banner 728x250

Refleksi Hardiknas || EDUCERE :​–Menuntun Keluar atau Menjinakkan?

Oleh: M.Guntur Alting

Mungkin kita terlalu sering merayakan sekolah sebagai sebuah “monumen,” padahal ia seharusnya adalah sebuah “perjalanan.”

​Setiap tanggal 2 Mei, kita berbaris, mengenang seorang lelaki bernama Ki Hadjar, sembari memakai seragam yang kaku—seolah-olah dengan kerapihan itu, kegelapan di kepala kita otomatis sirna.

Namun, benarkah pendidikan adalah sebuah upacara?

​Dalam sejarah yang panjang, pendidikan sering kali menjadi usaha untuk “menjinakkan”. Kita membawa anak-anak dari riuhnya padang bermain ke dalam kotak-kotak kelas yang persegi.

Di sana, mereka diminta duduk diam, mendengarkan kebenaran yang sudah dipaketkan dalam kurikulum, dan diuji dengan soal-soal pilihan ganda yang tidak memberi ruang bagi keraguan.

Padahal, pengetahuan yang sejati selalu bermula dari keraguan.

​Kita sering lupa bahwa kata “educere”, akar dari pendidikan, berarti “menuntun keluar”. Ia bukan “memasukkan” sesuatu ke dalam kepala, melainkan mengeluarkan potensi yang tersembunyi.

Namun lihatlah kita hari ini. Di tengah deru teknologi yang kian cepat, sekolah sering kali berubah menjadi pabrik.

Kita mendidik anak-anak untuk menjadi efisien, produktif, dan menjadi sekrup yang patuh dalam mesin besar ekonomi. Kita melupakan satu hal: “manusia bukan sekadar alat.”

​Ada yang hilang ketika pendidikan hanya dikejar sebagai statistik. Kita mungkin berhasil menaikkan “angka literasi,” tapi apakah kita berhasil menanamkan kecintaan pada kebenaran?

Kita punya ribuan sarjana, tapi apakah kita punya cukup manusia yang berani berdiri tegak ketika ketidakadilan terjadi di depan mata?

​Pendidikan yang sejati adalah sebuah “perjumpaan”—perjumpaan antara rasa ingin tahu seorang murid dengan kearifan seorang guru. Dan dalam perjumpaan itu, tidak boleh ada paksaan.

Guru yang baik bukanlah ia yang memberikan kunci jawaban, melainkan ia yang berani “membiarkan” muridnya tersesat sebentar di dalam rimba pemikiran, agar sang murid tahu bagaimana cara menemukan jalan pulang dengan kakinya sendiri.

​Barangkali, Hardiknas kali ini adalah saat bagi kita untuk menanggalkan segala atribut yang berisik itu. Kembali ke “inti yang paling sunyi”: bahwa belajar adalah proses merawat nyala lilin di tengah badai.

Ia kecil, ia lirih, dan ia sering kali tampak rapuh. Namun, dalam keremangannya, ia adalah satu-satunya yang bisa menjaga kita agar tidak benar-benar buta.

​Di luar sana, pagi mulai pecah. Di sekolah-sekolah yang jauh, seorang anak mungkin sedang mengeja sebuah kata dengan susah payah.

Di situlah, di dalam kesulitan dan usaha yang tulus itu, pendidikan sedang terjadi. Bukan di dalam pidato-pidato yang megah.

Selamat Hari Pendidikan.

Semoga kita tetap “menjadi murid,” bahkan ketika kita merasa sudah tahu segalanya.

Sebuah Pertanyaan:

Jika pendidikan adalah upaya untuk memerdekakan manusia, mengapa sering kali kita justru merasa terbebani olehnya?

Di titik manakah sekolah berhenti menjadi ruang pembebasan dan mulai menjadi ruang pendisiplinan yang dingin?

Lembah Cinere, 2 Mei 2026
Pukul: 10.21

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *