banner 728x250
DAERAH  

KALA PROFESOR QURAYSH MENASEHATI PRESIDEN

  • Membasuh Wajah Kekuasaan dengan Air Kearifan

Oleh : M.Guntur Alting

Di tengah pilar putih yang tegak memandang Jakarta. Prabowo duduk takzim, menanggalkan baju kebesarannya.

Di depannya, Quraish Shihab mengurai makna kata—Bahwa takhta hanyalah jubah tipis yang dipinjamkan Sang Maha.

“Jangan terpukau pada kilau permata di gagang pedang,” Bisik sang ulama, saat senja mulai merambat tenang.

“Sebab kuasa sejati bukan tentang siapa yang kau tumbangkan. Tapi tentang berapa banyak air mata yang berhasil kau keringkan.”

Ruang kerja itu mendadak sunyi dari hiruk-pikuk siasat. Hanya ada getar suara mufasir yang melintasi sekat. Ia bicara tentang keadilan yang tak boleh pilih kawan. Tentang kasih sayang yang harus mendahului kemarahan.

Prabowo menyimak, mencatat setiap lekuk hikmah di kalbu. Menyadari bahwa di puncak gunung, angin berhembus menderu.

Bahwa pemimpin yang agung adalah dia yang berani setia pada bisikan nurani, di tengah riuh rendah pujian dunia.

–000–

Di jantung Jakarta, di mana keputusan-keputusan besar yang menentukan nasib jutaan rakyat diambil, suasana Istana Merdeka sering kali terasa tegang oleh urusan geopolitik dan angka-angka ekonomi.

Namun, sore itu, atmosfer ruang kerja Presiden Prabowo Subianto mendadak melunak.Di hadapannya, duduk seorang lelaki sepuh dengan sorot mata teduh dan tutur kata yang tertata—seorang mufasir ulung, Prof. Dr. M. Quraish Shihab.

Pertemuan ini bukanlah dialog antara penguasa dan rakyatnya, melainkan pertemuan antara kekuasaan (power) dan hikmah (wisdom).

–000-

Mahkota yang Dipinjamkan

Quraish Shihab memulai pembicaraannya dengan sebuah premis yang menggetarkan ego setiap pemimpin.

Beliau tidak berbicara tentang statistik kemiskinan atau alutsista, melainkan tentang hakikat kepemimpinan dalam kacamata Al-Qur’an.

“Bapak Presiden,” suara beliau tenang namun berwibawa, “Kekuasaan itu dalam bahasa agama disebut sebagai amanah, sesuatu yang dititipkan untuk dikembalikan, bukan milkiyyah atau hak milik yang abadi.

Di dalam Al-Qur’an, Allah mencabut kekuasaan dari satu kaum dan memberikannya kepada kaum yang lain. Itu artinya, kursi yang Bapak duduki hari ini adalah kursi yang panas oleh tanggung jawab, bukan empuk oleh kemewahan.”

Prabowo, yang dikenal sebagai sosok patriotik dan tegas, tampak merunduk. Beliau menyadari bahwa keberanian di medan tempur adalah satu hal, namun keberanian untuk tetap rendah hati di puncak kekuasaan adalah pertempuran yang jauh lebih besar—pertempuran melawan diri sendiri (jihad al-nafs).

–000–

Adil yang Menjangkau Musuh

Nasihat kemudian beralih pada tema keadilan. Quraish Shihab mengingatkan sang Presiden tentang ayat yang memerintahkan agar kebencian terhadap suatu kaum tidak membuat kita berlaku tidak adil.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil…” (QS. Al-Ma’idah: 8)

“Seorang Presiden bukan lagi milik partai atau kelompoknya,” lanjut Quraish Shihab.

“Bapak adalah payung bagi mereka yang memuji Bapak, dan benteng bagi mereka yang mencaci Bapak. Keadilan di dalam Istana haruslah seperti matahari; ia menyinari bunga yang mekar, tapi juga tetap menyinari semak yang berduri.

Jangan biarkan sisa-sisa persaingan politik menutup mata hati Bapak terhadap kebutuhan rakyat yang mungkin dulu tidak memilih Bapak.”

–000–

Antara Ketegasan dan Kasih Sayang

Sebagai pemimpin dengan latar belakang militer, Prabowo identik dengan ketegasan.

Namun, Quraish Shihab memberikan dimensi baru pada kata ‘tegas’. Beliau mengutip kisah Nabi Muhammad SAW yang meski memiliki otoritas penuh, tetap mengedepankan musyawarah dan kasih sayang.

Beliau menjelaskan bahwa kata Rahman (Kasih Sayang) dalam basmalah mendahului segala aktivitas.

Maka, kebijakan negara pun harus lahir dari rahim kasih sayang. Ketegasan tanpa kasih sayang adalah tirani, sementara kasih sayang tanpa ketegasan adalah kelemahan.

Seorang pemimpin yang hebat adalah yang mampu meletakkan pedangnya saat ia bisa menghunus, dan merangkul saat ia bisa menyingkirkan.

–000–

Ujian “Teman Terdekat”

Salah satu bagian paling krusial dalam nasihat tersebut adalah tentang lingkungan sekitar Presiden.

Quraish Shihab memperingatkan tentang bahaya “as-Sithonah”—orang-orang yang hanya membisikkan hal-hal yang menyenangkan telinga pemimpin demi kepentingan pribadi.

“Di sekeliling Bapak akan ada banyak orang yang berebut memberikan ‘Asal Bapak Senang’.

Tugas Bapak adalah mencari mereka yang berani ‘memukul’ nurani Bapak dengan kebenaran yang pahit.

Istana bisa menjadi penjara jika Bapak hanya dikelilingi oleh cermin yang memantulkan kehebatan Bapak.

Carilah orang-orang yang bisa menjadi jendela, yang memperlihatkan realitas rakyat di luar sana apa adanya.”

–000–

Doa untuk Bangsa

Pertemuan itu ditutup dengan doa. Bukan doa agar kekuasaan itu langgeng, melainkan doa agar sang pemimpin diberi kekuatan untuk menanggung beban yang berat tersebut.

Saat Quraish Shihab berpamitan, ada keheningan yang panjang di ruangan itu.

Presiden Prabowo mengantar sang ulama dengan tangan yang menjabat erat.

Di mata sang Presiden, mungkin kini ia melihat kekuasaan bukan lagi sebagai tujuan, melainkan sebagai alat untuk mengabdi.

Istana Merdeka, yang biasanya dipenuhi oleh hiruk-pikuk politik, sore itu kembali ke fungsinya yang paling suci: menjadi tempat merenung bagi seorang hamba Tuhan yang sedang diberi tugas menjaga bumi pertiwi.(***)

Cilandak, 11 Maret 2026
Pukul 12.50

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *