banner 728x250

IDUl FITRI BERSAMA CAK NUR

  • Idulfitri, Iran, dan Imajinasi Masyarakat Madani

Oleh : M.Guntur Alting

Daripada bingung dengan jadwal Idul Fitri dari berbagai versi, mendingan kita tulisnya saja “Idul Fitri bersama (versii) Nurcholid Madjid” atau Cak Nur. Simak narasinya :

Idulfitri dalam kacamata Nurcholish Madjid (Cak Nur) adalah momen “kepulangan” massal menuju kesucian asal.

Namun, kepulangan ini bukanlah pelarian dari realitas duniawi, melainkan sebuah pengisian ulang energi spiritual untuk membangun peradaban yang lebih adil.

Jika kita mengontekstualisasikan pemikiran beliau dengan solidaritas terhadap Iran, kita akan menemukan titik temu yang krusial pada gagasan Masyarakat Madani.

–000–

Tauhid sebagai Fondasi Kemerdekaan Bangsa

Cak Nur sering menegaskan bahwa inti dari Islam adalah al-Hanifiyat al-Samhah–semangat mencari kebenaran yang lapang dan toleran.

Dalam konteks hubungan internasional, prinsip Tauhid yang beliau usung mengandung konsekuensi sosiologis yang berat: “anti-hegemoni.”

Solidaritas terhadap Iran di hari yang fitri ini bukanlah dukungan buta terhadap kebijakan politik tertentu, melainkan pengakuan atas hak sebuah bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa didikte oleh kekuatan superpower.

Bagi Cak Nur, mengakui Tuhan sebagai satu-satunya yang Absolut berarti mendelegitimasi segala bentuk absolutisme manusia di muka bumi.

Iran, yang selama puluhan tahun berdiri tegak di tengah sanksi dan tekanan global, menunjukkan daya tahan sebuah bangsa yang digerakkan oleh harga diri dan kemandirian—nilai-nilai yang esensial dalam pembentukan Masyarakat Madani.

–000–

Melampaui Sekat Sektarian: Inklusivisme Sunni-Syiah

Salah satu sumbangan terbesar Cak Nur adalah keberaniannya mengusung inklusivisme. Beliau memandang Islam sebagai satu mozaik besar peradaban.

Dalam perspektif ini, perbedaan antara Sunni dan Syiah hanyalah dinamika sejarah dan pemikiran (furu’iyah) yang tidak boleh menghancurkan substansi persaudaraan kemanusiaan.

Idulfitri di Teheran dan Idulfitri di Jakarta memiliki frekuensi spiritual yang sama. Solidaritas kita terhadap Iran adalah manifestasi dari “Islam yang Terbuka”.

Kita tidak bisa mengaku telah kembali ke fitrah jika hati kita masih dikotori oleh prasangka sektarian yang sering kali merupakan warisan konflik politik masa lalu.

Dengan berempati pada perjuangan bangsa Iran, kita sedang mempraktikkan ajaran Cak Nur untuk melihat “titik temu” (kalimatun sawa) di antara sesama umat beriman.

–000–

Solidaritas sebagai Implementasi Kesalehan Sosial

Cak Nur selalu mengkritik “kesalehan ritual” yang egois. Bagi beliau, puasa yang berhasil adalah puasa yang melahirkan kepekaan sosial. Dalam skala global, kepekaan ini mewujud dalam bentuk solidaritas internasional.

Masyarakat Madani yang dicita-citakan Cak Nur adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi hukum, dan memiliki rasa kemanusiaan yang universal.

Solidaritas terhadap Iran—terutama dalam menghadapi ketidakadilan ekonomi akibat isolasi internasional—adalah ujian bagi “Kesalehan Sosial” kita.

Idulfitri mengajarkan bahwa tidak ada kemerdekaan yang sejati selama saudara kita di belahan bumi lain masih terbelenggu oleh ketidakadilan sistemik.

–000–

Epilog

Merajut Peradaban yang Beradab

Akhirnya, Idulfitri dalam perspektif Cak Nur mengajak kita untuk menatap Iran bukan sebagai “orang asing” atau “liyan”, melainkan sebagai rekan seperjalanan dalam membangun peradaban Islam yang modern namun tetap berakar pada nilai ilahi.

Kemenangan kita di hari raya ini menjadi sempurna ketika kita mampu melapangkan dada, menghapus kebencian mazhab, dan berdiri bersama bangsa-bangsa yang sedang memperjuangkan martabatnya.

Inilah esensi dari Masyarakat Madani yang lintas batas: sebuah komunitas global yang disatukan oleh komitmen pada keadilan, kemerdekaan, dan fitrah kemanusiaan yang suci. (***)

Pejaten, 19 Maret 2026
Pukul : 15 : 21

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *