banner 728x250

SAJADAH BAHLIL

Oleh: M. Guntur Alting

JUM’AT kemarin, saya dapat amanah jadi khatib. Tempatnya di Masjid Al-Ihsan. Itu masjid yang letaknya di dalam kompleks Kementerian Investasi/BKPM.

Anda sudah tahu: itu kompleks kantor yang “mentereng.” Tempat berkumpulnya para “pemikir modal” dan regulasi triliunan rupiah.

​Usai khutbah, ritualnya biasa “jemaah “bersalaman.” Merapikan sajadah. Bersiap kembali ke meja kerja masing-masing.

​Saat itulah saya melihat sosok itu. Wajahnya sangat “familiar.” Anda pun pasti langsung kenal kalau melihatnya dari kejauhan.

Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi “energinya” selalu meluap-luap.

Bahlil Lahadalia !

Iya benar..​Beliau ada di sana. Ikut salat Jumat di masjid itu. Saya tahu Bahlil termasuk salah satu menteri kontroversial.

Saya juga tahu, ada buku baru tentang dirinya, judulnya unik ” Olah-Olah Bahlil untuk Rakyat” yang ditulis Yusran Darmawan dkk.

-000-

​Bagi Bahlil, datang ke kompleks kantor itu tentu “memicu” rasa yang beda. Itu kan “bekas” markas besarnya.

Di sanalah dulu beliau berkantor. Di sanalah beliau dulu memimpin, mengambil keputusan-keputusan besar yang menentukan arah “investasi” republik ini.

​Tapi siang itu, saya melihat pemandangan yang asyik sekali.
​Tidak ada “barikade”” ajudan yang sangar. Tidak ada protokoler yang bikin jarak dua meter.

Bahlil berdiri di atas karpet masjid, sama seperti jemaah yang lain. Begitu melihat saya turun dari mimbar, beliau langsung mendekat.

​Kami bersalaman. Erat sekali.
“Gaya Bahlil ya tetap Bahlil”: blak-blakan, penuh senyum, dan hangat. Khas anak Timur yang lincah.

Logatnya yang “bertenaga” itu langsung mencairkan suasana. Kami saling melempar senyum lepas. Senyum yang tanpa beban target realisasi investasi triwulanan.

​Sebagai orang yang menggeluti sosiologi, saya langsung membatin: “ini luar biasa.”
​Di luar masjid, di gedung-gedung tinggi itu, jabatan adalah segalanya.

Struktur birokrasi begitu kaku. Siapa memimpin siapa, siapa harus menghadap siapa. Jelas sekali garisnya.

​Tapi begitu masuk pintu masjid, struktur itu langsung amblas. Rontok.

​Di atas sajadah merah yang sama, semua manusia kembali ke setelan pabrik: sama-sama hamba.

Mau dia mantan menteri, mau dia dosen, mau dia staf biasa, khatib, semuanya berdiri sejajar. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah.

​Masjid di lingkungan kantor ternyata punya fungsi yang hebat: jadi “rem darurat” untuk ego manusia. Menjadi tempat untuk “cooling down” dari riuhnya urusan duniawi.

-000-

​Kami pun sempat berfoto bersama. Anda bisa lihat sendiri fotonya: kami berdua “tersenyum lebar” dengan latar dinding marmer masjid.

Pakaian kami sederhana, songkok kami sama-sama hitam.​Foto itu bagi saya punya cerita yang dalam.

​Jabatan itu kan “seperti cuaca.” Kadang panas, kadang hujan, dan pasti akan berganti musim.

Hari ini menjabat, esok menjadi mantan. Itu “hukum alam” yang tidak bisa dilawan oleh regulasi apa pun. Kekuasaan itu ada batas waktunya.

Tapi silaturahmi?

Ah, itu ceritanya lain. Silaturahmi yang dirajut dengan ketulusan di atas sajadah, tidak akan pernah ada masa “kedaluwarsanya.”

Tetap hangat, bahkan setelah urusan kekuasaan sudah lama selesai.
​Sederhana, tapi mengena ! (***)

Pejaten, 16 Mei 2026
Pukuk: 04:05

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *