banner 728x250

DERU SAMRAH

  • Wajah Baru Santri Sangaji di Pantai Falajawa Ternate

Oleh: M.Guntur Alting

Walaupun hadir dengan keterbatasan gerakan dan latihan. Namun telah menunjukkan pada publik, bahwa generasi Islam Maluku Utara tetap mencintai seni dan budaya Islam.” —
-(Ikhy Abubakar/Pegiat Seni Islam Malut
)


PANTAI Falajawa sore itu menjelma menjadi panggung bagi rindu yang bertalu bagi warga Kota Ternate.

Sebuah altar di mana riak air laut dan dentum rebana berkelindan dalam harmoni yang tak terlukiskan.

Di sana, para santri TPQ Al-Ikhlas tidak hanya menggerakkan raga, namun sedang menjahit kembali robekan tradisi yang kian usang oleh waktu melalui jemari yang menari dalam irama Samrah.

Di hadapan Gamalama yang mematung agung. Pertunjukan massal ini menjadi sebuah “deklarasi sunyi”—bahwa di antara hingar-bingar modernitas, masih ada detak spiritualitas yang mengalun mesra di tepian pantai, menjaga agar akar tak pernah tercerabut dari tanah yang ia puja.

–000–

Ketika Musik Menjadi Doa

Pantai Falajawa, dengan riak airnya yang konstan, adalah panggung raksasa bagi kehidupan kota Ternate.

Di sini, batas antara yang sakral dan yang profan seringkali memudar, melebur dalam bias cahaya senja yang keemasan.

Ketika santri-santri dari TPQ Al-Ikhlas Kelurahan Sangaji melangkah, mereka tidak hanya membawa tubuh mereka untuk menari; mereka membawa sebuah catatan sejarah yang dirawat dalam “ritme rebana.”

Dalam sosiologi musik, kita memahami bahwa setiap ketukan bukanlah sekadar bunyi—ia adalah detak jantung sebuah komunitas yang menolak untuk bisu di tengah bisingnya modernitas.

–000–

Koreografi Harmoni dan Kedisiplinan Jiwa

Lihatlah bagaimana mereka bergerak. Dalam formasi massal yang tertata, setiap santri menjadi bait-bait dalam satu puisi besar tentang keteraturan.

Tari Samrah bukan sekadar gerakan fisik, melainkan sebuah “arsitektur sosial.” Setiap langkah yang sinkron adalah cerminan dari kesediaan untuk tunduk pada harmoni kelompok, sebuah antitesis terhadap individualisme yang sering kali memutus akar persaudaraan kita.

Di bawah tatapan bisu Gunung Gamalama yang agung, para santri ini sedang mempraktikkan “kedaulatan kultural.”

Mereka sedang menulis ulang narasi bahwa pendidikan tidaklah harus kaku di balik dinding kelas.

Pendidikan, dalam bentuk yang paling jujur, adalah ketika seorang anak memahami irama leluhurnya dan mampu mengembangkannya dengan rasa bangga di ruang publik yang terbuka.

–000–

Pantai Falajawa: Arena di Bertemunya Tradisi dan Waktu

Pemilihan Pantai Falajawa bukan sebuah kebetulan. Pantai ini adalah titik temu, tempat warga menjemput lelah dan membuang resah.

Dengan menghadirkan Tari Samrah di sini, TPQ Al-Ikhlas sedang melakukan semacam “sihir sosiologis.”

Mereka menarik masyarakat yang lewat untuk berhenti, menoleh, dan tertegun. Suara rebana yang membelah angin sore itu menjadi jembatan bagi generasi yang berbeda untuk saling memandang.

Ini adalah momen “kohesi sosial” yang indah; di mana tradisi tidak lagi dipandang sebagai barang antik yang berdebu, melainkan sebagai api yang menghangatkan jiwa di tengah dinginnya zaman yang bergerak terlalu cepat.

–000–

Refleksi atas Masa Depan

Dalam setiap jengkal gerakan mereka, ada keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri.

Di tengah gempuran budaya global yang seringkali mencabut kita dari akar, para santri ini adalah jangkar.

Mereka membuktikan bahwa kita bisa tetap tegak di tengah arus, selama kita tahu dari mana kita berasal.

Melihat mereka menari, kita teringat bahwa identitas bukanlah sesuatu yang statis. Ia harus terus dipentaskan, dirayakan, dan diwariskan.

Pantai Falajawa, hari itu telah menjadi saksi bahwa keindahan tidak harus dicari jauh-jauh. Ia ada di sini, dalam irama rebana yang dipukul dengan cinta, dalam langkah kaki yang serempak memuja semesta, dan dalam wajah-wajah ceria yang menolak untuk melupakan siapa mereka sebenarnya.

–000-

Epilog

Matahari tenggelam, namun gema Samrah itu tertinggal, meresap ke dalam air laut, terbawa pulang oleh setiap penonton yang hadir.

Penampilan ini adalah sebuah oase bagi kita yang sering kali merasa haus akan makna di tengah rutinitas kota.

Melaluiq Tari Samrah, TPQ Al-Ikhlas tidak hanya mengajar santrinya cara menari, tetapi juga cara mencintai tanah kelahiran.

Ini sejalan dengan ungkapan pegiat seni dan budaya Islam Maluku Utara Ikhy Abubakar yang saya kutip di pembuka esai ini :

“Walaupun hadir dengan keterbatasan gerakan dan latihan. Namun telah menunjukkan pada publik, bahwa generasi Islam Maluku Utara tetap mencintai seni dan budaya Islam.”

Akhirnya, selama irama ini terus berdenyut, Ternate akan tetap menjadi rumah bagi tradisi yang menolak untuk mati, sebuah harmoni abadi yang terus bernyanyi di tepian Falajawa. (***)

Pondok Indah, 11 Maret 2026
Pukul : 11.04

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *