Catatan Bung Pimred
Di pagi yang masih menyimpan sisa embun di landasan Bandara Sultan Baabullah, sebuah gestur sederhana berubah menjadi simbol arah baru pembangunan. Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, memilih hadir langsung menjemput tamu penting—bukan sekadar seremoni, melainkan isyarat keseriusan pemerintah daerah dalam menjemput peluang.
Kedatangan perwakilan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia bersama manajemen Hotel Borobudur Jakarta bukan agenda biasa. Ia adalah pintu masuk bagi Ternate untuk memperluas napasnya, membawa identitas lokal ke ruang yang lebih luas—nasional hingga internasional.
Di balik penyambutan itu, tersimpan sebuah gagasan besar: menjadikan potensi lokal sebagai poros pembangunan. Bagi Rizal Marsaoly, pembangunan tidak selalu harus dimulai dari proyek raksasa. Ia bisa tumbuh dari dapur-dapur kecil UMKM, dari aroma rempah yang menguar, dari cerita panjang sejarah perdagangan yang pernah menjadikan Ternate simpul dunia.
Program APEKSI Discovery menjadi jembatan yang menghubungkan itu semua. Lewat kerja sama ini, Ternate tidak hanya “datang” ke Jakarta, tetapi membawa identitasnya—kuliner, budaya, dan narasi Kota Rempah—ke ruang strategis seperti Hotel Borobudur yang selama ini menjadi persinggahan tamu-tamu global. Sebuah panggung yang selama ini jauh, kini didekatkan dengan strategi.
Langkah ini mencerminkan pendekatan yang lebih visioner: pembangunan berbasis keunggulan lokal. Ketika banyak daerah berlomba menarik investasi besar, Ternate justru memperkuat fondasinya dari dalam—memoles produk UMKM, menyeleksi kuliner berbasis gastronomi, dan mengemasnya dalam city branding yang kuat.
Rizal tampaknya memahami bahwa di era kompetisi antar daerah, identitas adalah kekuatan. Ternate tidak perlu menjadi kota lain untuk berkembang. Ia cukup menjadi dirinya sendiri—Kota Rempah—namun dengan strategi promosi yang tepat dan jejaring yang kuat.
Kolaborasi dengan APEKSI dan Hotel Borobudur menjadi contoh bagaimana pemerintah daerah bisa memainkan peran sebagai fasilitator, bukan sekadar regulator. Pemerintah hadir membuka akses, mempertemukan potensi lokal dengan pasar yang lebih luas, serta memastikan pelaku UMKM tidak berjalan sendiri.
Lebih dari sekadar penandatanganan MoU yang direncanakan, langkah ini adalah investasi jangka panjang pada citra dan daya saing daerah. Ketika kuliner Ternate tampil di meja-meja internasional, yang ikut terangkat bukan hanya rasa, tetapi juga cerita tentang sejarah, budaya, dan identitas masyarakatnya.
Di titik inilah, pembangunan menemukan maknanya yang lebih dalam. Bukan hanya tentang angka pertumbuhan, tetapi tentang bagaimana sebuah daerah mengenali dirinya, lalu berani membawanya ke dunia.
Dan di pagi itu, dari sebuah bandara di Ternate, langkah kecil itu telah dimulai.***
Di Kopi Literasi, Maluttv, Depan Taman Nukila
31 Maret 2026
















