– Pesona Rum: Saat Kelopak Tabebuya Menyapa Dunia
Oleh: M.Guntur Alting
Saya menatap foto itu cukup lama. Sebuah jalanan di Rum, Tidore, yang biasanya riuh oleh deru mesin kendaraan menuju pelabuhan, tiba-tiba berubah menjadi sebuah “altar keindahan.”
Pohon-pohon Tabebuya di sana sedang mekar sempurna. Kelopaknya yang merah muda jatuh satu-satu, dipayungi langit biru yang jernih.
Orang-orang menyebutnya “Jepang di Maluku Utara”. Tapi bagi saya, ini lebih dari sekadar urusan mirip-miripan dengan negeri Sakura.
Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah kota bersalin rupa melalui kesabaran sebatang pohon.
-000-
Secara sains, Tabebuya adalah pengajar filsafat yang hebat. Ia adalah jenis “Handroanthus” yang punya harga diri tinggi.
Ia tak mau mekar saat hujan memanjakan bumi. Ia justru menunggu saat matahari sedang garang-garangnya, saat tanah retak dan sumur-sumur mulai kering.
Di puncak kemarau itulah, ia menggugurkan seluruh daunnya. Ia tampil “telanjang” dan rapuh, sebelum akhirnya meledakkan seluruh energinya menjadi ribuan bunga.
Ada pesan edukasi yang sunyi di sana: bahwa untuk mencapai puncak keindahan, ada fase di mana kita harus berani “menanggalkan” segala atribut yang tidak perlu.
Ia mengajarkan kita tentang resiliensi—kemampuan untuk tetap tegar dan justru memberikan yang terbaik di tengah situasi yang paling menekan.
Namun, di balik lensa kamera para pelancong yang haus konten, saya melihat ada sesuatu yang lebih menyentuh.
Tidore adalah tanah bersejarah, tempat di mana para Sultan pernah menentukan arah mata angin perdagangan dunia.
Kehadiran bunga-bunga ini seolah menjadi “perhiasan” baru yang pas bagi martabat kota ini.
Jika dulu Tidore dicari karena “harum cengkihnya,” kini ia dikunjungi karena kemolekan kelopaknya.
Ini adalah bentuk estetika demokratis. Keindahan yang tidak disekat oleh dinding galeri mewah, melainkan tersaji gratis bagi siapa saja yang lewat di jalanan Rum—mulai dari tukang ojek, nelayan, hingga pejabat kota.
Secara psikologis, fenomena ini adalah “sebuah oase.” Di tengah narasi media yang seringkali bising dan melelahkan, Tabebuya di Tidore hadir sebagai “soft fascination.”
Ia memaksa kita untuk berhenti sejenak, menurunkan gas motor, dan menyadari bahwa dunia masih punya sisi yang lembut.
Ia memberikan “sense of pride” bagi warga lokal. Bahwa keindahan kelas dunia tidak harus dicari di paspor, tapi bisa ditanam di halaman rumah sendiri.
-000-
Tapi, ada satu kekhawatiran yang mengusik saya. Keindahan ini bersifat “ephemeral,” hanya sementara. Dalam beberapa minggu, bunga itu akan layu dan jalanan kembali biasa.
Inilah ujian sebenarnya bagi kita. Apakah kita akan tetap mencintai pohon-pohon itu saat mereka hanya berupa ranting kering yang tak bisa dipajang di Instagram?
Seringkali kita hanya mencintai hasil, tapi abai pada proses. Padahal, keindahan di Rum itu adalah akumulasi dari tahun-tahun pertumbuhan yang sunyi, dari akar yang mencari celah di tanah vulkanik, dan dari ketabahan warga yang tidak menebangnya saat ia belum berbunga.
Melihat Tabebuya di Tidore adalah melihat “sebuah janji.” Bahwa jika kita mau sedikit lebih sabar merawat alam, alam akan membalasnya dengan cara yang tak terbayangkan.
Tidore tidak perlu “menjadi Kyoto” untuk menjadi agung. Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri: sebuah pulau sejarah yang kini tahu cara merayakan musim kemarau dengan pesta bunga.
Sore itu, di bawah guguran kelopak di Rum, saya sadar: keajaiban itu tidak jauh. Ia hanya sejauh kemauan kita untuk menanam dan merawat harapan.(***)
Lembah Cinere-Depok, 2 Mei 2026
Pukul : 19.05











