banner 728x250

KIAMAT ILMU SOSIAL – Gugat Sunyi dan Menimbang Ulang Kematian Nalar

Oleh: M.Guntur Alting

Di lorong-lorong FISIP, langkah itu kian sunyi, Ijazah ditumpuk, dihitung laksana barang industri.

Negara datang membawa angka, membawa timbangan, “Oversupply,” katanya, sambil mematikan harapan.

​Sosiologi digugat, filsafat dianggap beban, Sejarah dikunci, dianggap tak memberi makan.

Tapi di balik angka, ada jiwa yang mengerang, Apakah manusia kini hanya sekadar sekrup pemenang?

-000-

​Dunia pendidikan kita sedang “bergetar.” Sebuah maklumat lahir dari Kemendiktisaintek per-April 2026.

Isinya tegas: program studi yang dianggap “berlebih” dan “tidak relevan” dengan industri akan ditinjau ulang, bahkan ditutup.

​Saya melihat ada lima noktah penting untuk kita renungkan bersama dalam melihat fenomena ini:

​1. Lonceng Kematian bagi Menara Gading

Kita harus jujur, selama berpuluh tahun banyak kampus terjebak dalam pola “pabrik ijazah”.

Mereka memproduksi ribuan lulusan sosial dan kependidikan tanpa melihat apakah pasar sanggup menyerapnya.

Kebijakan ini adalah lonceng pengingat bahwa kampus tak boleh lagi menjadi menara gading yang asyik sendiri, sementara di luar sana, dunia kerja sudah berubah menjadi “rimba digital” yang ganas.

​2. Reduksionisme: Manusia Bukan Sekadar Sekrup

Namun, ada bahaya laten di sini. Ketika pemerintah menggunakan kacamata “Relevansi Industri” sebagai satu-satunya ukuran, kita sedang terjebak dalam reduksionisme.

Manusia bukan sekadar sekrup dalam mesin ekonomi. Pendidikan bukan sekadar pelatihan kerja (job training).

Jika ilmu sosial dimatikan hanya karena dianggap tidak menghasilkan devisa instan, kita sedang mengubur kemampuan bangsa untuk berpikir kritis.

​3. Hilangnya Polisi Moral Pembangunan

Apa jadinya sebuah negara yang penuh dengan teknokrat, tapi sepi dari sosiolog dan budayawan?

Kita akan memiliki jembatan-jembatan megah, tapi kehilangan kemampuan untuk mendamaikan konflik sosial.

Kita akan punya teknologi canggih, tapi gagap bicara soal etika. Ilmu sosial adalah “radar moral” pembangunan.

Mematikannya demi efisiensi ekonomi adalah sebuah perjudian peradaban yang amat mahal harganya.

​4. Ancaman Ketimpangan Baru

Kita tahu, prodi sosial sering kali menjadi pelarian terakhir bagi anak-anak dari ekonomi lemah karena biayanya yang terjangkau.

Jika prodi-prodi ini ditutup dan hanya menyisakan prodi STEM yang mahal, maka pendidikan tinggi akan kembali menjadi barang mewah milik elit.

Kita berisiko menciptakan jurang baru: yang kaya menjadi konseptor, yang miskin cukup menjadi operator teknis hasil pelatihan singkat.

-000-

Jalan Tengah: Reinvensi, Bukan Eliminasi

Solusinya bukan dengan membunuh ilmu tersebut, melainkan dengan menyegarkannya.

Jangan tutup Prodi Sosiologi, tapi ajarkan mereka “Social Data Analytics.”

Jangan tutup Prodi Kependidikan, tapi bekali mereka dengan “Digital Pedagogy.”

Kita butuh “hibriditas.” Kita butuh sarjana yang punya hati sosiolog, tapi punya tangan teknokrat.

​Kita memang butuh makan, kita butuh ekonomi yang tumbuh. Tapi kita juga butuh “kewarasan.”

Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh mereka yang pandai menghitung angka di bursa saham, tapi juga oleh mereka yang tekun menjaga “api nalar” di ruang-ruang kelas.

​Jangan sampai karena terlalu ambisius mengejar pertumbuhan, kita justru kehilangan jiwa dari pendidikan itu sendiri.

Karena pada akhirnya, tujuan akhir dari pendidikan bukan hanya membuat kita laku di pasar kerja, tapi membuat kita tetap menjadi manusia yang utuh.(***)

Cinere, 30 April 2026
Pukul : 04.20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *