– Catatan untuk Sang Sahabat Dr.Mustaqim,M.Pdi
Oleh: Dr. M.Guntur Alting, M.Pd, M.Si (Dosen FISIP UMJ Jakarta)
ADA sebuah pepatah di Tanah Mandar: “Lopi pemmali mamasara di pamboang.” Perahu tak boleh bersedih di muara.
Ia harus berangkat, menantang ombak, demi menjemput takdir yang lebih besar di seberang lautan.
Filosofi ini tampaknya “mengalir” deras dalam darah Mustaqim. Lahir di pelosok Desa Tinambung, Polewali Mandar. Separuh hidupnya adalah sebuah pengembaraan panjang.
Ia bukan sekadar pindah alamat dari rimbunnya pesisir Sulawesi Barat ke sesaknya Jakarta Utara, melainkan sebuah “migrasi gagasan.”
-000-
Membawa Mandar ke Jakarta
Mustaqim adalah tipikal anak madrasah yang tumbuh dengan disiplin “langit” yang ketat.
Dari MIN Sepabatu hingga MAN Majene, ia ditempa oleh teks-teks klasik. Namun, di IAIN Alauddin Ujung Pandang, ia menemukan bahwa agama harus “punya kaki” untuk melangkah dan tangan untuk merangkul.
Menjadi Ketua Senat dan memimpin Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah caranya belajar tentang “politik kemanusiaan”.
Tahun 2001, ia menginjakkan kaki di Jakarta. Namun, Jakarta yang ia temui bukanlah “gemerlap” Sudirman atau mewahnya Menteng.
Takdir justru menuntunnya ke “pinggiran” pesisir Jakarta Utara, tempat di mana “aroma laut” bercampur dengan keringat kuli panggul dan nelayan.
Di sana, di antara rumah-rumah semi permanen, ia tidak datang membawa teori-teori pendisikan yang rumit dari bangku S2-nya di Universitas Islam Jakarta. Ia datang “membawa hati.”
Membangun Karakter di Tengah Bau Amis Ikan
Di pesisir yang keras itu, Mustaqim mendirikan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Baginya, anak-anak nelayan itu tak boleh hanya pandai mengeja nasib.
Mereka harus bisa mengeja huruf-huruf Tuhan dan memiliki karakter sekeras karang namun selembut sutra.
Di sinilah ia mempraktikkan apa yang kemudian ia dalami di “Indonesian Heritage Foundation”: bahwa pendidikan tanpa karakter hanyalah proses mencetak robot.
Momentum besar itu datang pada 2005.
Di bawah kubah Masjid Nurul Jihad, di sebuah “perkampungan” nelayan yang bersahaja, ia berdiri tak jauh dari Presiden SBY yang sedang berkunjung.
Pertemuan itu seolah menjadi isyarat “semesta” bahwa jalannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Agama telah dimulai.
Penyuluh yang Melampaui Mimbar
Biasanya, kita membayangkan seorang penyuluh agama adalah “sosok kaku” yang hanya bicara tentang dosa dan pahala di atas podium.
Tapi Mustaqim memecah stigma itu. Ia adalah penyuluh yang adaptif. Ia bicara tentang manajemen keluarga di KUA, ia memotivasi mahasiswa di kampus-kampus, bahkan ia merambah dunia konten kreator untuk menyapa generasi Z.
Tak heran jika namanya harum sebagai Juara 1 Penyuluh Agama DKI Jakarta 2023. Ia bukan sekadar “pegawai kantor”, ia adalah “pegawai umat”.
Prestasinya sebagai 10 Nomine Terbaik Nasional selama “dua tahun” berturut-turut adalah pengakuan bahwa cara dakwahnya yang inklusif dan praktis–sebagaimana dua buku haji yang ia tulis–adalah apa yang dibutuhkan Indonesia hari ini.
Pulang Melalui Tulisan
Membaca sosok Mustaqim adalah membaca kegigihan seorang”passolorang” (pelayar).
Meski kini ia menetap di Jakarta, jiwanya tetaplah jiwa “anak Mandar” yang memegang teguh nilai kejujuran dan keberanian.
