TERNATE – Suasana kebersamaan dan harmoni antarumat beragama kembali menemukan momentumnya di Maluku Utara. Tahun ini, umat Islam yang tengah berada di penghujung bulan suci Ramadan 1447 Hijriah bertepatan dengan perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026.
Dua hari raya besar yang datang berdekatan ini dinilai sebagai kesempatan berharga untuk meneguhkan nilai toleransi, mempererat persaudaraan, serta menebarkan kedamaian di tengah masyarakat Maluku Utara, khususnya di Kota Ternate yang dikenal majemuk.
Pesan toleransi itu disampaikan Dr.Adnan Mahmud, MA., Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama atau FKUB Provinsi Maluku Utara.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Maluku Utara, Adnan Mahmud, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momen ini sebagai titik tolak memperkuat sikap saling menghargai di tengah perbedaan keyakinan.
“Di akhir Ramadan, umat Islam diajarkan untuk berbagi dan memperkuat tanggung jawab sosial. Nilai ini sejalan dengan semangat toleransi, yakni menghargai sesama manusia tanpa memandang perbedaan,” ujarnya.
Ia secara khusus mengimbau umat Islam untuk memberikan penghormatan kepada umat Hindu yang tengah menjalankan Nyepi. Bentuk penghormatan tersebut di antaranya dengan menjaga ketenangan lingkungan, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar pura.
“Pada tanggal 19 Maret, mulai pukul 06.00 hingga 18.00, diharapkan tidak membunyikan pengeras suara, termasuk pengajian di luar ruangan, sebagai wujud toleransi kepada saudara kita umat Hindu,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan secara bersama-sama.
Menurut sosok intelektual muda yang kini dipercaya menjabat Rektor IAIN Ternate ini, menciptakan suasana aman dan damai bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi juga seluruh masyarakat.
“Ketika lingkungan kita aman dan damai, umat beragama dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk. Itu artinya, kita semua telah berkontribusi menjaga harmoni sekaligus membantu tugas kepolisian sebagai pelayan masyarakat,” jelasnya.
Rektor IAIN ini berharap, momentum pertemuan dua hari raya ini diharapkan tidak hanya menjadi peristiwa seremonial, tetapi juga memperkuat fondasi kehidupan sosial yang rukun, damai, dan penuh kasih di Bumi Moloku Kie Raha.***














