banner 728x250

PROFESOR

Oleh: M.Guntur Alting

​”Profesor, pada akhirnya, adalah yang tetap setia pada “kedalaman,” ditengah dunia yang kian memuja permukaan.”- (Rowena, Phone.D.)

PADA suatu hari di tahun 1988, di sebuah sudut di Kuala Lumpur, Prof.Syed Naquib al-Attas menuliskan sesuatu yang kini terasa seperti “ramalan” yang pedih.

Ia bicara tentang “Profesor”.Tapi ia tidak sedang bicara tentang “jabatan” yang mentereng, atau deretan kursi empuk di barisan depan sebuah upacara.

Ia bicara tentang sebuah “hakikat” yang kian hari kian menguap dari ruang-ruang kelas kita.

​Bagi Al-Attas, profesor bukanlah sebuah “ornamen.” Ia bukan simbol status yang bisa dipasang di depan nama agar orang-orang membungkuk hormat.

Profesor adalah sebuah penguasaan yang “sunyi” namun dalam. Ia adalah orang yang, ketika ia bicara, ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi sekadar definisi di buku teks, melainkan sesuatu yang hidup—sesuatu yang mampu mengetuk pintu kebenaran di kepala kita.

​Ada sebuah sindiran yang barangkali terdengar pahit di telinga: GBHN. Bukan (Garis-Garis Besar Haluan Negara), melainkan “Guru Besar Hanya Nama.”

Sindiran ini lahir ketika gelar lebih berat daripada isinya. Di sana, ilmu tidak lagi “bernapas” dalam argumen atau tulisan yang menggetarkan.

Melainkan hanya tertimbun dalam tumpukan CV dan syarat-syarat administratif yang membosankan.

Kita sering kali lebih sibuk mengurus kelayakan di atas kertas ketimbang membuktikan kelayakan di hadapan akal sehat.

​Al-Attas sendiri adalah sebuah “monumen.” Bayangkan: sebuah pidato pengukuhan yang tebalnya 105 halaman.

Itu bukan sekadar naskah. Itu adalah sebuah perjalanan melintasi “rimba” pemikiran.

Ia menjadikan panggung pengukuhan sebagai tempat untuk menguji kredibilitas, bukan sekadar acara potong tumpeng atau ritual bersalaman.

Namun hari ini, mungkinkah kita masih punya waktu—atau ketabahan—untuk membaca 105 halaman pemikiran?

Atau kita sudah terlalu terburu-buru oleh politik dan posisi?

​Krisis yang paling sunyi terjadi ketika seseorang dilantik namun kehilangan “jiwa keilmuan”.

Ia berdiri di depan mahasiswa, namun tidak mampu membimbing arah pemikiran.

Ia memiliki “otoritas,” tapi kehilangan wibawa untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Ketika politik menjadi tujuan dan jabatan menjadi satu-satunya puncak yang ingin didaki, gelar profesor berubah menjadi alat.

Ia menjadi kursi yang diduduki, tapi tidak lagi menjadi cahaya yang menyinari.

​Mungkin kita perlu bertanya kembali: di manakah tempat bagi ilmu yang murni di tengah pasar jabatan yang kian bising?

Profesor, pada akhirnya, adalah mereka yang tetap memilih untuk setia pada “kedalaman,” di tengah dunia yang kian memuja permukaan.

Tanpa itu, universitas hanyalah gedung-gedung yang bisu, dan gelar hanyalah tinta yang sia-sia.(***)

​Pejaten, 10 Mei 2026

Pukul: 03.10

Esai yang lebih dalam, bisa baca di :”MENGAPA KITA BUTUH LEBIH DARI SEKEDAR GELAR ? pada link:
https://gunturalting19-bwgcn.wordpress.com/2026/05/10/mengapa-kita-butuh-lebih-dari-sekadar-gelar/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *