banner 728x250

MENJAHIT RETAKAN WAKTU

  • Esai atas Kegelisahan Denny JA Mengenai Kalender Hijriah Global

Oleh: M. Guntur Alting

Setiap kali fajar Syawal menyingsing dengan dua wajah yang berbeda, kita selalu merayakan sebuah paradoks.

Di satu sisi, kita memuji indahnya toleransi di Indonesia; namun di sisi lain, ada sebuah “luka batin” kolektif yang sulit disembunyikan.

Pagi ini, saya membaca esai Denny JA yang bertajuk “Satu Islam, Tapi Dua Jadwal Puasa, Dua Jadwal Idul Fitri.” Bagi saya, esai Deny JA tersebut bukan sekadar kritik teknis atas metode hisab dan rukyat.

Lebih dalam dari itu, tulisan tersebut adalah sebuah gugatan sosiologis terhadap fragmentasi pengalaman batin umat di era digital.

​Denny JA membawa kita pada sebuah ruang domestik yang sangat intim yakni: meja makan sebuah keluarga.

Bayangkan seorang suami yang masih dalam keadaan berpuasa sementara istrinya sudah menyiapkan hidangan lebaran seperti cerita dari Deny JA.

–000–

Secara sosiologis, keluarga adalah unit terkecil pemersatu emosional. Namun, ketika otoritas keagamaan gagal menyepakati satu kalender, “retakan” itu pertama kali dirasakan di rumah-rumah kita.

Ada pengalaman spiritual yang terbelah, di mana kebahagiaan yang seharusnya utuh menjadi terfragmentasi dalam diam.

​Jika kita meminjam kacamata sosiolog Ulrich Beck, fenomena perbedaan hari raya ini dapat dibaca sebagai bagian dari dinamika “Masyarakat Risiko” (Risk Society).

Beck berargumen bahwa dalam masyarakat modern, risiko seringkali lahir bukan karena kekurangan teknologi, melainkan karena kegagalan lembaga-lembaga otoritas dalam mengelola kepastian di tengah kemajuan sains.

​Ketidakpastian penetapan hari raya adalah “risiko sosial” yang diciptakan secara artifisial.

Kita hidup di era Artificial Intelligence (AI) dan astronomi presisi, di mana posisi bulan dapat dihitung hingga satuan detik untuk puluhan tahun ke depan.

Namun, ketergantungan pada otoritas tradisional yang bersifat lokal seringkali memproduksi ketidakpastian yang merembet ke ruang domestik.

Seperti yang digambarkan Denny JA tentang keluarga yang terbelah, risiko ini bukan lagi soal teknis falak, melainkan risiko disintegrasi emosional dalam unit terkecil masyarakat.

​Masalah yang diangkat Denny sebenarnya bukan lagi pada ranah sains.

Sebagai masyarakat yang hidup di era Artificial Intelligence (AI) dan astronomi presisi, menentukan posisi bulan (hilal) sebenarnya jauh lebih sederhana daripada memprediksi gerhana 50 tahun ke depan.

Mengapa kita tetap berbeda? Jawabannya terletak pada apa yang sering disebut dalam sosiologi sebagai “ego kolektif” dan perebutan modal simbolik.

​Metode penetapan hari raya bukan lagi sekadar alat teknis, melainkan telah menjadi simbol kedaulatan organisasi dan otoritas negara.

Meminjam perspektif sosiologi agama, perbedaan ini seringkali dipelihara bukan karena ketidaktahuan ilmiah, melainkan karena keengganan untuk menanggalkan identitas sektoral demi sebuah konsensus global.

Kita lebih memilih “tradisi yang terpisah” daripada “masa depan yang terkoordinasi.”

–000–

​Rujukan Denny pada pemikiran Zulfiqar Ali Shah dan Mohammad Ilyas memberikan landasan intelektual yang kokoh.

Gagasan tentang International “Lunar Date Line” (kalender global) atau pergeseran paradigma dari “melihat secara fisik” (rukyat) menuju “mengetahui secara ilmiah” (hisab) adalah sebuah keniscayaan peradaban.

Di era Artificial Intelligence ini, menolak kepastian hisab dengan alasan “ketidakmampuan melihat” terasa semakin anakronistis.

​Jika kita bisa memercayai algoritma untuk menentukan rute jalan raya atau memprediksi cuaca, mengapa kita masih ragu menggunakan presisi astronomi untuk menentukan waktu suci?

Jika agama dimaksudkan untuk memberikan kepastian dan ketenangan bagi umat, maka bersikukuh pada subjektivitas pengamatan mata telanjang di tengah kemajuan optik dan matematika hanyalah sebuah bentuk anakronisme.

​Kita harus berani bertanya: Apakah ketidaksamaan ini adalah kondisi ideal yang harus dipertahankan selamanya? Tentu tidak.

Toleransi memang indah, namun kesatuan jauh lebih bermartabat. Kalender Hijriah Global bukan sekadar proyek para ahli falak, melainkan sebuah ikhtiar peradaban untuk menyatukan denyut nadi umat Islam di seluruh dunia.

–000–

​Pada akhirnya, seperti yang disiratkan Denny JA, yang perlu disatukan sebenarnya bukanlah sekadar angka di kalender, melainkan cara kita melihat diri kita sendiri sebagai satu umat.

Kesatuan kalender akan menjadi tanda bahwa umat ini telah melampaui ego-ego kecilnya dan menemukan kembali kesatuan jiwanya.

Di masa depan, kita bermimpi tidak ada lagi keluarga yang merayakan kemenangan dalam waktu yang berbeda.

Karena pada hari itu, yang disatukan bukan hanya tanggal, tetapi juga rasa memiliki yang utuh di bawah satu langit yang sama.

Pejaten Barat, 20 Maret 2026
Pukul : 08:23

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *