banner 728x250

KETIKA PULAU KECIL MENULIS SEJARAH BESAR

  • Catatan Kecil dari Esai “Sosiologi Tidore” Herman Oesman

Oleh: M.Guntur Alting

​Saya baru saja merenungkan sebuah esai menarik dari sosiolog Dr. Herman Oesman yang di share di group WatshAp oleh Bang Asghar Saleh malam ini.

Ia menulis tentang “Sosiologi Tidore” dalam rangka milad pulau Tidore yang ke-918 tahun. Sebuah angka yang bukan main-main.

Di sana, saya menemukan sebuah kebenaran lama yang sering kita lupakan “Peradaban tidak selalu lahir dari daratan yang luas, tapi dari jiwa-jiwa yang besar.”

​Ada tiga poin penting mengapa narasi Tidore ini harus kita baca dengan kacamata yang berbeda:

–000-

Pertama: Melampaui Geografi: Laut sebagai Jembatan, Bukan Pemisah

​Selama ini, kita sering terjebak dalam “mitos daratan”. Kita berpikir bahwa kemajuan hanya milik mereka yang punya wilayah luas.

Namun, Herman Oesman memotret Tidore sebagai aktor utama dalam “World System.” Sejak abad ke-15, Tidore bukan sekadar pulau kecil di Maluku Utara; ia adalah jejaring global.

​Bayangkan, di masa lalu, ketika teknologi komunikasi belum ada, Tidore sudah “berbicara” dengan Spanyol, Belanda, dan Arab melalui aroma cengkeh dan pala.

Ini adalah sosiologi maritim yang otentik. Di sini, laut bukan pemisah yang mengisolasi, melainkan jalan tol bagi gagasan dan perdagangan.

Tidore mengajarkan kita untuk menjadi Manusia Kosmopolitan—yang kakinya berpijak di karang lokal, tapi matanya menatap cakrawala global.

Kedua: Sultan Nuku: Maestro Solidaritas Lintas Budaya

​Jika kita bicara tentang kepemimpinan, kita harus belajar dari Sultan Nuku. Herman Oesman mencatat Nuku bukan hanya sebagai panglima perang, tapi sebagai “Arsitek Sosial”.

Nuku berhasil menyatukan faksi-faksi dari Papua hingga Halmahera untuk melawan kolonialisme.

Apa rahasianya?

Bukan sekadar kekuatan senjata, tapi solidaritas kolektif. Nuku membuktikan bahwa identitas itu bisa inklusif.

Ia melampaui sekat-sekat etnis demi sebuah nilai yang lebih tinggi: Keadilan.

Di tengah Indonesia yang terkadang masih diguncang isu sektarian, “Sosiologi Perlawanan” dari Tidore ini adalah obat penawar yang sangat relevan.

Ketiga: Islam dan Adat: Harmoni yang Menjaga Keseimbangan

​Seringkali, modernitas datang dengan menghancurkan tradisi. Namun di Tidore, kita melihat pemandangan yang berbeda. Islam hadir bukan untuk menghapus adat, tapi menjadi “Social Glue”—perekat sosial yang memperkuat bangunan masyarakat.

​Gelar Kië ma-kolano atau Penguasa Gunung adalah simbol betapa kekuasaan di sana sangat menghargai alam. Ada keseimbangan antara spiritualitas dan ekologi.

Di usia 918 tahun, Tidore tetap bertahan karena mereka memiliki jangkar yang kuat. Mereka tidak kehilangan “DNA Sejarah” mereka meskipun badai globalisasi menerjang.

–000-

Epilog: Pelajaran dari Timur

​Membaca tulisan Herman Oesman bagi saya adalah sebuah perjalanan spiritual dan intelektual.

Tidore adalah bukti nyata dari Resiliensi Budaya.

​Pesan moralnya jelas “Jangan pernah meremehkan yang kecil. Karena dari pulau yang tampak seperti noktah di peta itu, pernah lahir narasi yang menggetarkan dunia.”

Kita butuh lebih banyak sosiolog seperti Herman yang mampu mengangkat “suara dari pinggiran” menjadi diskursus utama di pusat.

“​Selamat ulang tahun ke-918, Tidore.”

Teruslah menjadi cahaya dari Timur yang mengingatkan kita semua tentang arti kedaulatan dan harga diri.(***)

Cinere, 10 April 2026
Pukul : 23.10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *