Oleh : Ismail Ibrahim, S.Sos, M.Sos/Alumni S-2 Universitas Jenderal Sudirman
SEBUAH buku bukan sekadar tumpukan kertas, melainkan rekaman “jejak intelektual” yang melampaui dinding kelas.
Hal itulah yang terpancar dari karya berjudul “Ruang Kelas, Dosen, dan Pedagogis Kesadaran Kewarganegaraan”.
Buku ini merupakan sebuah antologi pemikiran “goresan pena”—dari para mahasiswa Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta.
–000–
Sinergi Akademis dan Humaniora
Membaca judulnya, ada sesuatu yang unik di sini.
Mahasiswa Kedokteran, yang biasanya berkutat dengan anatomi dan patologi, diajak untuk masuk ke dalam diskursus kewarganegaraan.
Ini menunjukkan bahwa menjadi seorang dokter tidak cukup hanya dengan keahlian klinis, tetapi juga harus memiliki kesadaran sosial dan tanggung jawab moral sebagai warga negara.
Buku ini lahir dari tangan dingin Dr. M.Guntur Alting, M.Si, yang menjadi sosok “pengampu” sekaligus mentor bagi para Mahasiswa Kedokteran.
Di bawah bimbingannya, ruang kelas bertransformasi menjadi laboratorium gagasan, tempat di mana nilai-nilai kebangsaan didialogkan secara kritis.
–000–
Poin-Poin Utama Narasi:
Pertama, Pedagogis Kesadaran
Menyoroti bagaimana metode pengajaran di kelas mampu membangkitkan kepekaan sosial mahasiswa.
Kedua, Perspektif Kedokteran
Memberikan warna baru dalam literatur kewarganegaraan, di mana calon tenaga kesehatan berbicara tentang isu-isu publik.
Ketiga, Kolaborasi Intelektual
Kehadiran Abd. Wahab A. Rahim–sosok jebolan S-2 Universitas Indonesia sebagai editor, memastikan gagasan-gagasan mentah dari mahasiswa diramu menjadi narasi yang utuh dan enak dibaca.
–000–
Sampul buku yang menampilkan ilustrasi sketsa wajah Dr. M. Guntur Alting,M.Si dengan gestur yang tenang mencerminkan kewibawaan seorang pendidik yang berhasil memantik “api semangat” menulis bagi mahasiswanya.
Akhirnya, buku ini adalah bukti nyata bahwa tugas dosen bukan hanya mengajar, tapi juga menginspirasi lahirnya karya. (***)
















