- Membaca Gendang Sahur Melalui Lensa Durkheim dan Herbert Mead
Oleh : M.Guntur Alting
Di Ternate, di Tidore, malam tak pernah benar-benar mati.
Ketika jarum jam merayap ke angka tiga, bukan alarm ponsel yang memecah mimpi.
Melainkan getaran membran kulit dan kaleng bekas yang dipukul serempak oleh tangan-tangan muda.
“Bangun… Sahur…!”
Suara itu membelah kabut yang turun dari puncak dua gunung. Mengalir masuk ke celah jendela, mengetuk pintu hati yang sedang terlelap.
Di sini, sunyi bukan untuk dipelihara.Tapi untuk dirayakan sebagai ruang pertemuan jiwa.
Gendang itu bukan sekadar pengingat lapar dan dahaga. Ia adalah dentum “Solidaritas Mekanik” yang nyata.
Sebuah ritual yang meluruhkan ego “aku” menjadi simfoni besar bernama “kita”.
–000–
Di Maluku Utara, dini hari bukan hanya milik sunyi. Di tengah tidur yang lelap, udara tiba-tiba bergetar oleh pukulan gendang, dentum perkusi dari barang bekas, hingga lantunan syair yang membelah keheningan.
Tradisi Gendang Sahur, atau Bangun Sahur, sejatinya bukan sekadar “alarm kolektif”agar umat tidak terlewat menyantap hidangan sebelum fajar.
Jika dibedah melalui kacamata sosiologi, fenomena ini adalah manifestasi dari denyut nadi komunitas yang terus menjaga kohesi sosialnya.
Secara sosiologis, Gendang Sahur dapat dianalisis melalui konsep “Solidaritas Mekanik” dari Émile Durkheim.
Di kota-kota kepulauan seperti Ternate atau Tidore, tradisi ini melibatkan sekelompok pemuda yang bergerak bersama menyusuri lorong-lorong kampung.
Di sini, terjadi peluruhan ego individu demi kepentingan komunal. Gendang Sahur menjelma menjadi sebuah ritual integratif, yang memastikan tidak ada satu pun individu dalam lingkungan tersebut, yang tertinggal dalam menjalankan kewajiban agama.
Ini adalah bentuk pengawasan sosial yang halus, namun dijalankan dengan penuh kehangatan.
Lebih jauh lagi, Gendang Sahur merupakan bentuk “Reklamasi Ruang Publik”.
Dalam sosiologi perkotaan, malam hari sering kali dianggap sebagai waktu “yang mati” atau bahkan rentan.
Namun, selama Ramadan, para pemuda ini mengambil alih ruang publik dan mengubahnya menjadi panggung ekspresi budaya sekaligus religius.
Ruang yang tadinya sunyi dan dingin bertransformasi menjadi ruang hidup yang sarat akan makna identitas.
Ada semacam kebanggaan lokal yang dipertaruhkan; ketika sekelompok pemuda menabuh gendang. Mereka sedang menegaskan eksistensi komunitasnya di tengah arus modernitas yang kian individualistis.
–000–
Namun, kita juga tidak bisa mengabaikan dimensi “Negosiasi Sosial” di dalamnya.
Di wilayah yang majemuk, Gendang Sahur menuntut “toleransi” yang tinggi.
Di sinilah teori Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead bekerja. Bunyi gendang dipahami bukan sebagai gangguan atau polusi suara, melainkan sebagai “simbol kasih sayang” dan pengingat akan kebersamaan.
Masyarakat yang tidak berpuasa pun sering kali menerima keriuhan ini sebagai bagian dari “kontrak sosial” dalam hidup berdampingan di Bumi al-Mulk.
Menariknya, Gendang Sahur di Maluku Utara sering kali disisipi dengan syair lokal atau pantun-pantun jenaka.
Ini adalah bentuk ketahanan budaya. Di tengah serbuan teknologi digital dan alarm ponsel yang personal, masyarakat Maluku Utara tetap memilih cara-cara yang “berisik” namun manusiawi.
Mereka lebih memilih dibangunkan oleh sesama manusia daripada oleh “algoritma mesin.”
–000–
Pada akhirnya, Gendang Sahur adalah bukti bahwa agama dan tradisi mampu menciptakan irama sosial yang harmonis.
Ia mengingatkan kita bahwa di Maluku Utara, kesalehan tidak pernah dirayakan dalam kesendirian.
Kesalehan adalah sebuah simfoni yang harus dimainkan bersama, dipukul dengan perkusi yang serempak, dan disuarakan dengan lantang, agar tak ada satu pun jiwa yang merasa kesepian, di tengah malam yang dingin.
(***)
Cinere, 8 Maret 2026
Pukul : 22.00
















