banner 728x250

DIRIGEN DALAM SUNYI

  • Rizal Marsaoly dan Simfoni Birokrasi Ternate

Oleh : M.G Alting

​Di sebuah kota kepulauan yang akarnya menghujam dalam ke sejarah dan puncaknya menyentuh awan Gamalama, kekuasaan sering kali hanya dilihat dari apa yang tampak di podium.

Namun, bagi mereka yang memahami anatomi pemerintahan, ada sebuah kebenaran yang tak terbantahkan. Sebuah visi politik sehebat apa pun akan lumpuh tanpa tangan dingin yang mampu merajut benang-benang administrasi menjadi kain kebijakan yang utuh.

Di Kota Ternate, peran krusial sebagai penjaga ritme dan penggerak mesin itu dijalankan dengan presisi oleh Sekretaris Daerah, Dr. H. Rizal Marsaoly.

​Laporan tentang raihan 17 penghargaan nasional dan provinsi dalam kurun waktu kurang dari satu tahun kepemimpinan Ternate Andalan Jilid II bukanlah sebuah kebetulan sosiologis.

Di balik deretan trofi yang menghiasi ruang-ruang formal, terdapat narasi tentang kerja keras dalam kesunyian.

Jika Walikota Dr. H. M. Tauhid Soleman dan Wakil Walikota Nasri Abubakar adalah nakhoda yang menentukan arah mata angin, maka Rizal Marsaoly adalah kepala kamar mesin yang memastikan seluruh komponen birokrasi berputar pada rotasi yang tepat.

–000-

​Mesin Administrasi dan Penjaga Marwah Keuangan

​Salah satu pilar paling kokoh dalam kepemimpinan administratif Rizal adalah konsistensi dalam menjaga akuntabilitas.

Keberhasilan mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK selama sebelas kali berturut-turut bukanlah perkara mudah.

Di tengah dinamika regulasi keuangan daerah yang kian ketat, Rizal hadir sebagai filter utama. ​Ia memosisikan diri bukan sekadar sebagai pejabat struktural, melainkan sebagai “penjaga gawang” integritas fiskal.

Baginya, WTP bukan hanya angka di atas kertas, melainkan manifestasi dari kepercayaan publik. Melalui koordinasi lintas sektoral yang intensif, ia berhasil menanamkan disiplin anggaran sebagai budaya kerja, memastikan setiap rupiah yang keluar dari kas daerah memiliki jejak manfaat yang jelas bagi masyarakat Ternate.

–000–

​Dirigen Manajemen Talenta dan Modernisasi ASN

​Dalam kacamata sosiologi organisasi, birokrasi sering kali terjebak dalam inersia atau keengganan untuk berubah.

Rizal Marsaoly mendobrak kejenuhan itu dengan melakukan akselerasi pada manajemen talenta ASN.

Ia memahami bahwa di era disrupsi, pemerintah tidak boleh lagi bekerja dengan pola manual yang usang.

​Penghargaan atas percepatan manajemen talenta dan pengembangan sekolah rujukan Google di Ternate adalah bukti visinya tentang masa depan. .

Rizal mendorong transformasi digital bukan sebagai tren gaya hidup birokrasi, melainkan sebagai instrumen untuk memangkas birokrasi yang berbelit.

Ia percaya bahwa pelayanan publik di wilayah kepulauan haruslah secepat pesan digital dan seakurat data satelit. Dengan menempatkan orang-orang kompeten di posisi strategis (meritokrasi), ia telah membangun fondasi birokrasi yang lebih profesional dan responsif terhadap keluhan warga dari Bastiong hingga Hiri.

–000–

​Menembus Sekat Ego Sektoral

​Tantangan terbesar seorang Sekda adalah menyatukan berbagai “kerajaan kecil” dalam dinas-dinas pemerintahan.

Rizal dikenal memiliki kemampuan negosiasi dan koordinasi yang melampaui rata-rata. Ia adalah jembatan penghubung yang mampu menerjemahkan visi politis pimpinan daerah ke dalam bahasa teknis yang dapat dieksekusi oleh kepala dinas hingga staf di lapangan.

​Raihan penghargaan di bidang keselamatan pelayaran, kesehatan masyarakat (Kota Sehat), hingga kelestarian lingkungan (Adiwiyata), menunjukkan betapa luasnya rentang kendali koordinasi yang ia kelola.

Ia memastikan bahwa program kesehatan tidak bertabrakan dengan kebijakan lingkungan, dan transformasi digital mendukung keselamatan warga di laut.

Inilah yang disebut sebagai total governance, di mana seluruh lini bergerak serempak menuju satu titik capaian.

–000–

​Prestasi di Dapur Rakyat:

Sebuah Filosofi Kerja
​Rizal Marsaoly adalah penganut paham “kerja dalam sunyi”.

Di tengah fenomena pemimpin yang kerap terjebak dalam “pemerintahan dapur kamera”—yang lebih mementingkan citra visual di media sosial—ia justru memilih fokus pada “dapur rakyat”.

Baginya, pencapaian yang sesungguhnya adalah ketika seorang ibu di pasar merasa aman dengan ketersediaan barang, ketika seorang nelayan merasa tenang dengan sistem keselamatan pelayaran, dan ketika anak-anak sekolah mendapatkan akses literasi digital yang layak.

​Tujuh belas penghargaan tersebut hanyalah penanda jalan bahwa Ternate sedang bergerak ke arah yang benar.

Namun, bagi sosok seperti Rizal, penghargaan itu juga merupakan beban tanggung jawab untuk tidak berhenti berinovasi.

Ia sadar bahwa tantangan Ternate ke depan—mulai dari krisis iklim hingga dinamika ekonomi global—memerlukan birokrasi yang tidak hanya pintar secara administratif, tetapi juga cerdas secara sosial.

–000–

Merawat Harapan Ternate

​Pada akhirnya, sosok Dr. Rizal Marsaoly telah membuktikan bahwa seorang birokrat karir dapat menjadi agen perubahan yang signifikan.

Melalui dedikasinya, ia telah membantu mengangkat citra Kota Ternate di panggung nasional, sekaligus memperkuat fondasi internal pemerintahan agar tetap kokoh menghadapi badai zaman.

​Dalam setiap langkah kaki dan goresan penanya sebagai Sekretaris Daerah, Rizal tidak sedang sekadar menjalankan tugas negara.

Ia sedang menyusun narasi tentang bagaimana sebuah kota kecil di Maluku Utara bisa menjadi model bagi tata kelola pemerintahan yang modern, transparan, dan berperasaan.

Ternate beruntung memiliki seorang dirigen yang tahu kapan harus menekan nada tinggi dalam kedisiplinan dan kapan harus memainkan nada lembut dalam pengayoman birokrasi.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *