- Catatan dari Mengikuti Forum “World Social Work Day” di Jakarta, 30 Maret 2026.
Oleh: M.Guntur Alting
ADA sebuah kata ajaib dari tanah Afrika, kata itu adalah “Harambee.” Dalam catatan ini, kembali kita menyelami apa yang mereka sebut sebagai panggilan Harambee.
Harambee adalah seruan budaya Afrika yang bermakna “bekerja bersama demi kebaikan bersama”. Di tanah kita, ia adalah saudara kembar dari gotong royong.
Harambe, bukan sekadar mantra dari Afrika
Kata itu terdengar asing, namun sebenarnya ia mengalir dalam darah kita.
Ia adalah sepupu dekat dari filosofi “Ubuntu atau Tat Twam Asi”—sebuah kesadaran purba bahwa “I am because we are” (Aku ada karena kita ada).
Namun bagi saya, Harambee adalah sebuah doa sosiologis di tengah dunia yang kian retak.
Hari ini, 30 Maret 2026, para pekerja sosial kita berkumpul di Jakarta. Mereka tidak sedang sekadar berupacara. Mereka sedang menjawab sebuah panggilan zaman yang krusial.
–000–
Mengapa perayaan World Social Work Day (WSWD) tahun ini menjadi begitu penting?
Saya mencatat ada lima alasan fundamental mengapa “Panggilan Harambee” ini adalah kunci bagi masa depan kita:
Pertama, Merajut Kembali Masyarakat yang Terbelah.
Kita hidup di era di mana polarisasi menjadi menu harian. Konflik, ketimpangan, hingga krisis iklim membuat masyarakat mudah terfragmentasi.
Tema global WSWD 2026—Co-Building Hope and Harmony—adalah sebuah manifesto untuk membangun kembali harapan di atas puing-puing perpecahan.
Pekerja sosial adalah “penjahit” sosial yang menyatukan kembali kain kebangsaan yang robek.
Kedua, Jantung Profesionalisme: SKKNI.
Inilah yang paling krusial. IPSPI (Independen Pekerja Sosial Profesional Indonesia) sedang mendorong transformasi besar melalui Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).
Mengapa?
Karena kebaikan hati saja tidak cukup. Untuk menangani masalah kemiskinan, adiksi, hingga perlindungan anak, kita butuh tenaga ahli yang tersertifikasi, kompeten, dan memiliki akuntabilitas tinggi.
Ketiga, Panorama Praktik:
Kehadiran di Setiap Sudut Pekerja sosial kita kini hadir di hampir semua lini kehidupan. Lewat berbagai Lembaga Otonom (LO), mereka bergerak dari urusan medik, bencana, hingga sistem peradilan dan koreksional.
Mereka adalah garda terdepan yang menjaga agar tak ada satu pun warga negara yang terjatuh dan tertinggal di celah-celah pembangunan.
Keempat, Estafet di Tangan Anak Muda
Saya takjub melihat keterlibatan aktif mahasiswa dalam perayaan ini melalui segmen “Bianglala Pekerja Sosial Muda”.
Sebuah profesi hanya akan abadi jika ia dicintai oleh generasi penerusnya.
Menjadikan mahasiswa sebagai motor penggerak adalah strategi cerdas untuk memastikan api idealisme pekerjaan sosial terus menyala.
–000–
Profesionalisme: Jantung yang Berdenyut
Seringkali, pekerjaan sosial dianggap sebagai kerja-kerja “relawan” yang hanya bermodalkan niat baik.
Namun, dalam pertemuan nasional yang digagas oleh Independen Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) ini, ada satu agenda yang sangat bertenaga: pemaparan hasil Konvensi Nasional SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) untuk Pekerja Sosial.
Ini adalah langkah besar. Mengapa?
Karena kasih sayang saja tidak cukup untuk menangani trauma anak, kompleksitas adiksi, atau karut-marut sistem peradilan.
Profesionalisme adalah harga mati. Dengan SKKNI, para pekerja sosial ingin menegaskan bahwa mereka adalah para ahli yang bekerja dengan metodologi, bukan sekadar intuisi.
–000–
Panorama Praktik: Dari Ruang Medik hingga Jeruji Besi
Jika Anda melihat ke dalam aula acara, Anda akan menemukan sebuah “Panorama Praktik”.
Ada sembilan Lembaga Otonom (LO) yang memamerkan kerja-kerja sunyi mereka:
- APSAKI yang berjibaku dengan isu anak dan keluarga.
- APSOSPEKSI yang masuk ke celah-celah sistem peradilan dan koreksional.
- APSANI yang memulihkan mereka yang terjebak dalam gelapnya napza.
Serta asosiasi lainnya yang menangani disabilitas, bencana, hingga kaum lansia.
Mereka adalah “penjahit” sosial yang bekerja di ceruk-ceruk paling sulit dalam kehidupan bernegara kita.
–000–
Harapan di Tangan Anak Muda
Satu hal yang membuat hati saya hangat adalah kehadiran para mahasiswa yang tergabung dalam “Wahima dan Forkomkasi.”
Lewat segmen “Bianglala Pekerja Sosial Muda”, mereka menunjukkan bahwa estafet kepedulian ini tidak akan putus.
Mereka adalah mesin penggerak masa depan yang memastikan bahwa idealisme pekerjaan sosial tetap menyala di kampus-kampus kita.
Akhirnya, seorang penyair pernah berkata, “Tak ada orang yang menjadi pulau bagi dirinya sendiri.” Kita saling membutuhkan.
Puncak Perayaan WSWD 2026 adalah pengingat bahwa di balik angka-angka pertumbuhan ekonomi, ada jiwa-jiwa yang butuh dirangkul.
Selamat Hari Pekerjaan Sosial Sedunia. Mari kita jawab panggilan Harambee ini dengan kerja nyata, demi Indonesia yang lebih inklusif dan harmonis.
30 Maret 2026
















