- Kritik Sosiologis atas Komodifikasi Anak
Yatim
Oleh : M.Guntur Alting
Di panggung aula, di bawah spanduk megah. Anak-anak yatim berbaris, seragam baru nan kaku. Mata mereka ke jendela sunyi yang tak terucap, Menatap lurus, entah pada siapa, entah pada apa.
Di tangan-tangan kecil, amplop putih tersemat, bukan sekadar uang, tapi harga diri yang tercatat. Dalam bingkai foto, di media, di benak publik yang haus validasi.
Mereka bukan jiwa, mereka adalah simbol, komoditas.Dijual dan dibeli, dalam seremoni kepedulian yang formalitas. Sorot kamera memburu, menangkap setiap sudut,dari senyum dipaksakan, hingga tatapan sendu yang tersembunyi.
Para pemberi, berdiri tegak, memamerkan kebaikan, seolah kedermawanan adalah jubah yang harus dipamerkan. Anak-anak ini, objek dari sebuah narasi yang digubah, di mana kemiskinan dan kehilangan menjadi latar belakang.
Bagi ego yang haus panggung, bagi reputasi yang perlu diangkat. Bukankah empati seharusnya lebih dari sekadar tontonan?
Bukanlah kasih itu seharusnya berbisik, tak perlu teriakan? Lalu, apa yang tersisa setelah lampu padam, setelah bingkisan dibagi?
Sebuah memori buram, mungkin, sebuah janji yang tak terucap.
Anak-anak itu kembali ke rumah, ke gang-gang yang tak direkam. Dengan martabat yang sedikit terkikis oleh tatapan berjuta mata.
Mereka adalah yatim, ya, tapi bukan berarti tanpa harga. Kemanusiaan sejati, bukan pada berapa banyak yang diberi. Tapi bagaimana cara memberi, tanpa harus mengikis harkat.
Mungkin saatnya kita merenung, di balik tabir pameran ini. Apakah kita sungguh memberi, atau sekadar membeli ilusi?
–000–
Dalam lanskap sosial Indonesia, ritual santunan anak yatim telah menjadi fenomena yang ajeg.
Setiap menjelang hari besar keagamaan atau perayaan institusional, kita akan menjumpai pemandangan serupa: deretan anak-anak berseragam, duduk bersimpuh di hadapan kamera, menerima bingkisan yang diserahkan dengan gestur kaku oleh para pemberi sumbangan.
Secara sosiologis, pemandangan ini bukan sekadar aktivitas filantropi, melainkan sebuah pertunjukan simbolik di mana “anak yatim” perlahan bergeser posisi dari subjek yang memerlukan empati menjadi komoditas untuk kepentingan citra.
–000–
Fetisisme Kedermawanan dan Objektifikasi
Jika kita menggunakan kacamata Karl Marx mengenai fetisisme komoditas, kita dapat melihat adanya pergeseran nilai dalam praktik kedermawanan kontemporer.
Dalam seremoni formalitas, hubungan antara pemberi dan penerima bantuan sering kali tereduksi menjadi hubungan transaksional yang dangkal.
Anak yatim tidak lagi dilihat sebagai individu dengan kompleksitas psikologis dan hak atas privasi, melainkan sebagai “aset simbolik” yang digunakan untuk memvalidasi moralitas sang pemberi.
Dalam konteks ini, kemiskinan dan ketidakberuntungan anak yatim dikemas sedemikian rupa agar menjadi konsumsi publik yang estetis bagi media sosial.
Ada sebuah fetisisme di sini: publik tidak sedang menikmati tindakan kedermawanan itu sendiri, melainkan menikmati performa kedermawanan yang dipanggungkan.
Anak yatim menjadi “latar” agar sang donor terlihat dermawan, berkuasa, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
–000–
Dramaturgi dalam Panggung Santunan
Erving Goffman dalam teori dramaturginya membagi kehidupan menjadi panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage).
Dalam seremoni santunan, anak yatim sering dipaksa menempati “front stage” sebagai objek pasif yang harus menampilkan wajah syukur, sedih, atau penurut sesuai dengan narasi yang diinginkan penyelenggara.
Formalitas ini melahirkan ketimpangan relasi kuasa yang tajam. Penyelenggara mendominasi narasi, sementara anak yatim kehilangan agensi atas dirinya sendiri.
Mereka menjadi pajangan visual yang privasinya dikorbankan demi konten. Dampak jangka panjang dari objektifikasi ini sering luput dari perhatian; ketika eksploitasi visual ini menjadi normal, ia menciptakan stigmatisasi bahwa kemiskinan adalah kondisi yang layak dipamerkan untuk mendapatkan belas kasih.
Alih-alih kondisi struktural yang seharusnya diselesaikan lewat pemberdayaan yang bermartabat.
—000–
Dekonstruksi Filantropi: Menuju Kemanusiaan yang Substantif
Kritik ini bukan berarti menolak semangat kedermawanan. Sebaliknya, ini adalah sebuah panggilan untuk mendesak terjadinya dekonstruksi terhadap cara kita mempraktikkan solidaritas.
Kita harus beranjak dari kedermawanan yang bersifat “performative”—yang haus akan pengakuan dan validasi publik—menuju kedermawanan yang “emancipatory” atau membebaskan.
Pemberian yang bermartabat seharusnya bersifat anonim atau setidaknya menghargai privasi penerima.
Bantuan yang substantif tidak akan berakhir di atas panggung seremoni, melainkan berlanjut pada akses pendidikan, kesehatan, dan pengembangan kapasitas jangka panjang yang memungkinkan anak-anak tersebut berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus menanggung beban “utang budi” di hadapan publik.
–000–
Akhirnya kedermawanan yang sejati seharusnya tidak memiliki kamera sebagai saksinya.
Saat kita mampu memisahkan antara dorongan untuk membantu dengan hasrat untuk memamerkan diri, saat itulah kita mulai memanusiakan anak yatim sebagai sesama manusia, bukan sebagai komoditas penunjang reputasi.
Kemanusiaan seharusnya menjadi ruang untuk berbagi, bukan panggung untuk mengukuhkan kekuasaan melalui eksploitasi kesedihan (***)
Pejaten Barat, 10 Maret 2026
Pukul : 20.30
















