banner 728x250

Catatan Bung Pimred — RM Halal Bihalal di Mangga Dua: The Power of Silaturahmi

Langit sore di Mangga Dua terasa lebih hangat dari biasanya. Di halaman Masjid At-Taubah, tawa anak-anak berlarian berpadu dengan sapaan hangat antarwarga yang lama tak bersua. Sabtu, 28 Maret 2026 itu, bukan sekadar pertemuan biasa—ia menjelma menjadi ruang pulang bagi rasa, tempat di mana silaturahmi kembali dirajut dengan sederhana namun penuh makna.

Keluarga besar RW 001 Mangga Dua, Kecamatan Ternate Selatan, menggelar halal bihalal sebagai ikhtiar merawat kebersamaan yang selama ini menjadi denyut kehidupan lingkungan. Kursi-kursi yang tersusun rapi tak hanya menampung tubuh, tetapi juga harapan akan hubungan sosial yang kian erat.

Di tengah suasana yang cair dan akrab itu, Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, hadir membawa pesan yang sederhana namun mendalam: silaturahmi adalah fondasi dari segala bentuk kerukunan.
“Silaturahmi dan saling maaf-memaafkan adalah kunci dari semuanya. Bagaimana menjaga kerukunan dan kebersamaan, itu dimulai dari halal bihalal,” ujarnya, disambut anggukan warga yang memahami betul arti kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Waktu seolah melambat, memberi ruang bagi setiap kata untuk mengendap. Dari obrolan ringan hingga pesan-pesan penuh makna, semua mengalir dalam suasana yang tanpa sekat. Di situlah, kekuatan silaturahmi menemukan bentuknya—tidak megah, tetapi mengakar.

Rizal kemudian mengingatkan, bahwa pembangunan tak selalu dimulai dari hal-hal besar. Justru, dari kebersamaan kecil di tingkat lingkunganlah, fondasi kota dibangun.

Ia menegaskan bahwa setiap kegiatan masyarakat, sekecil apa pun, harus bertumpu pada kekompakan. Sebab, dari situlah energi kolektif lahir—energi yang mampu menggerakkan program pembangunan hingga ke level paling bawah.

Dari Masjid di puncak kelurahan Mangga Dua itu, Rizal seolah menegaskan visinya –Bersinergi itu Energi.

Pemerintah Kota Ternate, lanjutnya, tidak bisa berjalan sendiri. Ada peran warga yang menjadi nadi, yang menghidupkan setiap kebijakan agar benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Insya Allah, hari ini kita punya satu visi yang sama untuk menjadikan Kota Ternate lebih maju ke depan,” katanya, dengan nada optimistis yang menyatu dengan semangat warga.

Senja perlahan turun, namun semangat yang terbangun justru kian terang. Dalam narasinya, Rizal menggambarkan Ternate sebagai kota yang memiliki peluang besar untuk tumbuh sejajar dengan kota-kota besar di Indonesia. Namun, ia mengingatkan, kemajuan itu tak boleh menghapus jati diri.
“Ternate bisa maju seperti Makassar, Surabaya, dan kota lainnya. Tapi harus maju dengan karakteristik sendiri. Kita punya nilai budaya yang tinggi dan sejarah yang besar. Ini jika dikembangkan bisa meningkatkan PAD,” jelasnya.

Di sela-sela refleksi itu, ia juga menyinggung soal pentingnya pengelolaan dana kelurahan yang tepat sasaran. Bagi Rizal, transparansi dan efektivitas menjadi kunci agar program benar-benar berdampak di tingkat RW—tempat di mana kehidupan sosial bermula.

Meski dihadapkan pada tantangan rasionalisasi anggaran, pemerintah, katanya, tidak akan berhenti mendengar. Aspirasi warga yang disuarakan melalui Musrenbang tetap menjadi kompas arah pembangunan.
“Dampak rasionalisasi memang ada, tapi kami tidak tinggal diam. Aspirasi yang disampaikan lewat Musrenbang tetap kami tindak lanjuti. Jika ada usulan pembenahan masjid, maka ke depan akan kita benahi,” pungkasnya.

Malam akhirnya datang, menutup rangkaian kegiatan dengan kehangatan yang masih tersisa. Dari halaman Masjid At-Taubah, satu hal terasa pasti: silaturahmi bukan sekadar tradisi, melainkan kekuatan yang menjaga Ternate tetap utuh—dari halaman rumah warga, hingga cita-cita besar sebuah kota.

Dikaki Gunung Gamalama, Ngidi

29 Maret 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *