Oleh: M.Guntur Alting
(“Bagi banyak orang, Senin adalah monster, tapi bagi yang bijak ia adalah cermin”)
Saya sering merenung. Mengapa Senin begitu dibenci? Begitu ditakuti? Sampai ada istilahnya: “1 hate Monday” Aku benci hari Senin. Seolah-olah Senin itu hantu. Yang datang membawa “parang.”
Padahal Senin itu hari biasa. Sama seperti Selasa. Sama seperti Rabu. Mataharinya sama. Terbitnya dari timur juga.
Tapi bagi banyak orang, Senin itu beban. Berat sekali.
Secara sosiologis–ini menarik. Ada benturan. Antara kebebasan dan keterikatan.
Selama Sabtu dan Minggu, kita ini raja. Mau tidur sampai siang, silakan. Mau pakai kaos oblong sambil makan “mi instan,” boleh. Kita memegang kendali penuh atas nasib kita sendiri.
Lalu Senin datang. Tiba-tiba kendali itu dicabut.Kita harus pakai baju rapi. Harus datang tepat waktu. Harus duduk di depan komputer. Menghadapi atasan. Menghadapi target. Menghadapi tumpukan email yang isinya menagih janji.
Di situ masalahnya: transisi identitas. Dari manusia merdeka menjadi manusia organisasi. Perubahan mendadak inilah yang bikin batin berontak.
Saya sering bilang ke mahasiswa di FISIP UMJ. Hidup itu soal “manajemen energi.” Kalau kita membenci Senin, energi kita sudah habis sebelum berperang.
Bayangkan. Minggu sore sudah gelisah. Minggu malam tidak bisa tidur. Memikirkan besok. Padahal besok belum terjadi. Tapi “stresnya” sudah dicicil duluan. Rugi besar!
Dalam buku ” I Love Monday” karya Arvan Pradiansyah, Ia memberikan formula sederhana. “Jangan anggap Senin sebagai awal beban.” Anggaplah Senin sebagai awal kompetisi.
Dunia ini berlari begitu cepat. Sangat cepat. Kalau kita memulai minggu dengan cemberut, kita sudah kalah satu langkah dari orang yang memulai dengan lari.
Dulu, waktu studi di Birsbane-Australia, saya lihat orang-orang di sana. Mereka menikmati akhir pekan dengan total. Tapi Senin pagi? Mereka melesat.
Tidak ada waktu untuk mengeluh. Karena mereka tahu: hidup harus berjalan.
Kita sering terjebak dalam “ruang risiko”. Takut salah, takut gagal, takut ditegur. Akhirnya Senin jadi momok.
Padahal, Senin adalah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan minggu lalu. Senin adalah kertas putih. Masih bersih. Mau ditulis apa? Tergantung kita.
Jadi, mulai besok—atau Senin depan—cobalah sesuatu yang beda.
Jangan bangun dengan perasaan “Aah, Senin lagi.” Bangunlah dengan perasaan “Asyik, main lagi.”
Menurut para motivator, kerja itu anggap sajalah main. Kalau kerja dianggap beban, kita ini budak. Kalau kerja dianggap main, kita ini “maestro.”
Senin tidak akan pernah berubah jadi Minggu. Itu hukum alam. Yang bisa berubah adalah isi kepala kita.
Mau pilih mana? Menggerutu di balik meja, atau tersenyum sambil mengejar cita-cita?
Saya pilih yang kedua. Lebih sehat. Lebih produktif. Dan yang pasti, tidak bikin cepat tua.
Akhirnya dari pada menyebut “I Hate Monday, gantilah dengan menyebut “I Love Monday”
Selamat hari Senin !, Selamat bekerja keras!
Kaiibata, 27 April 2026
Pukuk : 05.10











