banner 728x250

DI MONAS, KITA JEMPUT BAHAGIA YANG SEDERHANA

Oleh: M. Guntur Alting

Pagi itu, Jakarta seolah kehilangan wajah aslinya yang kaku dan penuh sekat. Di bawah bayang-bayang tugu Monas yang angkuh menjulang.

Saya melihat pemandangan yang tak biasa, ribuan orang, dari emak-emak yang menggendong balita hingga bapak-bapak berkaus oblong, berjalan beriringan menuju satu titik.

Mereka bukan datang untuk demonstrasi yang penuh urat leher tegang. Mereka datang untuk menjemput sebuah janji sederhana: makan gratis dan belanja murah di “halaman rumah” pemimpinnya.

​Presiden Prabowo Subianto baru saja melakukan sebuah eksperimen sosiologis yang berani. Ia menyulap halaman Istana—ruang yang selama ini sakral, dingin, dan dipagari barikade protokol—menjadi sebuah pasar rakyat raksasa.

Triliunan rupiah digelontorkan dalam sehari. Para pengamat ekonomi mungkin akan sibuk menghitung angka di atas kalkulator, tapi di lapangan, yang saya lihat adalah sebuah Ekonomi Karnaval.

–000–

Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

​Dalam kacamata sosiologi, apa yang kita saksikan di Monas adalah sebuah katarsis kolektif. Kita hidup di era yang melelahkan.

Di luar sana, dunia sedang dihantam badai ketidakpastian. Inflasi merayap naik, perang berkecamuk di kejauhan, dan algoritma media sosial terus-menerus menyuntikkan kecemasan ke dalam nadi kita.

Dalam tekanan yang begitu pekat, manusia membutuhkan jeda. Mereka butuh saluran untuk melepaskan ketegangan.

​Di sinilah Ekonomi Karnaval bekerja. Ia tidak datang sebagai angka-angka subsidi yang dingin di layar ATM. Ia datang sebagai “panggung kebahagiaan.”

Ketika seseorang mengantre kupon bersama ribuan orang lainnya, lalu pulang membawa sekarung beras dan senyum di wajahnya, ada sebuah ikatan batin yang kembali tersambung.

Ia merasa negara tidak lagi jauh. Ia merasa negara hadir, bukan sebagai mesin birokrasi yang rumit, melainkan sebagai sosok yang hangat dan bisa disentuh.

​Saya teringat konsep desakralisasi ruang. Selama ini, Istana adalah “Menara Gading.” Ia intimidatif. Namun, hari itu, pagar-pagar psikologis itu runtuh. Rakyat seolah diberi izin untuk “memiliki” pusat kekuasaan, walau hanya untuk sehari.

Ini adalah politik simbolik yang sangat kuat. Prabowo sedang mengirim pesan bahwa kekuasaan tidak harus berjarak. Ia bisa menjadi domestik, ia bisa menjadi kekeluargaan.

–000–

​Tentu, ada sosok Seskab Teddy yang sibuk mondar-mandir, meminta maaf atas antrean yang mengular. Di balik seragam dan ketegasannya, ada pesan manajerial yang jelas: pemerintah sedang menguji nyali logistiknya.

Mengatur ratusan ribu orang dalam satu waktu tanpa kerusuhan adalah prestasi tersendiri. Ini adalah manajemen kerumunan yang disiplin, namun tetap punya sisi manusiawi.

​Namun, di balik kegembiraan itu, sebuah tanya tetap menggantung di benak saya. Sesuatu yang luar biasa, jika dilakukan terus-menerus, akan kehilangan magisnya.

Jika “Pesta Rakyat” ini menjadi rutinitas, mampukah kita menjaga agar ia tetap menjadi momen yang sakral dan bukan sekadar rutinitas yang menjemukan?

​Sore itu, saat matahari perlahan turun di ufuk Jakarta, saya melihat seorang bapak tua duduk di pinggir jalan, memandangi kupon di tangannya dengan mata berbinar.

Barangkali bagi dia, triliunan rupiah itu abstrak. Tapi rasa kenyang dan perasaan dihargai oleh negaranya adalah sesuatu yang nyata.

–000–

​Pada akhirnya, Ekonomi Karnaval adalah tentang memanusiakan kembali hubungan antara penguasa dan yang dikuasai.

Di Monas, kita tidak hanya melihat perputaran uang, tapi kita melihat kembalinya sebuah harapan yang sempat layu di tengah gempuran kecemasan global.

​Pertanyaannya sekarang, mampukah kehangatan di Monas ini menjalar hingga ke gang-gang sempit di Ternate, atau ke pasar-pasar tradisional di pelosok negeri?

Karena sejatinya, setiap rakyat, di mana pun mereka berada, berhak mendapatkan panggung kebahagiaannya sendiri.(***)

Kalibata, 28 Maret 2026
Pukul : 14.10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *