- Ketika Belati Menulis Takdir
Oleh: M.Guntur Alting
Di bandara, setiap pintu kedatangan biasanya adalah gerbang menuju pelukan. Ada rindu yang tuntas saat kaki menyentuh lantai marmer.
Ada senyum yang merekah saat melihat wajah-wajah familiar menanti di balik pagar pembatas.
Namun, bagi Agrapinus Rumatora—yang lebih kita kenal sebagai Nus Kei—Bandara Karel Sadsuitubun pada Minggu siang itu berubah menjadi panggung bagi sebuah “tragedi” yang tak sempat ia tuliskan skenarionya.
Jika meminjam “Sosiological Imaginaton” Wrigt Mills, saya membayangkan Nus Kei melangkah turun dari tangga pesawat dengan pikiran yang mungkin masih tertinggal di Jakarta.
Mungkin ia sedang memikirkan agenda Musda Golkar yang tinggal hitungan hari, atau mungkin sesederhana membayangkan aroma kopi siang di rumahnya.
Matahari Maluku Tenggara sedang terik-teriknya, 19 April 2026. Segalanya tampak normal, hingga sebuah kilatan logam memutus segala rencana.
-000-
Takdir yang “Dipotong” di Tengah Jalan
Dalam sebuah esai klasiknya, seorang sainstis ilmu sosial pernah berujar bahwa “politik adalah seni mengelola konflik tanpa kekerasan.”
Namun, apa yang terjadi di bandara siang itu adalah antitesis dari politik. Ia bukan lagi perdebatan ideologi di podium, melainkan eksekusi “gaya premanisme” yang tak menyisakan ruang bagi kata-kata.
Pelaku datang bukan untuk berdialog. Ia datang dengan amarah yang telah mengkristal menjadi dendam.
Dalam hitungan detik, serangan itu terjadi. Brutal dan tanpa basa-basi. Nus Kei, sang tokoh elit, sang nakhoda politik daerah, mendadak kehilangan “boarding pass” kehidupannya.
Di hadapan amarah yang meledak, jabatan mentereng hanyalah atribut yang tak berdaya menahan tajamnya belati.
Secara medis, kita bisa bicara tentang robeknya pembuluh darah atau turunnya tekanan drastis. Namun secara sosiologis, yang robek sebenarnya adalah rasa aman kita.
Jika bandara—sebuah objek vital dengan pengamanan berlapis—bisa ditembus oleh “belati dendam”, maka di sudut mana lagi di negeri ini kita bisa menyandarkan bahu dengan tenang?
-000-
Wabah “Kekerasan Berjamaah”
Kejadian ini membawa ingatan saya terbang ke Lumajang. Di sana, belum lama ini, seorang Kepala Desa juga harus menyerah di ujung celurit yang diayunkan oleh sepuluh orang sekaligus.
Ada pola yang mengerikan yang sedang menjangkiti sosiologi kita: sebuah “event kekerasan berjamaah”.
Seolah-olah, manusia kita hari ini sedang mengalami degradasi logika. Begitu amarah naik ke ubun-ubun, akal sehat seolah mengalami shutdown.
Kita lebih memilih “jalan tol” menuju penjara atau liang lahat ketimbang jalan setapak menuju rekonsiliasi.
Padahal, jika kita mau sedikit bersabar, banyak masalah besar yang bisa luruh hanya dengan segelas kopi dan keinginan untuk saling mendengar.
Namun, dendam memang seperti api dalam sekam. Ia tidak butuh bensin untuk meledak, ia hanya butuh hembusan angin kecil dari sebuah gesekan ego.
Di Maluku Tenggara, dendam lama itu meledak di waktu yang paling tidak tepat, di tempat yang paling tidak semestinya.
-000-
Ketika Rumah Berubah Menjadi Arena
Dampaknya bukan sekadar statistik kematian. Politik daerah goyang, Musda ditunda, dan sebuah organisasi besar kini limbung kehilangan pemimpinnya.
Tapi yang paling perih adalah pesan yang ditinggalkan: bahwa kekerasan kini telah menjadi “bahasa” baru dalam menyelesaikan sengketa.
Polda Maluku memang bergerak cepat. Pelaku ditangkap. Namun, tugas kita—dan negara—bukan sekadar menangkap tangan yang mengayunkan pisau.
Tugas yang lebih berat adalah memadamkan api dendam di dalam kepala. Karena jika dendam dibiarkan tumbuh subur dengan pupuk ego dan kepentingan, maka hukum hanyalah macan kertas.
Akhirnya, kita harus merenung. Apakah kita ingin terus hidup di sebuah “arena” di mana setiap orang adalah gladiator bagi orang lain?
Ataukah kita ingin kembali ke sebuah “rumah” di mana keamanan bukan karena dijaga polisi, melainkan karena kita saling menghargai nyawa?
Ingatlah, pisau itu punya sifat yang dingin dan statis. Ia tidak pernah menyelesaikan masalah. Ia hanya memindahkan alamat masalah tersebut: dari keriuhan dunia yang fana, ke dalam kesunyian liang lahat yang abadi.
Dan di sana, di balik pintu kedatangan yang kini bernoda darah, kita semua sedang menunggu: kapan kita benar-benar bisa “landing” dengan selamat di sebuah negeri yang menjunjung tinggi kemanusiaan? (***)
Ciputat, 20 April 2026
Pukul : 12.01











