banner 728x250

I Hate Monday

Oleh: M.Guntur Alting

(“Bagi banyak orang, Senin adalah monster, tapi bagi yang bijak ia adalah cermin”)

Saya sering merenung. Mengapa Senin begitu dibenci? Begitu ditakuti? Sampai ada istilahnya: “1 hate Monday” Aku benci hari Senin. Seolah-olah Senin itu hantu. Yang datang membawa “parang.”

​Padahal Senin itu hari biasa. Sama seperti Selasa. Sama seperti Rabu. Mataharinya sama. Terbitnya dari timur juga.

​Tapi bagi banyak orang, Senin itu beban. Berat sekali.

​Secara sosiologis–ini menarik. Ada benturan. Antara kebebasan dan keterikatan.

​Selama Sabtu dan Minggu, kita ini raja. Mau tidur sampai siang, silakan. Mau pakai kaos oblong sambil makan “mi instan,” boleh. Kita memegang kendali penuh atas nasib kita sendiri.

​Lalu Senin datang. Tiba-tiba kendali itu dicabut.​Kita harus pakai baju rapi. Harus datang tepat waktu. Harus duduk di depan komputer. Menghadapi atasan. Menghadapi target. Menghadapi tumpukan email yang isinya menagih janji.

​Di situ masalahnya: transisi identitas. Dari manusia merdeka menjadi manusia organisasi. Perubahan mendadak inilah yang bikin batin berontak.

​Saya sering bilang ke mahasiswa di FISIP UMJ. Hidup itu soal “manajemen energi.” Kalau kita membenci Senin, energi kita sudah habis sebelum berperang.

​Bayangkan. Minggu sore sudah gelisah. Minggu malam tidak bisa tidur. Memikirkan besok. Padahal besok belum terjadi. Tapi “stresnya” sudah dicicil duluan. Rugi besar!

​Dalam buku ” I Love Monday” karya Arvan Pradiansyah, Ia memberikan formula sederhana. “Jangan anggap Senin sebagai awal beban.” Anggaplah Senin sebagai awal kompetisi.

​Dunia ini berlari begitu cepat. Sangat cepat. Kalau kita memulai minggu dengan cemberut, kita sudah kalah satu langkah dari orang yang memulai dengan lari.

​Dulu, waktu studi di Birsbane-Australia, saya lihat orang-orang di sana. Mereka menikmati akhir pekan dengan total. Tapi Senin pagi? Mereka melesat.

Tidak ada waktu untuk mengeluh. Karena mereka tahu: hidup harus berjalan.

​Kita sering terjebak dalam “ruang risiko”. Takut salah, takut gagal, takut ditegur. Akhirnya Senin jadi momok.

​Padahal, Senin adalah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan minggu lalu. Senin adalah kertas putih. Masih bersih. Mau ditulis apa? Tergantung kita.

​Jadi, mulai besok—atau Senin depan—cobalah sesuatu yang beda.
​Jangan bangun dengan perasaan “Aah, Senin lagi.” Bangunlah dengan perasaan “Asyik, main lagi.”

Menurut para motivator, ​kerja itu anggap sajalah main. Kalau kerja dianggap beban, kita ini budak. Kalau kerja dianggap main, kita ini “maestro.”

​Senin tidak akan pernah berubah jadi Minggu. Itu hukum alam. Yang bisa berubah adalah isi kepala kita.

​Mau pilih mana? Menggerutu di balik meja, atau tersenyum sambil mengejar cita-cita?

​Saya pilih yang kedua. Lebih sehat. Lebih produktif. Dan yang pasti, tidak bikin cepat tua.

Akhirnya dari pada menyebut “I Hate Monday, gantilah dengan menyebut “I Love Monday”

​Selamat hari Senin !, Selamat bekerja keras!

Kaiibata, 27 April 2026
Pukuk : 05.10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *