banner 728x250

AGAMA SAYA BUKAN SUNNI, BUKAN PULA SYIAH, AGAMA SAYA ADALAH ISLAM

  • Sebuah Renungan atas Seruan Erdoğan

Oleh : M.Guntur Alting

Di panggung dunia yang bising oleh dentuman meriam dan retorika yang memecah belah. Sebuah suara mengudara dengan getaran yang berbeda.

Bukan suara yang mencari pengikut untuk satu golongan, melainkan suara yang memanggil pulang jiwa-jiwa yang tersesat dalam labirin identitas.

Saat Presiden Recep Tayyip Erdoğan berucap:

“Agama saya bukan Sunni, bukan pula Syiah. Agama saya adalah Islam,”

Ia sedang tidak sekadar berpidato; ia sedang menenun kembali “kain kafan peradaban” yang koyak oleh belati sektarianisme.

Sudah terlalu lama sejarah ditulis dengan tinta darah yang tumpah karena perbedaan garis suksesi ribuan tahun silam.

–000–

Di padang pasir yang luas hingga ke pegunungan yang dingin, nama “Sunni” dan “Syiah” sering kali berubah menjadi tembok yang lebih tinggi dari gunung mana pun. Memisahkan saudara sekandung dalam satu sujud yang sama.

Kita telah terjebak dalam ironi yang pedih: menyembah Tuhan yang Esa, namun terpecah dalam ribuan kebencian.

Seruan Erdoğan hadir “bagaikan embun” di tengah gersangnya persaudaraan.

Ia mengingatkan kita bahwa ketika bom jatuh di reruntuhan kota atau ketika lapar menyayat perut seorang anak di kamp pengungsian, ia tidak bertanya “apa mazhabmu.”

Penderitaan tidak memiliki sekte. Air mata seorang ibu di Palestina, kengerian di mata pengungsi Rohingya, dan duka di jalanan Baghdad memiliki warna yang sama.

Mereka adalah wajah-wajah dari satu tubuh yang sedang sakit—tubuh umat yang kehilangan ruh persatuannya.

–000–

Namun, menyuarakan persatuan di tengah badai fitnah bukanlah perkara mudah. Ini adalah perjuangan melawan arus “politik belah bambu” yang dimainkan oleh tangan-tangan tak terlihat di balik layar kekuasaan global.

Selama dunia Islam sibuk bertikai tentang siapa yang paling benar di hadapan sejarah, maka kekuatan yang sesungguhnya akan terus menguap, meninggalkan umat dalam posisi yang lemah dan mudah didikte.

Erdoğan mengajak kita untuk melakukan lompatan iman. Melompat keluar dari kotak-kotak sempit yang bernama sektarianisme menuju samudera luas yang bernama Islam.

Islam yang merangkul, Islam yang menjadi payung bagi setiap jiwa yang bersaksi pada keesaan Tuhan.

Ini bukan tentang menghapus sejarah atau meniadakan khazanah pemikiran mazhab, melainkan tentang menempatkan kemanusiaan dan ukhuwah (persaudaraan) di atas ego kelompok.

–000–

Pada akhirnya, seruan ini adalah sebuah cermin. Ia memaksa kita untuk melihat ke dalam diri dan bertanya: “Apakah kita lebih mencintai label kita daripada esensi ajaran kita?”

Jika kita terus memilih untuk menjadi Sunni atau Syiah sebelum menjadi Muslim, maka kita sedang membangun penjara kita sendiri.

Masa depan dunia Islam tidak terletak pada kemenangan satu sekte atas sekte lainnya, melainkan pada kemampuan kita untuk berdiri berdampingan di bawah satu panji.

Sebab di mata langit, yang terlihat bukanlah perbedaan cara kita bersedekap, melainkan ketulusan hati kita untuk saling menjaga.

Kita adalah satu, terikat oleh kalimat yang sama, dan sudah saatnya kita pulang ke rumah besar yang bernama Islam.(***)

Cinere, 18 Maret 2026
Pukul : 16 : 02

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *