- Disampaikan di Halaman Taman CIBIS Jakarta Selatan, Jum’at 20 Maret 2026
Oleh: M.Guntur Alting
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.
Pagi ini, di bawah naungan langit yang sama, kita berkumpul dengan satu perasaan yang serupa: kemenangan.
Gema takbir yang bersahutan sejak semalam bukan sekadar bunyi, melainkan angin sejuk yang menyentuh kalbu, menandai kembalinya kita kepada fitrah.
Kita telah menempuh madrasah Ramadhan, bergelut melawan hawa nafsu, dan hari ini kita merayakan keberhasilan tersebut.
Namun, di tengah kesucian Idul Fitri ini, mari kita sejenak merenung. Sebuah suara pernah mengudara di panggung dunia, sebuah kalimat yang mengusik kesadaran kita semua:
“Agama saya bukan Sunni, bukan pula Syiah. Agama saya adalah Islam.”
Kalimat yang dilontarkan Presiden Erdoğan tersebut menemukan momentumnya yang paling tepat saat fajar Idul Fitri menyingsing.
Mengapa? Karena Idul Fitri adalah perwujudan nyata dari prinsip “Kami Islam”.
Jamaah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah,
Hari ini, dari masjid-masjid megah di Istanbul hingga lapangan luas di Jakarta; dari gang sempit di Gaza hingga pusat kota di belahan Barat, umat Muslim berdiri dalam satu barisan.
Tidak ada sekat jabatan, tidak ada perbedaan warna kulit. Kita semua sujud menghadap kiblat yang satu, melafalkan kalimat tauhid yang sama.
Namun, sungguh menyedihkan ketika indahnya kebersamaan ini seringkali kontras dengan realitas dunia. Terlalu lama sejarah umat Muslim ditulis dengan tinta perpecahan.
Tembok-tembok tinggi bernama “Sunni” dan “Syiah” seringkali sengaja dibangun—bukan hanya oleh perbedaan sejarah, tetapi oleh ego dan kepentingan kekuasaan modern yang ingin memecah kekuatan kita.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.
Idul Fitri adalah momen untuk meruntuhkan tembok-tembok itu. Perayaan kemenangan kita tidak akan pernah sempurna jika penderitaan masih mencabik-cabik tubuh umat di belahan bumi lain.
Ketahuilah, ketika bom jatuh di pemukiman, ketika rasa lapar menyergap di kamp pengungsian, penderitaan itu tidak pernah bertanya apa mazhabmu?
Air mata seorang ibu di Palestina, kengerian di mata pengungsi Rohingya, dan duka di jalanan Aleppo memiliki warna yang sama. Mereka adalah penderitaan dari satu tubuh yang sama—tubuh umat Islam.
Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut merasa sakit…” (HR. Muslim).
Maka di hari yang suci ini, mari kita lakukan “lompatan iman”. Mari kembali ke esensi fitrah–sebuah keadaan suci yang belum terkotori oleh ego sektarian.
Idul Fitri mengingatkan kita bahwa di level akar rumput, di bawah naungan takbir, Ukhuwah Islamiyah adalah fondasi utama kita.
Masa depan dunia Islam tidak terletak pada kecanggihan senjata atau aliansi politik yang semu.
Masa depan kita ada pada kemampuan kita untuk saling menjaga, saling merangkul, dan saling memaafkan.
–000–
Khutbah Kedua
Mari kita jadikan kalimat “Agama saya adalah Islam” sebagai kompas moral kita.
Mari kita pulang dari tempat ini dengan membawa semangat baru. Semangat untuk tidak lagi membeda-bedakan saudara kita hanya karena perbedaan cabang keyakinan selama kita masih bersaksi pada Tuhan yang satu.
Mari kita rayakan kemenangan ini bukan hanya sebagai kelompok, bukan hanya sebagai golongan, melainkan sebagai Muslim yang bersatu di bawah satu langit.
Semoga Allah SWT menyatukan hati-hati kita, menguatkan barisan kita, dan memberikan kemenangan yang sejati bagi seluruh umat Islam di dunia.
–000-
Doa Penutup :
Allahumma salli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.
Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim :
Di hari kemenangan yang suci ini, kami bersimpuh memohon ampunan-Mu. Bersihkanlah hati kami dari sisa-sisa benci, dengki, dan ego sektarian yang mencerai-berai kami.
Satukanlah hati kami sebagaimana Engkau menyatukan kaum Muhajirin dan Anshar. Jadikanlah perbedaan di antara kami sebagai rahmat, bukan alasan untuk saling menumpahkan darah.
Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu’minina wal mu’minat, al-ahya-i minhum wal amwat.
Ya Allah, ampunilah seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah tiada. Satukanlah visi kami, kuatkanlah barisan kami, dan jadikanlah kami umat yang satu di bawah kalimat Laa ilaha illallah.
Allahummanshur ikhwananal mustadh’afiina fii Filasthiin.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang terzalimi di Palestina, di Gaza, Iran dan di seluruh penjuru bumi. Berikanlah mereka kekuatan, kesabaran, dan kemerdekaan.
Lapisi tubuh mereka dengan perlindungan-Mu, kenyangkanlah perut mereka yang lapar, dan basuhlah air mata para ibu serta anak-anak di sana. Jadikanlah Idul Fitri ini sebagai awal fajar kemenangan bagi mereka.
Ya Allah, Ya ‘Aziz,
Angkatlah derajat umat Islam. Jangan biarkan kami menjadi buih di lautan yang terombang-ambing oleh kepentingan duniawi.
Jadikanlah kami satu tubuh; jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh merasakan pedihnya.
Tanamkanlah rasa kasih sayang di antara kami melampaui sekat-sekat mazhab dan golongan.
Allahumma inna na’udzu bika minal fitani maa zhahara minha wa maa bathan.
Ya Allah, lindungilah kami dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi. Jauhkanlah kami dari perpecahan yang hanya akan melemahkan kekuatan kami di hadapan musuh-musuh-Mu.
Rabbana aatina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban naar.
Subhana rabbika rabbil ‘izzati ‘amma yashifun, wa salamun ‘alal mursalin, wal hamdulillahi rabbil ‘alamin. (***)
















