Oleh: M.Guntur Alting
SABTU itu, 28 Maret 2026, Washington DC bukan lagi kota yang tertib dengan barisan pohon ceri yang mulai menyapa musim semi.
Kota itu berubah menjadi palagan kesadaran. Dari jendela-jendela apartemen di New York hingga trotoar sempit di San Francisco, sebuah gelombang manusia tumpah. Angkanya tak main-main: 8 juta jiwa.
Saya membayangkan, jika jutaan orang itu berdiri berjajar, mereka bisa membentuk barisan yang menyambungkan harapan dari satu samudera ke samudera lainnya.
Mereka menenteng poster dengan tulisan yang ringkas namun menusuk hulu hati: No Kings. Tanpa Raja.
Ada apa dengan Amerika? Mengapa negeri yang selama ini kita anggap sebagai “Katedral Demokrasi” tiba-tiba berteriak ketakutan akan hadirnya seorang raja?
–000–
Trump dan Bayang-Bayang Mahkota
Donald Trump, sang tokoh utama dalam drama ini, sepertinya sedang menulis ulang naskah kepemimpinannya dengan tinta yang terlalu pekat. Bagi para pengunjuk rasa, Trump bukan lagi sekadar presiden yang dipilih lewat bilik suara.
Ia mulai terlihat seperti figur yang ingin memahat wajahnya sendiri di atas hukum, seolah-olah konstitusi hanyalah lembaran kertas usang yang bisa ditekuk sesuka hati.
Gaya kepemimpinannya yang “unpredictable” yang dulu dianggap segar bagi pendukungnya—kini dirasakan sebagai ancaman. Kebijakan domestiknya yang kontroversial, yang sering kali menabrak pakem-pakem kepantasan politik, telah menciptakan jurang pemisah yang lebar.
Rakyat Amerika yang dibesarkan dengan dongeng tentang kebebasan, tiba-tiba merasa sedang dipaksa memakai seragam kepatuhan yang sempit.
Narasi “No Kings” adalah sebuah pengingat pahit. Amerika lahir dari keringat dan darah para pemberontak yang muak pada tirani Raja
George III. Kini, di tahun 2026, mereka merasa hantu tirani itu datang lagi, namun kali ini ia mengenakan dasi merah panjang dan duduk di Ruang Oval.
Mesiu di Iran, Luka di Rumah Sendiri
Namun, ada satu sumbu pendek yang meledakkan kemarahan ini: Perang di Iran.
Kita tahu, perang selalu punya logika yang dingin.
Di meja-meja petinggi militer, ia mungkin hanya soal pergeseran bidak catur geopolitik. Namun bagi ibu-ibu di Ohio atau anak muda di Michigan, perang adalah panggilan telepon tengah malam yang membawa kabar duka.
Ia adalah anggaran triliunan dolar yang menguap menjadi asap mesiu, sementara di dalam negeri, sistem kesehatan dan pendidikan sedang megap-megap mencari napas.
Keterlibatan Trump dalam konflik Iran dipandang sebagai pengkhianatan terhadap janji-janji masa lalunya. Rakyat merasa sedang diseret ke dalam lubang hitam yang tak berujung.
Mereka sadar bahwa perang hanya akan memperkaya industri senjata, sementara rakyat jelata hanya mendapat bagian berupa air mata dan inflasi yang mencekik leher.
Kekuatan “Street Democracy”
Melihat 8 juta orang turun ke jalan, saya teringat pada tesis tentang Street Democracy. Bahwa ketika saluran resmi—kongres, pengadilan, hingga media massa—dianggap telah lumpuh atau “dijinakkan” oleh kekuasaan, maka jalanan adalah satu-satunya panggung yang tersisa.
Aksi “No Kings” ini adalah sebuah festival perlawanan yang sangat organik. Di sana ada anak muda Gen Z yang fasih dengan tagar, ada veteran perang yang merasa dikhianati, hingga warga kulit putih pinggiran yang mulai sadar bahwa retorika “Make America Great Again” ternyata tidak menyertakan piring makan mereka.
Di era digital 2026, mobilisasi ini melesat lebih cepat dari peluru. Informasi tak lagi bisa dibendung oleh tembok Gedung Putih. Rakyat menjadi kurator informasinya sendiri, dan mereka bersepakat pada satu hal: demokrasi tidak boleh berubah menjadi monarki.
–000–
Sebuah Catatan Akhir
Apa yang bisa kita petik dari gemuruh di Amerika ini?
Sejarah selalu mengajarkan bahwa kekuasaan itu ibarat air. Jika ia dibiarkan tergenang terlalu lama dalam satu wadah tanpa sirkulasi, ia akan membusuk.
Demonstrasi “No Kings” adalah cara rakyat Amerika untuk menjebol sumbat bendungan yang mampet itu.
Bagi kita yang menyaksikan dari jauh, ini adalah pelajaran berharga tentang “kewaspadaan abadi”.
Bahwa demokrasi bukanlah barang mati yang sekali beli lalu awet selamanya. Ia adalah tanaman yang harus disiram setiap hari dengan kritik, dijaga dengan integritas, dan dipupuk dengan keberanian untuk berkata “tidak” pada penguasa yang mulai merasa diri sebagai tuhan atau raja.
Di Washington, fajar mungkin belum menyingsing dengan tenang. Namun, 8 juta pasang kaki yang menghentak aspal telah mengirim pesan yang sangat jernih ke seluruh penjuru bumi: Mahkota tidak punya tempat di kepala seorang pelayan rakyat. (***)
Pejaten Barat, 29 Maret 2026
Pukul : 18.10
















