Oleh: Nurfaizah MGA
Ada sesuatu yang liris dalam sebuah kepulangan. Barangkali benar apa yang pernah dituliskan Maria Hartiningsih, bahwa pada akhirnya setiap pengembara memang butuh jalan pulang.
Namun, bagi sebuah kota, kepulangan bukan sekadar urusan koordinat geografi atau pemindahan raga. Ia adalah pemulihan ingatan.
Di Ternate, pada usianya yang ke-27, kita melihat fragmen itu: sebuah ikhtiar untuk menjemput almarhum Haji Burhan Abdurahman dari tanah Gowa.
Sebuah kota seringkali lupa pada tangan-tangan yang pernah melukis wajahnya.
Namun, Wali Kota M.Tauhid Soleman dan Sekretaris Kota Rizal Marsaoly tampaknya menolak untuk “amnesia.”
Jika Tauhid adalah simbol restu dan kematangan seorang pemimpin yang tahu cara membungkuk takzim, maka Rizal adalah ia yang berdiri di jantung kesibukan itu—menata jalan agar sang pendahulu tak selamanya menjadi “asing” di tanah orang.
Rizal Marsaoly, kita tahu, adalah seorang birokrat yang tumbuh dalam bayang-bayang “ideologis” Haji Burhan.
Baginya, memulangkan sang “Arsitek Modernitas” Ternate itu bukan sekadar perkara administrasi yang kaku atau perintah kedinasan yang dingin. Ini adalah sebuah “moral colling” panggilan moral.
Sebab, bagaimana mungkin sebuah kota merasa utuh jika jiwanya—sosok yang meletakkan fondasi bagi Ternate hari ini—masih berbaring jauh dari kaki Gunung Gamalama?
Rizal melakukan apa yang bisa kita sebut sebagai “diplomasi rindu.” Ia mengolah administrasi “dengan rasa.”
Di tangannya, birokrasi tidak tampil sebagai mesin yang menjemukan, melainkan sebagai “orkestra penghormatan.”
Ia sadar betul bahwa menghargai masa lalu adalah cara paling bermartabat bagi sebuah pemerintahan untuk merawat hari depan.
Ada pesan yang tersirat di sana, di antara kesibukan persiapan itu: bahwa dalam politik dan kekuasaan, jabatan boleh tanggal, tapi adab terhadap sejarah harus tetap tegak.
Rizal menunjukkan bahwa seorang Sekretaris Kota yang mumpuni adalah ia yang mampu menjaga marwah pemimpinnya hari ini, tanpa perlu menghapus jejak mereka yang telah mendahului.
Kepulangan ini adalah sebuah rekonsiliasi. Saat jenazah itu nanti menyentuh bumi Moloku Kie Raha, yang pecah bukan hanya tangis, melainkan sebuah “kelegaan kolektif.”
Ada perasaan bahwa “Sang Ayah” telah benar-benar sampai di dermaga terakhirnya.
Ternate di usia 27 tahun bukan hanya sedang sibuk menumpuk batu dan semen.
Di bawah kendali Tauhid dan “dedikasi” Rizal, kota ini sedang memulihkan martabatnya.
Mereka sedang memastikan bahwa sang nakhoda tidak mati dalam kesunyian yang jauh, melainkan beristirahat dalam pelukan doa rakyat yang tak putus-putus.
Sebab pada akhirnya, rumah bukanlah tempat kita bermula, melainkan tempat di mana kita akhirnya dipahami, diingat, dan diterima kembali.
Selamat Jalan Pulang Haji Burhan Abdurrahman.
Lahul Fatihah
Bumi Cibubur, 28 April 2026
Pukul : 17.15











