- Catatan Perjalanan Rizal Marsaoly di Jantung Ternate
Oleh : Miftah Farid Alting
Ada sebuah pepatah lama yang mengatakan bahwa “kota bukan sekadar susunan batu dan aspal,” melainkan sebuah organisme yang bernapas.
Untuk memimpin sebuah kota setua dan sekuat Ternate, diperlukan lebih dari sekadar ambisi politik, diperlukan seseorang yang memahami denyut nadinya, yang hafal setiap lekuk gangnya, dan yang mendengar bisikan sejarah di balik dinding-dinding bentengnya.
Di titik itulah, nama Dr. H. Rizal Marsaoly, SE., MM., berhenti menjadi sekadar nama pejabat, dan mulai menjadi sebuah simbol kesiapan.
Perjalanan Rizal adalah sebuah epik tentang kesetiaan. Selama tiga puluh tahun, ia tidak sedang meniti karier, melainkan sedang “nyantri” pada hakikat pelayanan publik.
Di bawah bayang-bayang raksasa kepemimpinan Syamsir Andili yang visioner, Burhan Abdurahman yang membangun, hingga Tauhid Soleman yang teknokratis, Rizal adalah murid sekaligus kawan diskusi yang tekun.
Ia menyerap sari pati kepemimpinan dari tiga era berbeda, menjahit pengalaman itu menjadi sebuah jubah kompetensi yang kini ia kenakan dengan rendah hati.
–000–
Ia adalah seorang desainer pembangunan yang tidak bekerja di menara gading.
Jejaknya tertanam di Bappelitbangda, keringat visinya ada di Dinas Perkim, dan imajinasinya tentang masa depan pariwisata Ternate telah lama melampaui zamannya.
Baginya, pembangunan Ternate adalah sebuah orkestra antara modernitas dan tradisi.
Ia adalah sedikit dari birokrat yang memandang Kesultanan Ternate bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai kompas moral dan identitas.
Dalam langkahnya, Adat Se Atoran bukan sekadar slogan, melainkan napas yang menghidupkan setiap kebijakan.
–000–
Namun, kepemimpinan bagi Rizal bukan hanya soal estetika kota atau angka-angka pertumbuhan ekonomi.
Ia memahami bahwa di balik gemerlap lampu kota, masih ada warga yang menaruh harap pada secercah kesejahteraan.
Jika selama ini tangannya terbatas oleh pagar kewenangan sebagai Sekretaris Daerah, maka masa depan adalah tentang membuka pintu pagar itu lebar-lebar.
Ia percaya bahwa kemakmuran adalah soal waktu dan ketegasan otoritas.
Masyarakat Ternate melihatnya bukan sebagai sosok yang tiba-tiba datang membawa janji, melainkan sebagai anak kandung birokrasi yang tumbuh berakar, membumi, dan akhirnya rimbun memberi peneduh.
Rizal adalah perpaduan antara kecerdasan akademis dan kearifan lokal. Ia tahu persis di mana letak luka kota ini, dan ia memiliki ramuan untuk menyembuhkannya.
–000–
Kini, ketika lonceng perubahan mulai berdentang, Rizal Marsaoly berdiri tegak di kawah candradimuka politik.
Ia tidak hanya membawa ijazah doktor atau pengalaman jabatan, ia membawa seluruh hidupnya yang telah ia wakafkan untuk Ternate.
Ia adalah sosok yang paling siap—bukan karena ia merasa paling hebat, tapi karena ia adalah orang yang paling lama “mendengar” suara rakyat dari lorong-lorong birokrasi.
Ternate sedang menanti seorang dirigen baru untuk memimpin simfoni kemajuannya.
Dan di garis depan, Rizal Marsaoly telah siap dengan tongkat estafet di tangannya, siap melangkah membawa Ternate menuju ufuk yang lebih cerah, dengan martabat yang tetap terjaga.Semoga(***)






