Oleh : M.Guntur Alting
Di riuh grup percakapan, jemari menari di atas layar yang dingin, memantik debat tentang “sekerat niat” yang kini sering dipamerkan.
“Apakah pahala menguap bersama unggahan di media sosial?”
Tanya seorang kawan, sebab ikhlas kini sering kali terselip di antara filter dan takarir yang menawan.
Kita lupa, bahwa ikhlas adalah sepi yang riuh di hadapan Tuhan. Seperti kata Al-Qusyairi: “ia adalah pembersihan amal dari komentar insan.”
Di sana, ego seharusnya luruh dalam palung penyerahan yang paling dalam, bukan justru bersolek meminta validasi di tengah malam yang kelam.
Namun ikhlas yang sejati adalah sebentuk “amnesia yang suci,” di mana tangan kanan memberi, namun hati sendiri tak lagi mengenali.
Ia telah menjadi “habitus,” gerakan spontan tanpa kalkulasi atau pretensi, melampaui jeratan “Mauvaise Foi” atau itikad buruk yang menjebak diri.
Seperti filosofi lokal wisdom kita, dalam bentuk sebuah janji : “menjadi buta dan tuli dari riuh pujian dunia yang fana dan silih berganti.”
Sebab saat bibir berucap “aku ikhlas”, di sana ego masih bersembunyi, menunggu upah pengakuan di balik topeng kesalehan yang sunyi.
–000–
Di sela riuh rendah percakapan digital, kita terjebak dalam dialektika mengenai batas tipis antara syiar dan pameran diri.
Fenomena publikasi amal di media sosial membawa kita kembali pada diskursus purba mengenai ikhlas. sebuah konsep yang dalam teologi dipandang sebagai titik nadir sekaligus puncak keberagamaan.
Namun, jika kita membedahnya lebih dalam, ikhlas bukan sekadar istilah religius; ia adalah perjuangan mencapai Autentisitas.
Abul Qasim al-Qusyairi mendefinisikan ikhlas sebagai upaya mensterilkan ketaatan dari tatapan manusia. Pandangan ini menemukan resonansinya dalam pemikiran Immanuel Kant mengenai “Categorical Imperative.”
Bagi Kant, sebuah tindakan moral hanya bernilai jika dilakukan demi kewajiban itu sendiri (duty for duty’s sake), tanpa intervensi motif patologis seperti keinginan untuk dipuji atau pamrih sosial.
Di sini, ikhlas menjadi sebentuk otonomi moral yang ketat, di mana subjek membebaskan diri dari hukum kausalitas apresiasi eksternal. Namun, keikhlasan yang sejati menghadirkan paradoks: ia ada justru saat ia dilupakan.
Dalam kacamata Jean-Paul Sartre, upaya sadar untuk menjadi “orang ikhlas” justru bisa menjebak kita dalam “Mauvaise Foi” (itikad buruk) atau pembohongan diri.
Ketika seseorang memamerkan keikhlasannya—bahkan kepada dirinya sendiri. Ia sedang “menjadi objek” demi pandangan orang lain (The Look).
–000–
Sebaliknya, dalam tradisi tasawuf, indikator kematangan spiritual adalah habitus. Sebuah gerak spontan yang melampaui kalkulasi ego.
Pada tahap ini, individu mengalami apa yang disebut sebagai fanā’, yang secara filosofis beririsan dengan konsep “The Flow” dari Mihaly Csikszentmihalyi atau bahkan gagasan Nietzsche tentang “Childhood” dalam Thus Spoke Zarathustra.
Yakni, sebuah kondisi “melupakan diri” di mana tindakan lahir secara murni, tanpa beban masa lalu maupun ekspektasi masa depan.
Seseorang yang benar-benar ikhlas memberi lalu melupakannya, seolah-olah tindakan itu adalah fungsi organis tubuh yang natural.
Bahkan, pernyataan verbal seperti “Saya ikhlas” secara teoretis masih menyimpan residu harapan akan pengakuan.
–000–
Akhirnya ikhlas yang paripurna adalah sebuah peluruhan ego di mana subjek pelaku “menghilang” ke dalam tindakannya.
Sebagaimana prinsip” Innamal a’mālu bin niyyāt ” arsitektur niat adalah penentu nilai absolut sebuah amal.
Tanpa kemurnian niat, amal semegah apa pun secara visual akan mengalami “kematian makna” di hadapan Yang Transenden.
Kearifan lokal kita menyebut, menjadi “buta dan tuli” dalam menabur kebajikan. Ini adalah bentuk “Indiferensi Stoik” terhadap fluktuasi duniawi. Sebuah keteguhan untuk tetap melangkah di jalan kebaikan tanpa perlu menoleh pada bayang-bayang apresiasi manusia.
Pada akhirnya, berlatih ikhlas adalah upaya untuk kembali ke titik nol—menjadi sunyi di tengah keramaian, dan tetap memberi meski dunia tak pernah tahu siapa yang mengulurkan tangan. (***)
Cinere, 9 Maret 2026
Pukul : 20.15
