Ia adalah bukti bahwa meski seseorang berangkat dari desa yang tak nampak di “peta besar dunia,” dengan ilmu dan ketulusan pengabdian, seseorang bisa mewarnai pusat peradaban.
Mustaqim telah membuktikan bahwa pengabdian paling sejati adalah ketika kita mampu menjadi cahaya bagi mereka yang selama ini terpinggirkan oleh cahaya kota.
-000-
Menjemput Takdir di Angka Lima Puluh
Ada sesuatu yang “magis” saat kita membicarakan persahabatan yang melintasi waktu.
Bagi saya dan Mustaqim, ingatan itu selalu membawa kami kembali ke Ujung Pandang tahun 1993.
Maka, ketika pada Agustus 2022, saya mengajaknya untuk kembali ke bangku kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta, saya tahu saya tidak sedang mengajaknya sekadar “mengejar gelar.”
Saya sedang mengajaknya “merawat api” weyang hampir saja redup oleh rutinitas.
Bagi Mustaqim, angka usia 50 ternyata hanyalah sekumpulan angka yang mencoba menyekap hasrat, namun gagal.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana ia menempuh jalan “sunyi doktoral” ini. Ia bukan lagi mahasiswa muda yang hanya memikirkan nilai.
Ia adalah seorang pejuang yang berdiri di antara tumpukan jurnal, tagihan domestik, dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Ada satu “fragmen” yang terus lekat dalam ingatan saya: saat ia bersiap bertolak ke Malaysia untuk seminar internasional pada Februari 2024, kedua putranya justru harus terbaring di rumah sakit.
-000-
Di momen getir itu, ia berdiri di persimpangan.
Namun, Mustaqim adalah tipe pembelajar yang keras kepala terhadap kebodohan. Ia memegang teguh wasiat Imam Syafi’i:
“lelahnya belajar adalah harga mati yang harus dibayar agar tidak perlu mencicipi pahitnya kebodohan di masa tua.”
Ia juga membawa “jimat” dari Tanah Mandar. Sebuah keyakinan spiritual bahwa Tuhan tidak akan membiarkan hamba-Nya payah saat membangun kemaslahatan dan menuntut ilmu.
Keyakinan itu berbuah manis; melalui kebijakan kampus yang menghargai dedikasi kader, langkahnya yang berat perlahan menjadi lebih ringan.
Di kampus UMJ, Mustaqim menemukan oase. Dari Prof. Masyitoh hingga Prof. Herwina Bahar, ia bertemu dengan para guru besar yang tak hanya memberi ilmu, tapi juga keteduhan. Ia belajar bahwa intelektualitas tertinggi justru lahir dari sikap yang tidak jumawa.
Kini, sahabat saya ini telah menuntaskan ikhtiarnya. Tapi bagi seorang Mustaqim, gelar Doktor bukanlah pajangan di lemari kaca.
Ia sedang bersiap membawa semua manfaat yang didulangnya pulang. Kembali ke akar rumput, ke ranting-ranting organisasi, di mana denyut kehidupan yang sesungguhnya berada.
Satu yang pasti, seperti kata pepatah “dibalik kesuksesan seorang lelaki pasti ada sosok wanita tangguh” dan sosok dibalik kesuksesan seorang Mustaqim itu adalah Siti Nasibah, putri kelahiran Sinjai yang mengiringi jatuh banginnya seorang Mustaqim.
Tentu kedua putranya yang menjadi sang penyemangat Izzul dan dan Sayyid, tak lupa pula “Al-fatihah”untuk sang putra Ayyit dan mertua yang tak lagi menyaksikan Ayah dan menantunya di “altar” penyematan gelar doktor besok.
Esai ini adalah “penghormatan” saya untuknya. Sebuah pembuktian bahwa semangat “Fastabiqul Khairat” tidak mengenal batas usia.
Selamat “jalan pulang” ke pengabdian yang lebih luas, Sahabat.
Lembah Cinere 4 Mei 2026
Pukul: 15.30











