banner 728x250

NYAWA DALAM KATA :(Diplomasi Identitas dan Kepulangan Lidah Leluhur)

Oleh: M. Guntur Alting

DUNIA hari ini adalah sebuah mesin raksasa yang bergerak menuju keseragaman.

Di kota-kota besar, dari Jakarta hingga New York, kita melihat manusia-manusia yang memakai pakaian yang sama, menonton film yang sama, dan perlahan-lahan—tanpa kita sadari, berpikir dengan pola yang sama.

Globalisasi seringkali datang seperti “air bah” yang menyapu segala yang kecil, yang unik, dan yang lokal, lalu menggantinya dengan sesuatu yang hambar dan generik.

​Namun, di tengah gemuruh penyeragaman itu, sebuah berita dari Tidore Kepulauan hadir seperti “oase.”

Kebijakan sang Walikota untuk mewajibkan penggunaan bahasa Tidore di sekolah dan instansi pemerintah bukan sekadar aturan birokrasi yang dingin.

Bagi saya, ini adalah sebuah “puisi perlawanan.”- Ini adalah upaya sebuah komunitas untuk berkata kepada dunia:

“Kami ada, kami unik, dan kami menolak untuk dilupakan.”

-000-

​Secara ilmiah, bahasa bukanlah sekadar alat tukar informasi. Bahasa adalah sebuah “arsitektur kognitif.”

Di dalam setiap kosakata bahasa Tidore, terdapat jejak-jejak sejarah Kesultanan yang agung, filosofi tentang laut yang menghidupi, serta etika tentang bagaimana manusia harus berdiri di hadapan Tuhan dan sesamanya.

​Ketika seorang anak Tidore kehilangan bahasanya, ia tidak hanya kehilangan kata-kata. Ia kehilangan “kunci” untuk membuka peti harta karun kearifan leluhurnya.

Riset sosiolinguistik sering mengingatkan kita pada fenomena “epistemicide”-pembunuhan pengetahuan.

Saat bahasa daerah mati, hilang pula cara unik manusia dalam memahami alam dan moralitas.

​Maka, kebijakan memasukkan bahasa Tidore ke dalam kurikulum dan ruang kantor adalah sebuah rekayasa sosial yang cerdas. Ia adalah upaya memutus rantai kepunahan pengetahuan.

Secara nalar, ini adalah investasi pada “modal budaya” (cultural capital). Seorang anak yang teguh dengan identitasnya akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri di kancah global.

Ia tidak akan menjadi “peniru yang canggung”, melainkan menjadi “kontributor yang unik”.

-000-

​Namun, mari kita letakkan angka-angka dan teori itu sejenak. Mari kita bicara dengan hati.

​Bahasa daerah adalah “bahasa rasa.” Ada frekuensi emosional dalam bahasa Tidore yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh bahasa Indonesia yang formal maupun bahasa Inggris yang “kosmopolit.”

Ada nuansa “adab,” ada getaran penghormatan, dan ada kehangatan kekeluargaan yang hanya bisa dirasakan ketika lidah mengucapkan dialek ibu.

​Bayangkan ruang-ruang kelas di mana anak-anak kita tidak lagi merasa asing dengan identitasnya.

Bayangkan kantor-kantor pemerintahan di mana pelayanan publik dilakukan dengan ruh persaudaraan asli Tidore.

Ini adalah upaya mengembalikan “rumah” ke dalam jiwa. Kita seringkali mengejar kemajuan hingga ke ujung dunia, namun seringkali pula kita lupa membawa “kunci rumah” kita sendiri.

Kebijakan ini adalah cara Walikota untuk memastikan bahwa sejauh mana pun anak-anak Tidore merantau, mereka selalu punya jalan pulang di dalam lidah mereka.

-000-

​Saya melihat langkah ini sebagai sebuah diplomasi identitas. Tidore tidak ingin dikenal hanya sebagai titik koordinat di peta Maluku Utara.

Tidore ingin dikenal sebagai sebuah peradaban yang bernapas.
​Ada sebuah pesan mendalam di sini: Modernitas tidak harus berarti Westernisasi.

Menjadi maju tidak harus berarti menjadi orang lain. Kita bisa menjadi modern dengan tetap menjadi Tidore yang otentik.

Inilah yang disebut sebagai “global-local paradox”—semakin kita menjadi lokal yang kuat, semakin kita dihargai di tingkat global.

-000-

​Tentu, tantangan akan ada. Perubahan perilaku tidak terjadi dalam “semalam.” Akan ada keraguan, mungkin juga sedikit kecanggungan di awal.

Namun, sejarah selalu ditulis oleh mereka yang berani mengambil langkah pertama yang sulit.

​Lidah leluhur itu kini sedang diajak pulang. Ia tidak lagi hanya berbisik di sudut-sudut dapur atau di pasar-pasar tradisional, tetapi ia kini mulai bergema di podium-podium sekolah dan meja-meja kekuasaan.

Ini adalah janji kita kepada masa depan: bahwa di tanah ini, ruh “Tidore Jang Foloi” tidak akan pernah habis termakan zaman.

​Sebab, selama bahasa itu masih diucapkan, selama dialek itu masih mengalir dalam doa-doa dan diskusi kita, maka selama itulah Tidore akan tetap abadi sebagai sebuah bangsa yang bermartabat.(***)

Jakarta, 3 Mei 2026
Pukul: 10:30

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *