Oleh: Ismail Ibrahim, M.Sos/Alumni S-2
Universitas Jenderal Soedirman
Di era modern, hasrat manusia tidak lagi terbatas pada pemenuhan kebutuhan pokok, melainkan juga dipengaruhi oleh konsumerisme yang membentuk identitas pribadi melalui media sosial.
Jejak hasrat dan pencarian identitas itu berkelana di lorong-lorong digital, menyusuri berbagai platform seperti Google, Instagram, YouTube, dan TikTok.
Aktivitas konsumsi di e-commerce seperti di Shopee dan Tokopedia tak lagi sekadar jual beli, melainkan menjelma di panggung tempat hasrat dan jati diri dipertontonkan, seperti kebutuhan akan pakaian trendi, gadget terbaru, hingga aksesori yang menunjang citra diri.
Bahkan, barang yang hanya dilihat telah menjadi referensi gaya hidup minimalis, trendi, dan inspiratif yang mencerminkan hasrat yang tersirat.
Dengan demikian, perkembangan teknologi dan globalisasi tak hanya memudahkan aktivitas, tetapi juga perlahan menata ulang cara manusia memaknai kebutuhan, mengejar keinginan, dan memahami jati dirinya.
Fenomena sosial ini akibat globalisasi dan teknologi mengalir deras, menggeser nilai, pola interaksi, dan struktur sosial, sekaligus menyeret berbagai lapisan masyarakat ke arus konsumsi yang digerakkan oleh hasrat dan gengsi, lalu diperkuat oleh gemuruh media sosial.
Perubahan ini bergerak cepat dan meluas, dimana arus globalisasi dan inovasi teknologi menggeser nilai, dan norma pola interaksi, serta struktur menuju pusaran kepuasan dan pemenuhan keinginan yang tiada henti.
Banyak anak muda maupun masyarakat luas saat ini mengikuti arus kehidupan yang tampak tenang, tetapi sebenarnya penuh kesibukan dan kesenangan.
Hal itu tidak lagi didorong oleh kebutuhan yang nyata, melainkan oleh keinginan yang terus bertambah dan tidak pernah merasa puas.
Seperti anak muda kini yang berjalan di tengah gemerlap yang sunyi, mengejar hal-hal yang tampak indah namun tidak selalu dibutuhkan, karena mereka ingin dipuji. Hal ini terlihat dari gaya hidup dan penampilan, seperti membeli barang bermerek atau mengikuti tren fashion tertentu hanya agar terlihat keren di mata orang lain.
Selain itu ada yang membeli kemewahan demi citra diri, bukan kebutuhan semata karena ingin mengejar popularitas dan memperlihatkan di media sosial.
Berupa barang yang harganya tinggi tidak termasuk kebutuhan pokok, tetapi lebih digunakan untuk menunjukkan gaya hidup, status sosial, dan kepuasan pribadi.
Selain itu barang mewah juga memiliki makna simbolis sebagai tanda kesuksesan dan prestise seseorang.
Sebagian orang menjalani hidup di balik layar, berharap diakui melalui tanda suka dan komentar. Sementara itu, ada pula yang meniru arah hidup orang lain karena takut tidak dianggap.
Media sosial dapat dipahami sebagai panggung besar yang penuh cahaya dan daya tarik, tempat tren terus bergulir dan memengaruhi perilaku masyarakat.
Di ruang ini, orang-orang tanpa sadar terdorong untuk mengikuti arus popularitas, seolah menari sesuai irama yang ditentukan oleh apa yang sedang viral.
Daya pikatnya membuat hasrat untuk terlibat dan diakui semakin kuat, sehingga media sosial bukan hanya sarana komunikasi, tetapi juga alat halus yang membentuk cara berpikir, gaya hidup, dan pilihan banyak orang dalam kehidupan sehari-hari.
Pada masa lalu, identitas masyarakat tumbuh melalui tradisi, keluarga, dan komunitas yang menjadi dasar pijakan pembentukan makna diri. Namun dalam horizon modernitas, identitas tidak lagi hadir sebagai entitas yang stabil.
Karena teknologi dan globalisasi merupakan dua sistem yang mampu menyaring serta memenuhi berbagai kebutuhan sosial. Keduanya dapat dipahami sebagai wajah baru yang mengkafer seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan bawah.
Perubahan ini tidak hanya menggeser cara hidup masyarakat, tetapi juga membentuk cara manusia memaknai dunia dan dirinya sendiri. Kini, identitas menjelma sangat lentur dan terbuka seperti di daur ulang melalui teknologi.
Akhirnya Di era modern, konsumsi dan media sosial tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga membentuk gaya hidup serta identitas diri.
Globalisasi mendorong masyarakat, terutama anak muda, untuk mengikuti tren dan membeli barang demi gengsi serta memperoleh pengakuan di media sosial.
Akibatnya, identitas yang dahulu banyak dipengaruhi oleh tradisi kini menjadi lebih dinamis, berubah-ubah, dan sangat dipengaruhi oleh dunia digital.
Fenomena ini sejalan dengan gagasan Erving Goffman mengenai kehidupan sosial sebagai sebuah panggung pertunjukan (Dramaturgi), di mana individu mengatur panggungnya melalui unggahan, penggunaan filter, serta kurasi diri untuk mendapatkan validasi berupa likes, komentar, dan views.***











