banner 728x250

MEMOAR SINGKAT PERJALANAN AKADEMIK

  • Sebuah Maaf dan Terimakasih

Oleh: Dr. Mustaqim, S.Ag, M.Pdi

Dalam menjalani kehidupan, Allah sering kali menitipkan petunjuk-Nya melalui “lisan” seorang sahabat.

Perjalanan studi S3 di Universitas Muhammadiyah Jakarta ini bermula dari sebuah “ajakan” yang tulus dari seorang sahabat, Dr. Muhammad Guntur Alting, M.Si, yang hubungan persaudaraannya telah terajut sejak masa muda di tahun 1993.

Dalam kacamata agama, persahabatan yang saling mengajak kepada ilmu adalah salah satu bentuk keberkahan yang harus disyukuri.

Ketabahan dalam Kesulitan

Menuntut ilmu di usia paruh baya—kurang lebih 50 tahun—tentulah memiliki tantangan tersendiri yang tidak ringan.

Namun, kita perlu menyadari bahwa setiap kesulitan yang menyertai proses belajar adalah bentuk “pembersihan” diri.

Penulis mengalami ujian yang berat, mulai dari persoalan finansial hingga kesehatan keluarga, bahkan saat harus berangkat menuju seminar di Malaysia, kedua buah hati sedang diuji dengan sakit.

​Di sinilah relevansi nasihat Imam Syafi’i menjadi sangat bermakna:

“Barangsiapa tidak tahan dengan lelahnya belajar, maka ia harus tahan dengan pahitnya kebodohan”.

Ilmu memang menuntut pengorbanan, namun hasil dari kesabaran itu jauh lebih manis daripada kegelapan ketidaktahuan.

Teologi Rezeki dan Kearifan Lokal

Ada sebuah keindahan dalam kearifan leluhur di Tanah Mandar yang sejalan dengan pesan-pesan langit.

Keyakinan bahwa menuntut ilmu adalah salah satu pintu pembuka rezeki memberikan ketenangan batin bagi siapa pun yang sedang berjuang.

Hal ini pun mewujud secara nyata melalui kemurahan hati Bapak Rektor UMJ yang memberikan penghargaan bagi kader. Ini adalah bentuk saling tolong-menolong dalam kebajikan (ta’awun) yang sangat dianjurkan.

Kerendahhatian Intelektual

Puncak dari sebuah ilmu bukanlah kesombongan, melainkan karakter yang bersahaja dan intelektualitas yang unggul.

Melalui bimbingan para guru besar dan pimpinan universitas–seperti Prof. Masyitoh, Ibu Direktur Prof. Herwina Bahar, dan jajaran lainnya—penulis merasakan suasana yang menenangkan hati.

Inilah sejatinya lingkungan akademik yang islami: tempat di mana kecerdasan otak berpadu mesra dengan kelembutan hati.

Harapan untuk Masa Depan

Akhirnya, ilmu yang telah didapat ini diharapkan tidak berhenti pada gelar semata, melainkan menjadi manfaat yang mengalir ke cabang-cabang dan ranting kehidupan.

Saya mohon maaf atas segala khilaf, karena pada akhirnya, setiap kata yang saya tulis adalah ikhtiar untuk tetap berada di jalan “Fastabiqul Khairat.” (***)

Kalibaru, Senin 4 Mei 2026
Pukul: 10 : 40

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *