur rempah melalui kolaborasi pemerintah dan masyarakat menjadi langkah penting untuk menguatkan ekonomi lokal, melestarikan budaya, dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.


















