Nasib manusia sering kali berjalan di luar bayangan siapa pun. Dalam ajaran Islam, takdir adalah bagian dari rahasia Ilahi yang tak selalu dapat ditebak. Kisah hidup Adnan Mahmud menjadi salah satu bukti bagaimana jalan hidup bisa membawa seseorang jauh melampaui mimpi masa kecilnya.
“Saya tidak pernah membayangkan akan menjadi rektor. Ini benar-benar sebuah keajaiban yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya,” ujarnya suatu ketika dengan nada takjub.
Anak Kampung dari Desa Tanpa Sekolah Dasar.
Adnan kecil lahir dan tumbuh di Desa Posi-Poso, sebuah kampung sederhana di Kecamatan Gane Barat Utara, Halmahera Selatan. Saat itu, fasilitas pendidikan di kampungnya sangat terbatas—bahkan sekolah dasar pun belum tersedia.
Setiap hari ia dan teman-temannya harus berjalan kaki sejauh delapan kilometer pulang-pergi menuju Desa Samat, satu-satunya desa tetangga yang memiliki Sekolah Dasar Negeri.
Perjalanan itu bukan sekadar jauh, tetapi juga penuh tantangan. Ketika air laut pasang dan harus menyeberangi jalur yang terendam, mereka terpaksa melepas pakaian sekolah agar tidak basah.
“Kalau air pasang, kami harus ‘batalanjang’, alias bugil, supaya seragam sekolah tetap bisa dipakai lagi besok,” kenangnya sambil tersenyum mengenang masa kecil yang penuh perjuangan.
Namun keterbatasan tidak memadamkan semangatnya. Dengan tekad kuat, Adnan akhirnya menamatkan pendidikan dasar di Desa Samat.
Meniti Pendidikan dengan Tekad
Setelah lulus SD, Adnan melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Alkhairaat di kampungnya. Meski kampung itu tidak memiliki sekolah dasar, keberadaan madrasah setingkat SMP tersebut menjadi berkah tersendiri bagi anak-anak desa.
“Alhamdulillah, walaupun tidak punya SD, di kampung kami ada Tsanawiyah Alkhairaat. Di situlah saya belajar sampai tamat,” tuturnya.
Perjalanan pendidikannya berlanjut ke Ternate, tempat ia menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Alkhairaat. Di kota ini, kehidupan Adnan tidak mudah. Ia tinggal sebagai anak pengampu di rumah keluarga Salim Kentji di Kelurahan Toboko.
“Dulu belum kenal istilah indekos. Saya tinggal bersama keluarga bapak Salim Kentji. Rumahnya persis di samping lampu merah Toboko. Mereka sangat berjasa dalam hidup saya,” kenangnya penuh rasa syukur.
Merantau dan Menggapai Ilmu
Selepas Aliyah, Adnan merantau lebih jauh lagi ke Kota Palu untuk menempuh pendidikan tinggi di IAIN Datokarama Palu, Sulawesi Tengah. Di kota inilah ia meraih gelar sarjana agama (S.Ag).
Masa kuliah di Palu juga meninggalkan banyak kisah inspiratif. Salah satunya adalah bagaimana kemampuan mengaji menjadi jalan kemudahan dalam hidupnya.
“Modal saya waktu itu cuma bisa mengaji. Dari situ saya bisa dapat kamar kos gratis,” ujarnya.
Setelah menyelesaikan studi S1, Adnan melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister dan doktoral di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Indonesia.
Mengabdi dan Menjadi Rektor
Sekembalinya dari studi, Adnan mengabdikan diri sebagai dosen di IAIN Ternate, perguruan tinggi Islam yang memiliki sejarah panjang di Maluku Utara.
Di kampus itu, perjalanan kariernya perlahan menanjak. Ia dipercaya menduduki berbagai jabatan strategis, termasuk sebagai Wakil Rektor I. Hingga akhirnya, takdir membawanya ke posisi tertinggi di kampus tersebut—sebagai Rektor.Sebuah jabatan yang bahkan tak pernah hadir dalam mimpi masa kecilnya.
Doa Sang Ayah yang Tulus
Ada satu kisah yang selalu dikenang Adnan setiap kali pulang ke kampung halaman untuk berziarah ke makam orang tuanya.
Suatu hari, seorang sahabat almarhum ayahnya bercerita bahwa dahulu banyak warga kampung mempertanyakan keputusan sang ayah yang menyekolahkannya di sekolah agama, bukan sekolah negeri yang dianggap lebih mudah mengantar anak menjadi pegawai negeri.
Namun ayahnya menjawab dengan sederhana.
“Biar saja. Yang penting nanti pulang kampung bisa jadi modim di masjid.”
Modim adalah petugas masjid yang bertugas membantu khatib atau imam dalam berbagai kegiatan ibadah.
“Alhamdulillah, mungkin karena doa bapak yang tulus, Allah memberi lebih dari harapannya. Saya memang jadi khatib, imam, dan penceramah, tapi belum pernah jadi modim. Malah Allah memberi amanah menjadi rektor,” kata Adnan.
Inspirasi dari Anak Kampung
Perjalanan hidup Adnan Mahmud adalah kisah tentang kesabaran, keuletan, dan keyakinan pada takdir. Dari seorang anak kampung yang harus berjalan delapan kilometer demi sekolah, ia kini berdiri sebagai pemimpin perguruan tinggi.
Bagi Adnan, kunci dari semua pencapaian itu sederhana: kesabaran, kerja keras, dan tidak pernah meninggalkan salat serta akhlak yang baik.
“Kalau kita sabar, terus berusaha, dan menjaga hubungan dengan Allah, pasti selalu ada jalan,” ujarnya.
Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak anak-anak desa bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bermimpi besar. Kadang, takdir justru menunggu mereka yang terus berjalan, meski langkahnya dimulai dari kampung yang jauh dari peta mimpi.***


















