HALUT — Asosiasi Mahasiswa, Pemuda, dan Pelajar (AMPP) Tobelo, Galela, Malifut, Morotai, Loloda, Kao (TOGAMMOLOKA) Maluku Utara (MU) mengukuhkan posisinya sebagai organisasi paguyuban yang tangguh dan bertahan hingga saat ini.
Sejak didirikan pada 21 April 1999, organisasi ini terus kokoh melintasi berbagai dinamika hingga memasuki usianya yang ke-27 tahun.
Organisasi ini juga menjadi saksi sekaligus terlibat langsung dalam sejarah berdirinya Provinsi Maluku Utara. Sejak saat itu, organisasi tersebut dikenal sangat dinamis.
AMPP-TOGAMMOLOKA MU merupakan salah satu organisasi paguyuban yang dikenal sangat konsisten dan selalu hadir di tengah dinamika daerah, khususnya di wilayah Tobelo, Galela, Morotai, Malifut, Loloda, dan Kao, dengan fokus utama pada tanggung jawab sosial kemasyarakatan.
Hal ini ditegaskan oleh Wakil Bupati Halmahera Utara sekaligus Dewan Pembina dan salah satu pendiri AMPP-TOGAMMOLOKA MU, Dr. Kasman Hi. Ahmad, melalui video pendek pada selasa (21/04/2026).
Menurut Dr. Kasman, peran organisasi ini tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, melainkan wadah aktif yang menjangkau persoalan krusial yang memerlukan kritik konstruktif serta solusi nyata melalui gerakan di seluruh penjuru Maluku Utara.
“Ini menunjukkan bahwa AMPP-TOGAMMOLOKA terus eksis berperan dalam pembangunan, pemerintahan, pelayanan publik, dan ikut terlibat dalam urusan masalah-masalah sosial yang ada di Maluku Utara,” pungkasnya.
Senada dengan itu, Ketua AMPP-TOGAMMOLOKA MU, Muhammad Iram Galela, menyebut organisasi ini sebagai wadah belajar sekaligus inkubator bagi para intelektual daerah. Ia menilai semangat kultural menjadi kunci solidaritas organisasi di tengah perbedaan pandangan.
“Kami bersyukur organisasi ini tetap dinamis mengikuti perkembangan zaman. Semangat kultur membentengi kami untuk tetap solid. Saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah membersamai perjalanan kami,” ungkap Iram.
Iram menambahkan, AMPP-TOGAMMOLOKA juga memiliki nilai historis yang unik karena lahir di tengah gejolak daerah. Ia menyebut fenomena ini sebagai “Togammoloka Effect”, di mana organisasi berfungsi sebagai wadah rekonsiliasi bagi masyarakat.***













