Oleh: Dr King Faisal Sulaiman
Pakar Hukum Tata Negara, dan Dr. Sofyan Abas Pakar Ekonomi dan Keuaangan.
Kekuasaan Prabowo- Gibran sesungguhnya berdiri di atas fondasi politik dan ekonomi yang masih rapuh, sebuah koalisi raksasa (big tent/coalition) yang saat ini merangkul hampir seluruh kekuatan politik di parlemen RI untuk menjamin stabilitas nasional. Namun, setelah berjalan dalam beberapa tahun pemerintahan, koalisi akomodatif ini mulai menunjukkan sisi gelapnya berupa gejala inefisiensi birokrasi, ego sektoral antar-kementerian, hingga lambatnya eksekusi program prioritas di lapangan.
Dalam situasi di mana ekspektasi publik sangat tinggi terhadap realisasi program strategis—seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), swasembada pangan, hilirisasi, dan penciptaan lapangan kerja—reshuffle (perombakan kabinet) bukan lagi sekadar sebuag opsi atau solusi politik, melainkan kebutuhan mendesak (urgent necessity).
1. Kinerja Menteri yang Belum “Gas Pol”: Beban ekonomi dan viskal di Tengah Krisis Global
Program-program prioritas strategis membutuhkan kecepatan eksekusi, ketepatan sasaran, dan inovasi manajerial tingkat tinggi haruslah terakselerasi. Faktanya, saat ini ada beberapa kementerian masih terjebak dalam ritme birokrasi konvensional, lambat merespons dinamika harga pangan, atau gagap mengoordinasikan rantai pasok di daerah.
• Evaluasi Berbasis Kinerja (Merit-Based Evaluation): Sejumlah menteri tampaknya dipilih lebih atas dasar kompromi pembagian jatah koalisi ketimbang rekam jejak profesionalitas dan kompetensi teknis di bidangnya.
• Dampak Negatif: Jika menteri-menteri yang lamban ini mereka dibiarkan bertahan hanya untuk menjaga *”keharmonisan koalisi”, maka presidenlah yang akan menanggung beban elektoral dan moral atas kegagalan berbagai macam program *unggulannya di mata rakyat .
2. Mengakhiri Ego Sektoral dan Hambatan Koordinasi Birokrasi
Salah satu penyakit kronis birokrasi Indonesia adalah ego sektoral (silo mentality). Kementerian A sering kali berjalan sendiri tanpa sinkronisasi data dan program dengan Kementerian B, padahal program prioritas bersifat lintas sektoral.
• Kasus Nyata (Contoh: Rantai Pasok Pangan & MBG): Program seperti Makan Bergizi Gratis, Pendirian lembaga ekonomi Koperasi Merah Putih (KMP) atau cetak sawah tidak bisa hanya dikerjakan oleh satu kementerian saja. Butuh koordinasi ketat antara Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Badan Gizi Nasional, Kementerian Perdagangan, hingga pemerintah daerah.
• Urgensi Perombakan : Reshuffle mendesak dilakukan untuk mencopot figur-figur yang gemar menciptakan sekat birokrasi dan menggantinya dengan figur teknokrat yang berorientasi pada hasil (output-driven), kolaboratif, serta mampu memangkas rantai birokrasi yang berbelit-belit.
3. Memutus Mata Rantai Konflik Kepentingan dan Bayang-Bayang Oligarki
Di tengah kritik publik terhadap potensi konflik kepentingan dalam penguasaan proyek-proyek strategis negara, keberadaan menteri ada yang merangkap jabatan Mentri/Wamen plus komisaris BUMN, sebagai pengusaha atau terafiliasi kuat dengan kelompok modal tertentu menjadi titik rentan legitimasi moral pemerintah.
• Menyelamatkan Kredibilitas Rezim: Ketika posisi strategis di kabinet diisi oleh figur yang bersih dari konflik kepentingan, persepsi publik tentang “negara yang disandera oligarki” dapat ditekan secara signifikan.
• Menunjukkan Strong Leadership: Reshuffle bisa digunakan sebagai sinyal politik yang sangat kuat (political signal) bahwa Presiden Prabowo tidak ragu-ragu mendepak pembantu yang menggunakan jabatannya untuk kepentingan kelompok atau bisnis pribadi.
4. Mengembalikan Public Trust di Tengah Tekanan Ekonomi
Rakyat akar rumput menilai sebuah pemerintahan bukan dari pidato kenegaraan yang megah, melainkan dari kestabilan harga kebutuhan pokok, kemudahan mencari lapangan kerja, dan efektivitas bantuan sosial yang tepat sasaran.
• Turunnya Kepercayaan: Jika ada menteri yang membuat kebijakan kontroversial, lamban merespons krisis harga pangan, atau terlibat polemik maladministrasi, maka ketidakpuasan tersebut akan langsung terakumulasi menjadi erosi public trust terhadap figur presiden secara keseluruhan.
• Penyegaran Politik: Melakukan reshuffle secara terukur membuktikan bahwa pemerintah peka terhadap denyut nadi rakyat dan tidak ragu melakukan koreksi arah di tengah jalan.
Reshuffle kabinet bagi pemerintahan Prabowo bukanlah bentuk kepanikan politik, melainkan alat sterilisasi dan akselerasi. Stabilitas politik formal di parlemen sudah tercapai melalui koalisi besar; kini saatnya beralih dari politik akomodasi menuju politik kinerja.
Dengan mendepak menteri yang inkompeten, sarat konflik kepentingan, atau gagal mengeksekusi program prioritas, presiden dapat menyelamatkan sisa masa jabatan untuk benar-benar menghadirkan kesejahteraan nyata bagi rakyat sekaligus meruntuhkan stigma negatif publik dan cendrung terjadi Distrus public atas kepemimpinan Prabowo-Gibran.-













