–Catatan Sosiologis Pinggiran
Oleh: M.Guntur Alting
Saya membaca sebuah teks yang viral di media sosial, ditulis oleh sastrawan Boy Candra. Isinya menghentak, penuh dengan “hiperbola” yang jenius.
Tulisan itu pendek. Tapi menohoknya dalam sekali. Boy menulis tentang desa yang luar biasa.
Di desa itu, katanya, orang kalau bepergian naik harimau. Kadang naik elang. Kalau mau bangun rumah, tinggal cari goa lalu dibersihkan ramai-ramai. Kalau anak mau nikah, satu kampung masuk hutan berburu 19 ekor rusa.
Di ujung tulisan, Boy menulis kalimat penutup yang menusuk : “Jadi, dolar naik, rupiah melemah, tidak pengaruh sih memang.”
Anda sudah tahu: tulisan Boy ini sebetulnya sebuah “sindiran”. Satire ekstrem.
Sasaran tembaknya jelas: narasi yang belakangan ini sering kita dengar dari panggung politik.
Narasi bahwa kalau dolar naik sampai meroket, orang desa tidak akan pusing.
Desa dianggap punya dunia sendiri yang kebal dari urusan mata uang Amerika itu.
Apakah benar begitu?
Mari kita bedah. Pakai logika lapangan. Logika mama-mama di desa.
-000-
Bagi yang setuju desa tidak pengaruh dolar, logikanya begini:
Orang desa itu makannya beras dari sawah sendiri. Sayurnya memetik di pekarangan rumah. Ikannya menjala di sungai sebelah.
Hubungan sosialnya kuat, masih suka gotong royong. Jadi, mau dolar menyentuh angka berapa pun, perut mereka tetap kenyang. Tidak ada urusan dengan “Wall Street.”
Logika itu tidak salah. Ada benarnya. Desa memang punya daya tahan (resilience) luar biasa dalam hal pangan dasar.
“Sektor mikro mereka lebih liat dibanding orang kota yang langsung pusing kalau harga kopi di kafe langganannya naik.”
Tapi, hari ini saya ingin mengajak Anda melihat sisi satunya lagi. “Sisi realitas modern.”
Desa hari ini bukan lagi desa zaman Majapahit. Petani kita sekarang tidak lagi pakai kerbau—mereka pakai traktor. Mereka tidak lagi pakai jampi-jampi—mereka pakai pupuk urea dan pestisida.
Nah, di sinilah masalahnya. Anda tahu dari mana bahan baku pupuk kimia itu?
Impor! Belinya pakai apa? Pakai dolar !
Ketika dolar menguat, harga bahan baku itu naik. Pabrik pupuk di kota menaikkan harga. Sampai di tingkat pengecer di desa, harganya sudah selangit. Petani menjerit.
Lalu, setelah panen, apakah padinya langsung dimakan sendiri? Tidak semua.
Sebagian besar harus dijual ke kota. Mengangkutnya pakai apa? Pakai truk atau pikap. Kendaraan itu butuh suku cadang, butuh BBM.
Kalau rupiah melemah, biaya logistik ikut naik.Belum lagi kalau kita lihat anak-anak desa zaman sekarang. Mereka pegang HP.
Butuh beli kuota internet. Mereka juga makan “mi instan—yang bahan bakunya gandum impor.
Jadi, siapa bilang desa tidak kena dampak ?
-000-
Maka, kalau ada pejabat atau elite yang bilang “desa aman dari dolar,” itu namanya romantisisme yang kebablasan.
Romantisisme yang berbahaya.Kenapa berbahaya?
Sebab, kalau kita terus-menerus memuji bahwa desa itu mandiri dan sakti mandraguna menghadapi krisis, ujung-ujungnya pemerintah bisa cuci tangan.
“Lah, buat apa dibantu? Kan mereka kebal. Mereka kan bisa survive sendiri.” Ini yang gawat.
Glorifikasi ketahanan desa sering kali jadi alasan halus untuk mengabaikan mereka.
Boy Candra benar. Kalau mau desa benar-benar bebas dari dampak dolar, ya kembalikan saja mereka ke “zaman purba.”
Suruh mereka naik harimau lagi. Suruh tinggal di goa lagi.
Tapi dunia tidak bisa mundur. Desa sudah menjadi bagian dari “mesin ekonomi global.”
Mereka merasakan dampak yang sama dengan kita di kota. Bedanya, bantalan ekonomi mereka jauh lebih tipis.
Mengurus desa itu bukan dengan cara memuji-muji kejayaan masa lalu mereka, tapi dengan memastikan harga pupuk terjangkau dan hasil panen mereka dihargai dengan layak.
Itu baru konkret ! (***)
Untuk lebih dalam makna, baca :
“Dollar Naik, Desa Tercekik”-di Link Blog:
https://gunturalting19-bwgcn.wordpress.com/2026/05/18/dolar-naik-desa-tercekik/
Pejaten, 18 Mei 2026
Pukul: 2026











