banner 728x250

REDUPNYA LENTERA DI UJUNG RAMADAN

  • Esai Sosiologis tentang Memudarnya Tradisi Pelita di Kelurahan Bobo

Oleh : Ismail Ibrahim, M.Sos/Alumni S-2 Universitas Jenderal Sudirman

Malam Lailatul Qadar bagi umat Muslim bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender hijriah, melainkan sebuah ruang sakral yang sarat akan makna spiritual.

Di malam yang diyakini lebih baik dari seribu bulan ini, dimensi transenden bertemu dengan harapan manusia melalui doa, tadarus, dan refleksi diri.

Namun, di Kelurahan Bobo, Kota Tidore Kepulauan, dimensi spiritual ini secara historis tidak hanya dirayakan di dalam sunyinya masjid, tetapi juga dimanifestasikan melalui cahaya fisik yang dikenal sebagai Tradisi Pelita Malam.

Sayangnya, seiring deru modernisasi, cahaya yang melambangkan kebersamaan ini kian meredup dan terancam menjadi sekadar catatan kaki dalam sejarah lokal.

–000–

Secara sosiologis, Tradisi Pelita Malam adalah bentuk nyata dari apa yang disebut Émile Durkheim (1912) sebagai “solidaritas mekanik” yang diperkuat melalui ritual kolektif.

Ketika warga bergotong royong menyiapkan bambu, sumbu, dan minyak untuk menerangi lingkungan mereka di sepuluh malam terakhir Ramadan, mereka sebenarnya sedang merajut kembali kohesi sosial.

Pelita tersebut bukan hanya alat penerang, melainkan simbol identitas kolektif masyarakat Maluku Utara.

Cahayanya merepresentasikan harapan dan kehangatan sosial yang menghubungkan antar-generasi.

Namun, realitas hari ini menunjukkan pergeseran yang signifikan. Intervensi modernisasi dan globalisasi telah mengubah lanskap perilaku masyarakat Bobo.

Sebagaimana tesis Anthony Giddens (1990) mengenai modernitas, terjadi kecenderungan di mana masyarakat mulai meninggalkan ritual komunal dan beralih ke praktik keagamaan yang lebih privat atau individualis.

Generasi muda, yang terpapar arus informasi digital dan budaya pop global, cenderung melihat tradisi fisik seperti memasang pelita sebagai sesuatu yang kuno atau kurang relevan.

Akibatnya, muncul budaya “aku” yang perlahan menggeser semangat “kita”, memicu pudarnya ikatan sosial yang dulunya rekat.

Faktor struktural juga turut mempercepat memudarnya tradisi ini. Minimnya dukungan kebijakan dari pemerintah kelurahan serta keterbatasan anggaran kolektif membuat persiapan fisik Pelita Malam terasa kian berat.

–000–

Di sisi lain, perubahan strata sosial dan urbanisasi menyita waktu luang masyarakat, sehingga komitmen untuk terlibat dalam kegiatan komunal semakin menipis.

Bagi sebagian warga, estetika pelita kini mulai digantikan oleh pemahaman keagamaan kontemporer yang lebih menekankan pada ibadah mahdhah (seperti iktikaf di masjid) daripada ritual budaya yang bersifat simbolis.

Pudarnya tradisi ini membawa dampak sosial yang cukup serius. Kehilangan ritual kolektif berarti kehilangan ruang interaksi antarwarga, yang pada jangka panjang dapat mengikis identitas budaya lokal.

Generasi baru berisiko kehilangan “kompas” budaya mereka, di mana nilai-nilai luhur leluhur tidak lagi terwariskan dengan sempurna.

Meskipun adaptasi digital seperti pengajian daring mulai bermunculan, esensi dari “sentuhan fisik” dan kerja sama dalam gotong royong tetap tidak tergantikan oleh algoritma manapun.

–000–

Sebagai langkah mitigasi, revitalisasi tradisi menjadi harga mati. Hal ini tidak berarti menolak modernitas, melainkan melakukan negosiasi makna.

Pemerintah dan tokoh masyarakat perlu mengemas Tradisi Pelita Malam dengan sentuhan baru—misalnya melalui festival seni atau edukasi berbasis teknologi—tanpa menghilangkan nilai spiritualitasnya.

Pelita Malam di Kelurahan Bobo tidak boleh dibiarkan padam, sebab ia adalah penjaga api kebersamaan dan pengingat bahwa di balik kemajuan zaman, manusia tetap membutuhkan akar budaya untuk tetap tegak berdiri.

–000–

Akhirnya, Tradisi Pelita Malam di Kelurahan Bobo bukan sekadar peninggalan masa lalu yang statis, melainkan sebuah manifestasi cahaya yang menyatukan spiritualitas dan kebersamaan sosial.

Di tengah gempuran modernisasi dan perubahan pola hidup yang kian individualis.

Menjaga nyala pelita ini berarti menjaga eksistensi identitas lokal agar tidak hilang ditelan zaman.

Diperlukan sinergi yang kuat antara kebijakan pemerintah, edukasi bagi generasi muda, serta adaptasi teknologi untuk memastikan bahwa ritual suci ini tetap relevan.

Dengan merawat tradisi ini, masyarakat Bobo tidak hanya sekadar menyalakan lampu di malam Lailatul Qadar, tetapi juga sedang merawat api persaudaraan dan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *